Relationship

A Journey with Him

Dihari kasih sayang ini, saya mau share perjalanan cinta saya dan suami dari awal bertemu hingga punya 2 anak seperti sekarang. Semoga cerita ini dapat menginspirasi teman-teman semakin saling mencintai satu sama lain.

Saya mengenal suami saya ditahun 2012 sebagai kompetitor bisnis. Awalnya saya tidak memiliki rasa sama sekali dan tanpa sepengetahuan saya salah satu teman distributor saya memberikan contact saya kepada dia. Beberapa waktu kemudian dia pun mulai mengirimi saya pesan melalui BBM namun, karena saya sedang berada di Sydney bersama sahabat saya Servianti.

Alasan saya tidak mau mengenal dan menanggapi dia adalah karena dia orang China asli dan dipikiran saya mungkin dia adalah om-om China ditambah lagi dengan “image” orang China berbau suka main belakang alias selingkuh. Selain itu, dia adalah kompetitor bisnis saya. Pasti dibenak kita, “ini orang mau ngapain sih?” bawaannnya curiga.

Satu bulan kemudian dia kembali mengirimi saya pesan,melalui BBM dengan mengirimkan foto produk yang saya jual dan mengajak saya ketemuan bersama dengan distributor say, Mulianto. Sayapun memutusksn untuk datang sekitaran jam 7 malam ke Mr.Pancake yang ada di daerah PIK, sekarang tempatnya sudah tutup. Lalu, Mulianto mengenalkan saya dengan Awei orang China itu.

Singkat cerita berawal dari pertemuan dan perkenalan itu, saya mulai tertarik dengan Awei. Kenapa? Ternyata dia bukan om-om seperti yang ada dalam pikiran saya, dia masih muda. Namun tidak hanya itu, menurut saya dia adalah lelaki yang polos dan berpenampilan apa adanya. Dandanan dia ketika awal kami bertemu dapat di bilang sangat berantakan dengan setelan kaos, celana pendek, rambut awut-awutan, ditambah sambil main game pula. Hal yang membuat saya terenyuh lagi saat kita ngobrol, Bahasa Indonesia yang dia gunakan bagus banget dan saat ngobrol rasanya asik dan nyambung banget. Dari pertemuan itu, kami mulai chat setiap hari dan setiap pulang kerja pasti selalu menyempatkan waktu untuk ketemu, makan bareng dan menghabiskan waktu bersama.

Hubungan ini berlangsung dari 2012 – 2015 tanpa ada rasa bosan dan selalu ada saja topik yang bisa kami bicarakan. 3 tahun kami pacaran tapi kita belum memutuskan untuk menikah, padahal saya merasa udah cukup lama menjalin hubungan dan merasa cocok banget. Bahkan sahabat saya sih Servianti, sering tanya, ” Lina, u tiap hari pulang kantor langsung pergi lagi ketemu doi, gak capek pulang jam 11 malam terus?” Jawaban saya cuma 1 kalimat ” The Power of Love ” Cie elahhh..

Lantas, kenapa kami belum memutuskan untuk menikah walau merasa sudah saling cocok dan sudah 3 tahun mengenal?

Hal ini dikarenakan keluarga suami saya adalah asli dari China selain itu mereka memiliki prinsip dan pemikiran kalau mencari istri itu haruslah sesama orang China asli bukan campuran seperti saya. Saya beretnis Tionghoa dan bukan asli made in China. Secara otomatis, saya sudah di tolak oleh mama mertua saya. Tidak ada kesempatsan untuk memberikan pembuktian dll. Bagi mama mertua saya, perempuan Tionghua itu matre, tidak bisa kerja dan cuma bisa morotin uang suami. Apalagi kalau menikah dengan perempuan Tionghoa, hidup akan susah dan kalau sudah menguras harta sampe habis bakal ditinggal gitu aja.

Rasanya mau nangis, kesal, sedih, hati saya sakit, retak, hancur campur aduk perasaan saya kala itu. Namun, saya tidak pantang menyerah untuk memperjuangkan hubungan kami. Saya pernah memberaniksan diri untuk bertemu dengan mama mertua saya untuk menjelaskan bahwa saya bukan perempuan yang seperti dipikirannya. Saya tulus mencintai Suami saya bukan karena hal lain. Upaya saya pun tidak berbuah manis, saya di usir dan jawaban dari mertua saya adalah sampai matipun dia tidak akan mau menerima saya sebagai menantunya. Saya dan suamipun menangis berdua.

Suami sayapun kala itu, setiap hari berusaha untuk meyakinkan mamanya namun tak kunjung berhasl. Hampir setiap hari saat suami saya ribut dengan mamanya hanya untuk bisa pergi bertemu saya dan menjedotkan kepalanya ke meja kaca hingga berdarah-darah belum lagi di tambah dengan caci maki dari mamanya. Kala itu suami saya bekerja membantu mamanya dan pada awal 2015, keungan dan fasilitas suami saya di stop oleh mamanya sehingga suami saya tidak punya apa-apa lagi.

Walaupun kala itu suami saya tidak ada uang, tidak ada mobil, saya tetap mendampingi dan menerima dia. Kita tetap menghabiskan waktu bersama, jlan-jalan, semuanya saya yang bayarin. Menurut saya, inilah saatnya saya untuk membuktikan kepada mertua saya bahwa saya itu tidak seperti yang ada dipikirannya. Hingga pada suatu hari, suami saya memutudkan untuk ke.luar dari rumah dan mau membuktikn bahwa dia juga bisa menghasilkan uang sendiri.

Seiring berjalannya waktu, Awei pindah ke rumah saya dan tetntuya tidur dikamar yang berbeda. Sayapun berusaha membantu dia dengan memberikan modal untuk usaha melanjutkan pekerjaannya hingga dia bisa mendapatkan penghasilan. Hidup kami pun benar-benar baik. Kamipun mulai merencanakan pernikahan tanpa adanya resepsi. Foto prewedding pun sudah kami lakukan dan memilih tanggal 27 Maret 2016 sebagai tanggal pernikahan kami.

Singkat cerita saat mengetahui tanggal pernikahan kami, mama metua saya marah karena tidak adanya konfirmasi ataupun pemberitahuan kalau kami akan menikah. Mungkin hati mama mertua saya mulai luluh melihat suaminya saya bisa bertahan sejauh ini dan bilang minimal pestain keci-kecilan saja tapi tetap kami menggunakan uang sendiri. Setelah kami timbang, kamipun setuju untuk dipestain dan kami memilih restoran Pullman untuk menghemat dan sisa uang nya untuk honeymoon ke Eropa. Disaat pernikahan kami, mama mertua saya turut hadir walaupun dengan raut muka yang kurang enak.

Setelah menikah, suami saya masih tinggal dirumah saya karena mertua saya masih belum dapat sepenuhnya menerima saya. Namun, seiring berjalannya waktu saya hamil Louisse, mama mertua saya mulai menerima saya dan sampai hari ini, mama mertua saya sagat baik kepada saya dan hubungan kamipun sudah sangat baik.

Seperti kata pepatah, berakit-rakit dahulu, berenang-renang kemudian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Untuk lebih detailnya, bisa nonton video berikut ya.

Video Perjalanan Cinta Mommy & Daddy