Pregnancy

Hamil di Usia Muda, kok Bayi Tabung?

Melalui artikel ini, saya ingin sekali berbagi cerita dengan teman-teman yang sedang berjuang untuk mendapatkan buah hati. Saya senang sekali bisa berbagi cerita ini dengan banyak orang serta dapat menginspirasi banyak orang untuk mengikuti program bayi tabung ( In-Vitro Fertilization).

In-Vitro Fertilization, atau biasa disingkat IVF, adalah penggunaan laboratorium untuk menyatukan sperma dan sel telur dalam tabung yang kemudian diletakkan kembali ke dalam rahim untuk berkembang.


Saya menikah di usia 23 tahun, 6 bulan pasca menikah saya dan suami mengikuti program hamil alami, segala upaya dari A-Z sudah kami lakukan namun hasilnya nihil dan membuat saya stress.

Hingga, saya memutuskan untuk mencari obgyn lain. Setelah di analisa, ada 3 hal besar yang membuat saya tidak bisa hamil alami yaitu :

  • Tidak subur, sedari saya haid pertama kali hingga menikah, haid saya tidak teratur sehingga menyebabkan saya tidak bisa menghitung masa subur yang tepat. Selain itu, saya juga tidak langsung check ke dokter.
  • PCOS, ( Polycystic Ovarium Syndrome) atau sindrom ovarium polikistik, merupakan kondisi terganggunya fungsi ovariun pada wanita yang berada di usia subur. Menyebabkan hormon saya tidak seimbang. Saya nengalami PCO ringan, di mana sel-sel telurnya banyak namun, ukurannya kecil sehingga sulit untuk terjadi prmbuahan di dalamnya.
  • Tuba fallopi non paten, adanya sumbatan pada saluran tuba sehingga menghalangi bertemunya sel telur dan sel sperma yang dapat menyebabkan kondisi sulit hamil.

Kenapa bisa mengalami tuba fallopi non paten?

Setelah melalui beberapa konsultasi dan pemeriksaan, saya baru mengetahui bahwa adanya pelengketan pada usus besar saya yang diakibatkan oleh pecahnya usus buntu. Pelengkatan pada usus tersebut membuat salah satu tuba fallopi saya terinfeksi dan mampet. Apabila tidak diangkat, bagian tuba fallopi akan mengeluarkan nanah dan jika saya hamil di kemudian hari, dan embrio sudah tertanam di rahim, nanah yang terdapat pada tuba fallopi dapat turun ke embrio dan lama kelamaan embrio saya akan mati. Ibarat kata nanah nya itu seperti racun. Istilah dalam kedokterannya disebut hydrosqlpinx dan dokterpun menyarankan untuk mengangkat satu tuba fallopi yang terinfeksi melalui operasi laparoscopy.

Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung di rumah sakit Morula Menteng dengan dokter Nando. Kami melakukan serangkaian tes darah di laboratorium untuk mengetahui apakah ada penyakit menular dan apakah hormon yang ada di dalam tubuh siap atau tidak untuk di stimulasi suntikan dalam proses IVF ini.

Hasilnya pun baik dan kami diizinkan untuk mengikuti program IVF ini. Terdapat serangkaian pantangan makanan dan minuman yang harus dilakukan dalam menjalani IVF seperti tidak makan kacang-kacangan, coklat, teh dan kopi. Untuk meningkatkan protein, saya mengonsumsi 8 butir putih telur setiap harinya. Selama menjalankan IVF ini, kita tidak boleh stress dan harus rajin berolahraga kurang lebih 30 menit setiap harinya.

Selama menjalankan program IVF ini, ada dua jenis suntikan yang saya gunakan yaitu suntik gonal dengan dosis 150iui dan suntik cetrotide. Proses suntik ini dijalani sejak hari ke-2 haid hingga hari ke-10. Selama menjalani proses suntik ini, kami selalu berkonsultasi dengan dokter untuk mengontrol kondisi sel telurnya. Setelah mendapat “lampu hijau” dari dokter, langkah selanjutnya adalah melakukan Ovum Pick Up ( OPU ). Salah satu syarat melakukan OPU yaitu setidaknya terdapat 5-6 sel telur yang berukuran di atas 17mm sehingga dapat dibuahi oleh sperma dan kondisi diniding rahim juga mencapai ketebalan tertentu. Saat melakukan OPU, sperma suami juga diambil, kemudian akan dipertemukan keduanya oleh tim embrioligi di laboratorium.

Tahap selanjutnya adalah Embrio Transfer ( ET ). Beberapa hari pasca melakukan OPU, kami diinfokan oleh dokter bahwa 3 embrio saya dapat survive dengan grade good dan kamipun memutuskan untuk memasukkan ke 3 embrio dengan grade good tersebut. Sebelum melakukan ET, saya minum 2 liter air mineral guna untuk mempermudah proses ET. Proses ET inipun berlangsung singkat kurang lebih 5 menit, setelah melakukan proses ET kamipun pulang ke rumah dan mendapat waktu tunggu selama 2 minggu untuk menentukan keberhasilannya.

Selama waktu tunggu tersebut saya terus menjalani pola hidup sehat dengan rutin minum air putih, mengonsumsi putih telur, tidur cukup. Di hari ke-14 waktu tunggu kami kembali ke dokter untuk melakukan tes darah, tidak sabar menunggu kabar baik dari program IVF yang sudah kami jalani. Dan ternyata dari 3 embrio dengan grade good tersebut hanya terdapat 1 embrio dengan grade good yang berhasil dan saya dinyatakan POSITIF HAMIL. Penantian dan usaha kami untuk mendapatkan buah hati akhirnya terkabul. Memang betul tidak ada usaha yang mengkhianati hasil.

Singkat cerita, kehamilan pertama saya ini tidak berjalan dengan mulus karena saya sempat mengalami OHSS. Namun, tetap dapat saya lewati, hingga anak pertama kami Louisse Scarlett lahir pada tanggal 17 Juni 2017.

Semoga cerita ini menginspirasi teman-teman yang juga masih dalam melakukan program hamil ya. Jangan patah semangat dan selalu positif. Untuk cerita detailnya dapat ditonton di video berikut ya :

Terima kasih sudah membaca dan menonton ya 🙂