Uncategorized

Pengalaman Berjuang dengan Kehidupan dengan Mama dan Keluarga

Banyak yang bilang kalau mami terlahir dari keluarga orang kaya. Tapi nyatanya mami ini dari keluarga yang sangat kekurangan. Kalau kita flashback, kita dulu tinggal di rumah susun, itu pun nyewa. Uang sewanya dibayarin kakaknya mama mami. Kita tinggal di rumah susun tipe 2×9 m. Sudah termasuk tempat tidur, dapur, ruang sembahyang, tempat makan semuanya. Dulu kita tidur pakai kardus, di atasnya kipas yang sudah kotor banget. Kita punya kasur lipat karena dikasih sama orang.

Mama mami jualan makanan dari mami usia 3 tahunan dan mami masih ingat umur 5 tahun naik sepeda antar makanan. Saat SD sebelum mami pergi ke sekolah mama bangun dari jam 3 pagi buat adonan kue sampai jam 5, lalu mami sama adik mami keliling rumah susun untuk jualan. Setelah jualan makanan biasanya jam 7 atau 8 mami pergi diantar sama papa ke sekolah. Pulang sekolah ngantar lagi makanan sampai jam 12 malam.

Kita bisa makan KFC itu cuma ketika hari spesial kayak ulang tahun aja. Sehari-hari makan nasi+garam pernah, makan cuma sama tempe doang juga pernah. Pokoknya kehidupan kita lumayan memprihatinkan. Untuk masalah baju juga cuma dari orang kasih, sepatu pun demikian, kebanyakan semua barang adalah hasil dari dikasih sama orang lain. Jadi pada saat sekolah ya nggak ada yang mau berteman sama mami karena penampilan dan status sosial mami nggak setara dengan mereka.

Hal itu berlangsung selama 18 tahun. Walaupun sering banget terjadi ketika mau bayar uang sekolah kesusahan kita tetap bahagia. Bahkan sampai pinjam saudara, saudara pun takut kalau terima telpon dari kita. Tapi yang mami banggakan dari mama mami adalah dia tetap berusaha untuk bayar uang sekolah mami dan adik-adik biar kita tetap sekolah, bisa punya pekerjaan lebih baik, minimal bisa punya kehidupan yang lebih baik dari orangtua.

Jadi inti dari sharing ini adalah bahwa mami mau ingatkan kalian semua jangan pernah putus asa sama kehidupan kalian. Namanya hidup ya kayak roda, kadang kita di bawah kadang juga kita di atas. Pada saat di atas jangan lupa kita pernah di bawah, jangan sombong, kita harus tetap berbagi dan bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang. Karena dengan kita di atas kita bisa turun lagi ke bawah, pas turun ke bawah kita nggak kaget lagi. Jangan karena hidup kita susah, dan kita bandingkan dengan yang lain nanti yang ada bikin orangtua sakit hati.

Mami sendiri punya suami juga bukan dari orang kaya. Suami mami juga dari orang super nggak ada duit. Jadi yang selalu bilang mami hidupnya enak karena dari dulunya kaya itu salah. Mami hidup enak karena punya suami orang kaya itu juga salah. Kita sama-sama berusaha dari minus baru kita bisa sampai di titik ini.

Dari cerita perjalanan hidup ini Ama (Mama mami) ada pesan buat teman-teman semua, yaitu : “Kalau susah harus sabar”. Ingat selalu ya!