Uncategorized

Selamat Jalan, Papa | Kanker Paru Membunuh

23 Juli 2019 papa tiba-tiba minta untuk dibawa ke dokter, tapi kalau dari papa sendiri papa sebenarnya paling enggak suka sama yang namanya rumah sakit atau dokter. Dan kita sebagai anak-anaknya cukup kaget, tapi akhirnya kita bawa papa ke rumah sakit PIK, ketika kita sampai RS PIK dan ketemu dengan dokter spesialis paru dokter mengatakan kemungkinan besar papa kalau enggak TBC ya tumor. Lalu diadakan rontgen untuk USG paru-parunya. Setelah sudah rontgen paru-parunya dilihat ternyata hasilnya di dalam paru-paru papa ada cairan sedikit. Nah disarankan dari dokter untuk mengambil cairannya untuk dites.

Karena papa merasa kurang nyaman dengan dokter di PIK, karena belum apa-apa sudah dibilang bahwa papa tumor atau TBC papa minta untuk ke rumah sakit lain, karena memang kalau pemikiran orangtua ke dokter jangan cuma 1. Akhirnya kita memutuskan untuk ke rumah sakit Pluit dengan dokter spesialis paru-paru yang cukup terkenal juga. Setelah kita kasih rontgen paru-paru papa akhirnya dokter meminta untuk tes apa cairan yang ada di dalam paru-paru tersebut. Diambillah cairan dari paru-paru papa, cairan dari paru-paru papa itu berwarna kuning kental, kemudian untuk mengetahui apa isi cairan itu butuh 5-7 hari kerja.

After 7 hari kerja kita pun tahu ternyata hasilnya adalah cairan ini tidak mengandung TBC, jadi papa benar-benar bebas dari TBC dan tidak mengandung tumor, otomatis kita sebagai anak-anaknya lega dong, untuk penyakit kronis enggak menimpa ke papa dan dokter Pluit itu ngasih ke papa obat dan minta papa untuk pulang. Nanti setelah makan obat cairannya akan hilang dengan sendirinya kata dokter.

1 minggu berlalu, papa memang makan obat dari dokter Pluit yang menyebabkan air kencing dia berwarna merah dan dia mual parah enggak bisa makan, tidur dan minum setiap makan muntah. Papa merasakan bagian lambungnya sakit, papa sudah enggak percaya untuk ke rumah sakit katanya kok enggak sembuh-sembuh. Akhirnya papa pergi ke puskesmas khusus untuk lambung di daerah Bandengan. Pas dicek dikasih obat lambung, setelah 1 minggu berlalu masih aja papa merasa kesakitan. Kemudian dari dokter di Bandengan minta papa untuk rontgen paru-paru papa di Biomedika. Kebetulan Biomedika yang deket dengan rumah kita itu di Citra Garden 2.

Kita rontgen paru-paru papa, dari Biomedika kita ingat banget jam 8 malam ditelpon untuk langsung ambil hasil rontgen papa, takutnya papa makin enggak bisa ketolong. Langsung buru-buru kita ambil rontgen di Biomedika dan bawa papa ke emergency rumah sakit Pluit jam 10 malam. Pada saat kita masuk ke ruang emergency dokter jaga mengatakan kemungkinan besar TBC, kalau papa masih sehat enggak perlu dirawat inap besok aja datang lagi konsultasi dengan dokter spesialis paru-paru, kalau setelah konsul disuruh untuk masuk rawat inap baru dirawat inap.

Pada saat itu mommy langsung konsul dengan saudara mommy yang lebih pengalaman soal ini. Dan mommy diminta untuk membawa papa ke Malaysia. Jujur pada saat itu mommy sudah tanya ke papa untuk ke Malaysia, tapi papa bilang papa enggak kuat intinya papa maunya di Indonesia aja. Akhirnya mommy memutuskan untuk membawa papa ke rumah sakit Siloam Semanggi dan mommy ketemu dengan dokter spesialis paru-paru. Pada saat mommy ketemu dengan dokter spesialis paru-paru mommy kasih hasil rontgen paru-paru papa dan dokter mengatakan tapi itu tanpa sepengetahuan papa dan mama bahwa kemungkinan besar papa mengarah ke penyakit kanker paru-paru stadium 4.

Jujur ya mommy bukan enggak terima, karena mommy tahu memang papa itu gaya hidupnya enggak sehat dan dia perokok berat semenjak dia masih muda sampai tua. Terus yang mommy pikirkan kalau papa kanker paru-paru yaudah bagaimana untuk pengobatan untuk papa agar umur papa lebih panjang. Pada saat itu papa disarankan untuk langsung rawat inap di RS. Silom Semanggi tanggal 22 agustus 2019 mommy langsung oke.

Pada saat itu mommy masih nanya ke papa masih bisa ke Malaysia enggak, kalau bisa kita ke Malaysia aja. Cuma kondisi papa itu jalan aja sudah sakit sambil megang dada. Kemudian papa akhirnya masuk ke RS. Siloam Semanggi, jadi mommy selalu videoin papa untuk melihat progress papa apakah membaik atau memburuk. Jadi papa masuk naik kursi roda karena memang setiap jalan sudah sesak napas. Tapi papa enggak pernah ngomong, papa cuma bilang enggak papa cuma sakit sedikit.

Pada hari itu papa diinfus makanan minuman karena papa enggak bisa makan dan minum sudah berminggu-minggu, mual terus. Jadi papa pada hari tanggal 22 agustus 2019 enggak ada tindakan, cuma tidur dan dikasih obat.

Tanggal 23 agustus 2019 hari jumat sekitar jam 4 sore dilakukan tindakan yaitu mengeluarkan cairan dari paru-paru papa. Jadi di bagian punggung belakang papa dibolongin dengan jarum yang sangat panjang untuk jarum itu masuk ke paru-paru dan tebal dan cairannya keluar banyak banget. Itu mommy bisa merasakan sakitnya luar biasa apalagi papa. Pada saat ditusuk memang keluar cairannya itu dari selang, warna merah. Mommy ssudah sempat mikir kok warna merah ya padahal kan mommy sudah pernah OHSS dan mengeluarkan cairan dari dalam tubuh itu warnanya kuning kental, kalau cairan tubuh harusnya warna kuning. Nah mommy sempat bingung ini darah atau apa.

Jadi di hari jumat itu papa pada saat tindakan mengeluarkan 1 liter cairan dari paru-paru dia, abis itu distop ditutup per 3 jam dikeluarkan lagi 200ml. Mommy sempat nanya dengan dokter di luar, dokter bilang kemungkinan ini mengarah ke kronis. Sepertinya cairan itu yang dihasilkan kanker dan kanker ini sepertinya cukup ganas tapi ini hanya kemungkinan 90%, semoga 10% saya salah.

Jadi di hari jumat itu mommy nemenin papa sampai keluarin kurang lebih 1.2 liter mommy pulang. Mommy pikir dengan mengeluarkan cairan papa sudah agak lega ya. Besoknya di hari sabtu mommy datang, cairan itu terus keluar di hari sabtu. Tapi kata papa sudah agak enakan bahkan mommy sampai bawa keluarga mommy kayak mertua mommy, pokoknya semua yang merokok karena papa pengen bilang sama mereka jangan merokok lagi, karena ini sakit daripada nanti kamu menyesal di kemudian hari, itu pesan papa ke mertua, adik ipar, saudara pokoknya perokok berat.

Nah jadi di hari sabtu itu papa sudah agak enakan, sudah keluarin banyak cairan dan cairan terus dikeluarkan per 3 jam sekali 200ml. Hari minggu mommy datang lagi, cairan masih keluar. Tapi untuk hasil pemeriksaan dari cairan masih belum keluar karena 5-7 hari kerja. Di hari minggu papa mulai merasa agak mual, enggak bisa makan dan minum setiap makan dan minum dia muntah. Dan dia bilang paru-paru dia sakit.

Mommy tanya sama dokter, kata dokter ini wajar karena kan kemaren paru-parunya kerendam 90% sama cairan sekarang sudah mulai kering itu paru-parunya, yang tadinya harus bekerja dengan maksimal untuk bisa bernapas sekarang dia sudah agak sembuh nih dari luka. Jadi otomatis bagian paru-paru terasa agak sakit dan sesak.

Papa di hari minggu itu sudah enggak tahan bahkan sampai dikasih anti nyeri kayak koyok gitu untuk mengurangi rasa sakit dan diberikan obat anti sakit kepada papa. Tapi tetap papa masih merasa agak sakit, mual tapi papa tahan papa masih bilang sakit sedikit.

Di hari senin tanggal 26 agustus 2019 kita ada rencana untuk PET-CT Scan. PET-CT Scan adalah gabungan dari pemindaian PET dan CT digunakan untuk mendapatkan gambaran terhadap kondisi pasien kanker. PET CT Scan harganya 15jt di sana. Saat itu papa masih merasa sesak, susah makan dan enggak bisa tidur, mungkin karena tusukan di paru-parunya yang bikin sakit. Kemudian papa juga sesak napas, terus jantung dia juga rasanya agak sakit.

Tanggal 27 agustus 2019 hari selasa kita masih nunggu hasil cairannya dan tetap belum keluar dan di hari selasa itu papa bilang papa sesak napas, jadi mama sempat bilang papa sesak napas enggak bisa tidur, papa enggak bisa menjalani PET CT Scan. Jadi PET CT Scan terpaksa kita undur di hari rabu tanggal 28 agustus 2019.

Di hari rabu 28 agustus 2019 papa masih sesak napas dan enggak bisa PET CT Scan sama sekali, mommy datang jam 5 sore karena macet dan mommy sempat olahraga dulu. Sebenarnya mama pas pagi sudah telepon nyuruh mommy untuk datang ke rumah sakit karena papa sesak napas, kemaren malam enggak bisa tidur. Mommy pada saat itu masih agak repot ngurusin Louisse yang mau sekolah dan Loewy yang mau dititipin ke mertua. Terus enggak ada plat mobil genap, terus mommy telpon adik mommy semuanya juga susah akhirnya adik cowok mommy pergi dan sampai jam 12 siang.

Jadi adik mommy telepon papa minta ganti kamar, mommy tanya kenapa katanya mimpi buruk. Pokoknya papa enggak mau di kamar ini, ya sudah mommy bilang untuk cari kamar kelas 3 atau VVIP atau berapapun yang penting ada kamar pindahin aja sesuai dengan keinginan papa. Dan hasilnya kebetulan di hari itu rumah sakit full dan kita enggak dapat kamar ganti untuk papa, terpaksa tunggu besok dan kita sudah booking minta besok harus diganti. Kata suster oke.

Kemudian mommy setelah beres-beres, masih olahraga, sampai rumah mandi terus masih nunggu adik mommy selesai packing untuk bareng pergi akhirnya mommy sampai di rumah sakit jam 5 sore. Jadi pas sampai jam 5 sore mommy sudah ketemu dokter di lift mommy tanya hasilnya apa. Jadi dokter sudah ngintip hasil cairan tubuh papa itu adalah kanker paru-paru.

Pas dengar itu mommy nangis, karena mommy tahu itu akan terjadi. Mommy berusaha tegar untuk melawan kanker ini. Dokter bilang satu-satunya solusi untuk papa adalah makan obat kemo dan itu akan ada efek samping yaitu mual dan lain-lain dan parahnya jaringan kulit bisa kering dan luka. Tapi kalau untuk sampai botak itu enggak sampai hebat kayak kemoterapi yang lewat infus karena untuk umur papa, papa sudah enggak disarankan kemo seperti itu hanya bisa konsumsi obat kemo Iressa, itupun kalau obat kemonya itu bisa menyerang sel kanker yang ada diparu paru papa. Terus mommy tanya kok dari cairan bisa langsung ketahuan kalau itu kanker paru-paru?

Jadi kata dokter kebetulan di cairan tubuh papa itu ada sel kanker yang copot. Jadi kalau sampai cairan tubuh yang kemarin diperiksa enggak ada sel kanker yang copot enggak akan ketahuan dan terpaksa harus dilakukan pemeriksaan biopsi untuk mengambil sel kanker di bagian paru-paru dan mengecek. Kebetulan selnya copot baru ketahuan ini kanker paru-paru dan sudah stadium 4a. Dokter bilang papa punya waktu kalau minum obat kemo kurang lebih 1-2 tahun, ini enggak bisa menyelamatkan, cuma bisa memperpanjang aja. Mommy bilang oke. Dalam hati mommy 3 bulan aja sebenarnya udah cukup, mommy mau bawa papa happy-happy, bahagiain papa, kasih tahu papa arti keluarga, arti hidup dan arti cinta.

Jadi pas mommy jam 5 sore sudah sampai mommy akhirnya masuk ke ruangan, mommy lihat papa mommy, pucat banget. Dia putih banget mukanya, dia duduk sambil sesak napas. Mommy itu kan harus tegar, mommy enggak nangis tapi mommy enggak mau ngomong apa-apa, kalau mommy ngomong mommy bisa nangis jadi mommy cuma diam. Sambil browsing cara mengobati kanker secara organik dari makanannya. Dan mommy enggak video papa, karena mommy enggak sanggup lihat papa kayak gitu.

Papa sempat baca Paritta Pali yang biasa diterjemahkan sebagai “perlindungan” atau “Penjagaan” yang bertujuan untuk menangkal kesialan, keburukan dan marabahaya. Terus mommy enggak ikut papa baca karena mommy bisa nangis, mommy cuma diam aja. Terus mommy cuma habisin waktu, itu mommy keluar telepon boleh enggak papa konsumsi obat Iressa? Boleh enggak masukin obat kemo? Takut mommy sembarangan nanti kenapa-napa papa. Akhirnya jam 7 keluar hasil cairannya yang benar-benar tertulis kalau papa itu kanker paru-paru.

Jadi di bayangan mommy itu mommy sudah siapin semua makanan organik yang mesti papa makan dan minum, mommy tahu pasti papa enggak bakalan mau makan dan minum jadi mommy sudah mikir mommy akan makan dan minum bareng papa. Jadi mommy akan ubah semua makanan dan minuman papa itu juga akan jadi makanan kita, kita akan makan bareng biar papa juga makin semangat. Selain dari makanan, psikologi papa juga bakalan mommy jaga terus mommy akan lebih habisin waktu untuk papa bahkan mau ajak papa jalan-jalan.

Ternyata setelah itu kurang lebih jam 8 papa mulai sesak napas. Masuk ke kamar papa sesak napas pakai selang oksigen yang kecil udah enggak mampu naikin oksigen dia. Dari 95 turun terus ke 50 akhirnya dikasih masker yang besar itu dengan full oksigen akhirnya napas papa dari 50 naik pelan-pelan ke 95 dan normal. Setelah normal dokter manggil mommy untuk ke depan kemudian mommy ditanya kalau papa masuk ICU mau enggak karena keadaan papa sudah kritis, papa bisa gagal napas. Mommy bilang mommy mau masukin ke ICU.

Dokter ICU datang dan ngecek papa, setelah selesai ngecek papa, mommy diajak keluar dijelasin bahwa kalau sudah masuk ICU kita akan lihat progress pasien kalau sampai pasien masih sesak napas padahal sudah dengan masker oksigen yang sudah full terpaksa kita akan memberikan ventilator ke pasien. Mommy oke, cuma kalau seorang pasien sudah dipasang ventilator itu akan dibius total kemudian tiap hari hanya akan diberikan suntikan antibiotik dan lain-lain kemudian akan dilihat selama 2 minggu kalau pasien tidak ada kemajuan yang baik, maka lehernya akan dibolongin dan akan terus-terusan pakai ventilator itu sampai jantung dia berhenti. Jadi rumah sakit enggak boleh matiin ventilator sampai jantung itu berhenti sendiri.

Mommy tanya berarti papa enggak bisa ngomong dan bangun dong. Di sana mommy sama adik mommy jerit-jerit, histeris, nangis. Mommy bilang dokter kalau kayak gini berarti dokter itu enggak kasih saya pilihan saya itu cuma butuh 3 bulan tapi kenapa 1 hari aja papa enggak bisa dikasih waktu. Pas di hari rabu pas mommy sampai aja sebenarnya pas mommy melihat papa itu mukanya seperti itu mommy mau nangis, mommy bilang sama Tuhan, Tuhan boleh enggak aku hari ini nangis dulu sebentar sepuasnya, abis itu aku akan datang lagi ngomong sama papa dengan tegar tapi ternyata di jam 9 malam papa malah sesak napas lagi dan kali ini sesak napasnya itu membuat napas dia enggak bisa naik-naik.

Papa sesak napas sampai muka dia biru, dokter cuma bilang itu wajar karena memang oksigen yang mengalir ke otak dia kurang. Mommy bingung apa yang harus dilakukan. Masa iya mommy harus lihat papa meninggal di depan mommy dan mommy enggak bisa melakukan apapun. Mommy akhirnya bilang untuk masukin ke ICU aja, dan semua dokter datang kasih alat banyak banget mommy udah sempat sujud sama papa minta maaf sama papa dan kata mama mommy papa masih sempat menganggukkan kepalanya.

Yang mommy lakukan cuma ngasih tahu bahwa mommy sayang sama dia, sampai akhirnya kita semua nangis, begitupun mama juga sama sedihnya. Kemudian pada saat mau pasang ventilator dokter masih nanya lagi, mau pakai ventilator atau enggak. Pas ditanya mama bilang kalau enggak bisa ngomong, enggak bisa bangun buat apa, kalau di agama kita seseorang yang sudah enggak bergerak seperti itu, hidup enggak mati juga enggak itu lebih sengsara, akhirnya mama pun relain papa.

Dan akhirnya papa ditanggal 28 agustus 2019 hari rabu jam 10:45 meninggal. Jadi kanker paru-paru papa sepertinya menekan bagian saluran pernapasan dia. Jadi tumornya makin gede, otomatis menutupi aliran pernapasan papa sehingga menyebabkan papa sulit bernapas hingga kematian papa disebabkan oleh gagal napas. Sampai napas papa yang terakhir kita berdoa menurut kepercayaan kita. Papa pun akhirnya ditutup dengan kain putih, kita urus semua keperluan di rumah sakit dan jam 2 pagi kita sampai di rumah duka. Segala prosesi sudah kita lakukan sampai kemarin di tanggal 1 september 2019 papa sudah ditaruh abunya di rumah abu Jelambar.

Yang mommy sesali cuma begini ya, di dalam hidup manusia emang kita enggak tahu ya moms apa yang akan terjadi, selama ini mommy durhaka sama papa, kenapa? Mommy itu suka ngelarang papa ngerokok dan hidup enggak sehat, papa suka pulang malam begadang, tiap hari non stop. Mommy ribut soal itu makanya mommy merasa berdosa banget. Mommy masih merasa kayak mimpi ya, kayaknya ini enggak mungkin terjadi deh. Sekarang mommy mau ketemu papa, mau ngobrol sama papa itu di atas di altar papa.

Sebenarnya kalau cuma 3 bulan, mommy bakal ajak papa jalan-jalan ke luar negeri mommy bakal ngomong sama papa semua uneg-uneg mommy sama papa. Terimakasih ya papa waktu itu papa sudah selamatin hidup aku waktu aku operasi usus besar dan hampir meninggal, waktu kita enggak ada uang, papa keluarin semua uang papa. 100juta untuk selamatin aku, tapi di saat papa lagi butuh aku, papa terlalu baik sama aku, sakitpun enggak ngomong papa tahan sendiri. Papa adalah papa yang hebat. Terimakasih papa, karena papa aku bisa sampai hari ini. Karena papa aku bisa sukses, karena papa aku bisa bijaksana, aku akan berubah, aku akan bertobat, dan papa pergi yang tenang ya, kalau kita berjodoh kita akan ketemu lagi di kehidupan mendatang. Aku akan jaga keluarga ini aku bakal jaga mama, adik-adik, dan keluarga semua, papa tenang aja. Papa pergi dengan damai.

Buat kalian kalau kalian sayang dengan papa kalian mama kalian atau siapapun jagalah mereka, kalau bisa hindari hidup tidak sehat salah satunya merokok, entah itu perokok aktif maupun perokok pasif. Sama-sama memiliki resiko kanker ini karena sebenarnya setiap manusia itu memiliki sel tubuh yang bisa berubah menjadi sel jahat yang nantinya akan menjadi kanker ketika organ tubuh kita sudah melemah. Dan yang paling penting adalah hargai orang-orang di sekitar kalian, orang-orang yang kalian cintai, terkadang kita sebagai manusia terlalu sibuk mengejar uang, karir, harga diri dan lain-lain membuat kita melupakan orang-orang di samping kita.

Lebih baik hidup 1 hari dipenuhi dengan kebahagiaan dibandingkan hidup 100 tahun tapi hanya dipenuhi dengan hal-hal yang tidak berguna atau buruk. Kalau saja kemarin mommy punya waktu 1 hari saja mommy akan sangat bersyukur karena waktu 1 hari itu saja akan mommy pergunakan dengan hal-hal positif, dengan hal-hal yang bisa membuat papa bahagia. Mulai hari ini mommy akan hidup seperti ini adalah hari terakhir mommy untuk hidup di dunia, dengan begitu pikiran mommy akan terus bisa berpikir positif dan terus berbuat baik, tidak ada waktu untuk berbuat yang tidak baik.