Pregnancy

Promil dan Proses Melahirkan : Apa yang Harus Diutamakan? Dokter Bagus atau Rumah Sakit Bagus?

Hai moms, kali ini lagi-lagi mommy mau share pengalaman mommy saat hamil dan melahirkan baby Louisse dan baby Loewy. Mommy sama daddy memang saat setelah married, pengen banget cepet-cepet punya anak. Otomatis kita ke rumah sakit ibu dan anak di PIK yang sangat famous di sana. Semua orang pasti sudah tahu sama rumah sakit ini, dan memang sudah terkenal moms. Pas mommy baru datang ke rumah sakit tersebut, namanya kan juga orang belum pernah program hamil, jadi kita enggak tahu soal dokter. Mommy nanya rekomen dokter terbaik itu siapa? Kata rumah sakitnya, semua dokter yang sudah ada di sini sudah difilter dan sudah disediakan dokter-dokter yang berkualitas baik yang memenuhi standar internasional, jadi semua dokter sama aja, enggak ada yang beda.

Otomatis mommy percaya dong, masa sih rumah sakit ini menyediakan dokter abal-abal kan? Ya sudah, daripada mommy ngantri lama-lama, nunggu berjam-jam, mommy pilih saja dokter yang sedang praktek saat itu siapa aja boleh dan mommy pilih dokter A. Mommy konsultasi dengan dokter A, mommy program dengan dia. 1 bulan kemudian mommy datang lagi ke dokter A untuk menanyakan sudah hamil belum. Untuk mengetahui hamil atau belum maka mommy di USG. Jadi dia USG mommy, pas USG dokter A bilang kalau sudah ada kantung janinnya, mommy sudah hamil, cuma janinnya belum ada detak jantung, dan diminta balik lagi 2 minggu kemudian.

Jadi mommy dan daddy pulang dengan happy dong. Kita langsung kabarin ke semua teman dan keluarga kalau mommy sudah positif hamil. Bahkan mommy sudah konsumsi obat-obatan untuk ibu hamil seperti asam folat, makan makanan yang bergizi untuk ibu hamil. Jadi memang pada saat itu mommy sudah mengira bahwa mommy itu ya sudah hamil, mommy adalah ibu hamil. Lalu 2 minggu kemudian mommy turun tangga, dan adik mommy memberitahu bahwa mommy berdarah. Mommy bingung kenapa bisa berdarah, bukannya orang sedang hamil itu tidak bisa menstruasi pikir mommy.

Akhirnya mommy buru-buru ke rumah sakit sama daddy. Pada saat itu dokter A sedang tidak praktek moms, otomatis mommy pilih saja dokter B. Dokter B bantu mommy untuk konsultasi, dan dokter B menanyakan apakah mommy yakin bahwa mommy sudah hamil dan apakah dokter A sudah yakin mengatakan bahwa mommy hamil. Lalu mommy jawab iya, dokter A sudah bilang mommy positif hamil dan mommy sudah diberikan obat-obatan, bahkan mommy sudah minum susu hamil. Tapi dokter B mengatakan bahwa sepertinya mommy enggak hamil, karena sepertinya darah yang keluar itu adalah darah menstruasi. Akhirnya untuk memastikan mommy dicek dahulu apakah darah yang keluar benar darah menstruasi atau karena keguguran.

Setelah melakukan cek, mommy dinyatakan bahwa tidak sedang hamil dan mommy ini sedang menstruasi. Akhirnya mommy pulang ke rumah dan merasakan kecewa. Enggak sampai di sana, setelah mommy hopeless dengan dokter A akhirnya mommy datang lagi untuk coba program lagi dengan dokter C. Dokter C ini mommy sempat program sama dia selama 3 bulan berturut-turut dari suntik pemecah telur, makan obat-obatan agar telurnya besar dan alhasil memang enggak hamil. Oke mommy terima, karena memang itu dari Tuhan belum memberikan kepercayaan kepada mommy dan daddy soal momongan.

Cuma mommy cari tahu, apakah mommy itu saluran sel telurnya mampet? Setelah mommy melalui proses pemeriksaan, ternyata benar saluran telur mommy mampet. Terus dari dokter C ini mengatakan bahwa mommy harus operasi pengangkatan saluran sel telur itu. Karena cairan lengket itu berbahaya dan kalau jatuh di rahim bisa membuat embrio mati.

Oke mommy setuju untuk melakukan operasi. Cuma yang buat mommy kecewa, dokter C ini mengalihkan mommy untuk operasi di rumah sakit lain bukan di rumah sakit ibu dan anak ini moms. Ya sudah namanya dokter ya mommy percaya saja, mommy ikuti. Setelah mommy sudah operasi, mommy sempat istirahat. Lalu 1 bulan kemudian mommy datang lagi ke rumah sakit. Dan kali ini mommy dan daddy memutuskan untuk mencoba dokter yang famous di rumah sakit tersebut. Mommy ke dokter D, mommy konsultasi untuk program hamil mommy dan daddy dan akhirnya mommy disuruh program bayi tabung.

Dirujuklah mommy ke Morula dengan dokter Nando. Cuma dokter D ini sempat kaget karena dokter C merujuk untuk operasi pengangkatan sel telur di rumah sakit lain bukan di rumah sakit ibu dan anak tersebut. Singkat cerita mommy akhirnya memang melakukan program bayi tabung, mommy sudah hamil dan program di Morula Menteng. Cuma mommy kan punya opsi kalau lahiran mendingan di rumah sakit ibu dan anak saja. Lalu mommy pilih dokter famous di rumah sakit ibu dan anak ini yaitu dokter E.

Dokter E mengoperasi mommy, operasi sesar lancar enggak ada masalah. Terus mommy hamil lagi untuk kedua kalinya. Di kehamilan kedua ini sebenarnya mommy mau operasi lagi tapi dengan dokter D, cuma kebetulan waktu itu dokter D sedang cuti, akhirnya mommy pilih dokter E lagi. Mommy ke dokter E operasi sesar, rencananya tanggal operasi itu pada 14 Februari 2019, tapi moms ternyata di tanggal 7 Februari 2019 jam 3 subuh mommy sudah kesakitan. Mommy kira cuma sakit perut biasa, tapi sakit perut itu kayak 5 menit ada 5 menit enggak ada, hilang dan timbul terus menerus. Dan sakitnya sudah sampai jam 6 pagi, 3 jam mommy nahan sakit kontraksi.

Akhirnya mommy datang ke rumah sakit buru-buru, jam 6.30 mommy sudah sampai. Mommy berada di 1 ruangan sambil nunggu dokter. Jam 10 pagi akhirnya dokter E datang. Pas datang dia lihat mommy dan mengatakan bahwa ini kontraksi ringan dan bilang bahwa mommy masih bisa tahan. Cuma mommy itu sudah enggak tahan, mommy sudah teriak-teriak kesakitan, dan mommy kesakitannya sudah dari jam 3 subuh sampai jam 10 pagi. Tapi dokter bilang bahwa ruang operasi harus disiapkan jadi enggak bisa langsung. Mommy bilang enggak masalah, 1 atau 2 jam mommy bisa nunggu. Dokternya bilang sama suster untuk menjadwalkan jam 5 sore operasi sesar.

Mommy sempat protes karena mommy belum makan dan terakhir makan minum ya jam 10 malam kemarin, lalu ini dijadwalkan operasinya jam 5 sore. Entah dokternya enggak dengar protes mommy atau bagaimana, tapi urusan makanan dan minuman tersebut dokternya diam saja. Mommy bilang sama suster bahwa belum makan dan minum, dan suster bilang enggak bisa makan dan harus tahan soalnya kalau mau operasi itu enggak boleh makan dan minum. Namanya juga kita adalah pasien, kalau dokter sama suster sudah bilang begitu ya mau enggak mau kita harus mendengarkan. Mommy tunggu sampai jam 5, enggak makan dan minum lalu akhirnya dioperasi.

Singkat cerita, besoknya mommy merasa perut mommy sakit. Mommy bilang sama dokter bahwa perut mommy sakit tapi bukan di bagian jahitan tapi di atas jahitan. Itu sakit banget, mommy enggak bisa makan dan minum karena kalau makan dan minum perutnya sakit banget, keringat dingin terus, enggak bisa BAK dan BAB. Lalu mommy diberikan obat kayak dari ikan, gunanya untuk mempercepat penyembuhan setelah operasi sesar. Cuma setelah makan obat itu tetap enggak sembuh.

Oke lah mommy dengarkan kata dokter saja bahwa ini nanti sakitnya akan hilang, 3 hari lagi akan hilang. Kemudian mommy pulang ke rumah. Jadi 4 hari full mommy di rumah, tidur saja, enggak bisa gerak, enggak bisa makan dan minum, enggak bisa BAK dan BAB, nelan makanan sakit, terus eneg, keringat dingin tapi harus memberikan ASI ke baby Loewy.

Itu benar-benar perjuangan banget mommy nahan sampai begitu. Akhirnya hari ke-7 mommy nahan sakit, mommy sudah enggak kuat. Mommy memutuskan datang ke dokter Nando di Morula Menteng, mau nanya sebenarnya mommy itu kenapa. Terus pas mommy datang dan konsultasi sama dokter Nando, ternyata mommy itu sakit lambung, pantesan mommy enggak bisa makan dan minum. Dan dokter E itu enggak menjelaskan kalau mommy itu sakit lambung, bahkan diapun enggak tahu. Dokter Nando aja tahu kalau mommy ini sakit lambung karena puasa kelamaan, harusnya enggak boleh, harusnya dikasih makan atau minum dulu minimal.

Setelah mommy baca berbagai review orang yang melakukan operasi, bahkan 2 jam sebelum operasi ada yang masih diperbolehkan makan. Nah ini mommy harus puasa 24 jam. Sudah gitu namanya mau operasi kan pasti dikasih obat-obatan, perut belum ada isinya sama sekali, jadi ya lambungnya kaget dan akhirnya mommy sakit lambung. Mommy dikasih obat lambung, besoknya sudah sembuh, sudah bisa makan dan minum.

Yang mommy kesal kok dokter E bisa sampai enggak tahu kalau mommy sakit lambung. Okelah pasien dia ramai, mungkin jadi keteteran, tapi kan enggak seharusnya begitu ya moms, sebagai dokter ya dia harus take care sama pasiennya. Dokter D aja pas mommy sedang konsultasi sama dia, tiba-tiba pasien dia di atas teriak-teriak kontraksi dia langsung buru-buru stop pemeriksaan, dia langsung naik dan operasi. Dia mementingkan kepentingan pasien yang memang urgent. Tapi dokter E ini menyuruh mommy untuk operasi jam 5 sore karena dia mau praktek dulu dari jam 11-3 sore moms. Padahal pasien sudah kontraksi tapi dia masih mementingkan konsultasi dulu dengan pasien yang lain yang enggak lebih urgent dari mommy.

That’s why mommy lebih milih dokter, dokter itu lebih penting. Mau sebagus apapun rumah sakit, itu enggak menjamin apa-apa. Dokter yang take care yang bisa memberikan perhatian pada pasien, yang bisa tahu soal keadaan pasien itu yang paling penting moms. Semoga ini bisa membantu ya moms, jangan sampai salah pilih dokter.