Seputar Program Bayi Tabung

Program Bayi Tabung : Kenali Resiko dan Efek Samping

Mungkin ada beberapa pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah dan belum memiliki anak, yang mungkin sedang berfikir untuk melakukan program bayi tabung namun takut akan resiko dan efek samping yang akan ditimbulkan dari program bayi tabung.

Mommy sendiri sudah melakukan program ini dua kali dan mommy sudah dikaruniai 2 anak yang lucu dan sehat. Memang penelitian membuktikan bahwa program bayi tabung memiliki 40% keberhasilan untuk memiliki anak, bahkan lebih mendukung jika dilakukan pada usia dini atau mendapatkan Grade Embrio bisa kemungkinan memiliki anak 60%.

Untuk kalian yang ingin mengikuti bayi tabung kenali dulu berikut resiko dan efek samping yang akan program ini, faktanya tidak ada yang aman jika tubuh kita yang alami berhubungan dengan zat kimia. Namun pertanyaannya apa efek samping dan resikonya?

Berikut efek samping dan resiko yang ditimbulkan dari program bayi tabung:

  1.  Sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS)

Sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) adalah efek samping yang umum dari terapi kesuburan, terutama obat-obatan yang digunakan selama program fertilisasi in-vitro (IVF). OHSS adalah kumpulan gejala yang terjadi ketika ovarium (indung telur) bereaksi berlebihan terhadap obat dan menghasilkan terlalu banyak kantung telur (folikel).

Mommy sendiri pernah mengalami OHSS ini waktu mommy sedang program yang ke 2 yang mommy sudah pernah share di IG @louissescarlett. OHSS ini biasanya diderita oleh para wanita yang mengalami PCOS, dan ini adalah penyakit ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon, hal ini dapat menyebabkan periode mensturasi yang tidak teratur disertai pembentukan kista multiple pada ovarium.

Wanita yang kurus atau obesitas memiliki kemungkinan untuk mengalami OHSS, namun tenang aja moms karena OHSS ini hanya akan dialami 2% saja dari 100.000 wanita yang melakukan program bayi tabung, jadi kemungkinan sangat kecil dan langka. OHSS yang mommy alami saat program bayi pertama tergolong sebagai OHSS ringan dengan gejala:

  • Perut terasa bengkak atau kembung
  • Susah makan dan minum
  • Nyeri ringan sampai sedang di perut bagian bawah
  • Pencernaan terhambat
  • Rasa mual

Pada program yang kedua mommy mengalami OHSS tingkat berat, dua hari setelah pemasukan embrio, berat badan mommy langsung bertambah 5 kg yang awalnya mommy kira sudah berhasil, kemudian mual dan gejala-gejala nyeri hebat di perut bagian bawah, perut membengkak secara signifikan, muntah terus menerus, sulit bernafas, memiliki urin berwarna gelap dan sangat jarang berkemih.

Perut mommy membesar setiap harinya sampai di lingkar perut 110cm. Ternyata isi dalam perut mommy itu cairan hasil OHSS yang sel telurnya meledak dalam tubuh kita yang menggenang di dalam perut yang akhirnya sampai ke paru-paru mommy. Jadi terdapat cairan yang merendam semua organ-organ dalam tubuh kita yang otomatis menyebabkan sesak napas, susah makan, susah pencernaan, dan nyeri yang sangat pada pinggang. Sampai akhirnya mommy harus bolak-balik RS untuk membuang cairan tersebut yang totalnya mencapai 25 liter.

Gejala ringan OHSS umumnya akan hilang dengan sendirinya setelah 1 minggu, jadi pada saat mulai kembung mommy langsung konsultasi ke dokter dan banyak mengonsumsi putih telur ayam kampung setiap harinya 10 butir yang lama-kelamaan membuat OHSSnya menghilang.

  1. Kehamilan Kembar

Kehamilan kembar akan sangat bagus jika kita belum memiliki momongan dan mendapatkan anak sekaligus dua, tidak harus kembar identik namun bisa kembar berbeda telur. Bayi tabung memang cukup banyak menghasilkan anak kembar, namun kehamilan kembar bukanlah “gol” utama yang diinginkan dari program ini. Pasalnya, kehamilan kembar sangat berisiko tinggi yang memicu masalah kesehatan pada ibu seperti :

  • Prematur
  • Preeklampsia
  • Diabetes gestasional
  • Anemia dan pendarahan hebat
  • Risiko operasi caesar lebih tinggi
  1. Meningkatkan Risiko Kanker

Tenang dulu ya moms jangan langsung shock, jadi menurut data penelitian yang melibatkan 255.786 wanita yang melakukan proses bayi tabung di Inggris pada 1990 hingga 2010 dan dilihat perkembangannya selama 8 tahun, menemukan sebanyak 386 kasus kanker ovarium, dan para ahli mengungkapkan bahwa proses bayi tabung dapat meningkatkan hormon yang merangsang indung telur atau ovarium, hormon yang muncul yaitu esterogen dan progesteron. Perubahan kadar hormon seksual di dalam tubuh dapat menyebabkan kanker payudara, kanker ovarium dan kanker rahim.

Biasanya wanita yang bisa terkena kanker ini adalah wanita yang sudah melakukan program, lalu gagal maka resiko kanker akan lebih besar. Selanjutnya adalah wanita yang melakukan program bayi tabung berkali-kali.

Pemilihan dokter itu sangat penting untuk menentukan dosis obat untuk melakukan program bayi tabung yang disuntikan ke dalam tubuh kita dan kembali pada diri kita yang tetap menjaga kesehatan makanan, perbanyak konsumsi makanan yang sehat, organik dan mengandung antioksidan seperti putih telur dan tentunya rajin berolahraga.

Setelah mengetahui resiko-resiko ini, semoga menjadi pertimbangan untuk melakukan program bayi tabung, kalian juga bisa melakukan konsultasi kepada dokter-dokter yang tentunya sudah ahli dalam hal ini sebelum melakukan tindakan. Semoga bermanfaat terutama bagi mami-mami yang ingin sekali memiliki momongan.