Baby

Bantu Bayi Merangkak dengan Beri Stimulasi Ini, Moms!

Sebelum berdiri dan berjalan, bayi biasanya akan merangkak. Meski demikian sebenarnya tidak semua bayi merangkak, karena ada sejumlah bayi yang tidak merangkak. Itu pun normal saja, ya, Moms.

Akan tetapi, Moms bisa membantu bayi memberikan stimulasi agar ia bisa merangkak. Stimulasi ini bisa Moms berikan sejak bayi berusia dini, bahkan sejak bulan-bulan awal kelahirannya.

Mengutip dari website resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), inilah sederet stimulasi bayi merangkak yang bisa dilakukan di rumah.

  1. Seringlah mengajak bayi tengkurap sejak bulan-bulan awal kelahiran. Tak perlu terlalu lama, cukup beberapa menit saja sebagai permulaan, kemudian durasinya bisa Moms tambahkan secara bertahap. Namun ingat, ya, Moms, untuk selalu dampingi bayi ketika ia sedang dalam posisi tengkurap.
  2. Untuk menumbuhkan minat bayi belajar meraih dan bergerak, letakkan mainan atau benda yang menarik di depan bayi, tapi agak jauh dari jangkauannya. Lihat apakah ia tertarik dan berusaha meraih mainan tersebut?
  3. Ketika ia sudah dapat menopang tubuhnya dengan kaki dan tangan, sesekali coba letakkan telapak tangan Anda di belakang telapak kakinya. Hal ini akan membantu bayi tetap stabil dan memberi dasar pijakan untuk mulai bergerak.
  4. Hindari gunakan baby walker. Sebab, ini dapat mengganggu perkembangan otot bayi, apalagi jika digunakan terlalu sering.
  5. Perhatikan waktu penggunaan alat bantu lain seperti kursi, bouncer, ayunan, dan gendongan. Bayi perlu mendapat cukup banyak waktu untuk bermain, bergerak, dan menjelajah secara mandiri.
  6. Jangan paksa bayi untuk belajar merangkak. Pun tidak ada patokan waktu dan cara yang baku untuk mengajarkan bayi merangkak.
  7. Selalu utamakan keamanan dan keselamatan anak. Jauhkan bayi Moms dari benda-benda yang berpotensi membahayakan dirinya.

Itulah, Moms, sederet cara yang bisa Moms usahakan untuk menstimulasi bayi merangkak. Selamat mencobanya di rumah.

Growth

Tips Optimalkan Perkembangan Bicara dan Bahasa Anak, Simak Moms!

Ada beragam perkembangan anak yang perlu orang tua perhatikan, salah satunya adalah perkembangan bicara dan bahasa. Dalam masa tumbuh kembang anak, peran orang tua pun sangat dibutuhkan untuk membantu mengoptimalkannya.

Terkait perkembangan bicara dan bahasa anak, ada beberapa cara yang bisa Moms dan Dads lakukan untuk bantu mengoptimalkannya, serta mencegah si kecil mengalami keterlambatan bicara atau speech delay.

Lantas, bagaimana sajakah cara-caranya? Nah, Moms, mengutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), inilah cara-cara yang bisa diterapkan di rumah bersama buah hati tercinta.

1. Membacakan Cerita untuk Anak

Ini merupakan salah satu cara yang baik untuk meningkatkan kosakata anak. Bayi dan anak kecil biasanya tertarik pada cerita yang bersajak. Sembari membaca, anak dapat diajak menunjuk gambar dan menyebut nama benda yang ditunjuk.

2. Mengajak Anak Berbicara dan Berkomunikasi

Mengobrol dengan anak bisa dilakukan sejak anak masih bayi atau bahkan sejak ia berada dalam kandungan.

Kapan pun dan di mana pun Moms berasama si kecil, katakanlah apa yang sedang terjadi, apa yang sedang Moms dan anak lakukan, serta sebutkan nama benda-benda yang ditemui atau dilihat. Kebiasaan ini dapat menjadi bekal anak dalam mengembangkan keterampilan bicara dan bahasanya. Tak lupa, sebutkanlah dengan menggunakan istilah atau bahasa yang baik dan benar, ya, Moms!

Bagaimana, Moms, mudah, kan, untuk diterapkan?

Growth

Tahap Perkembangan Bicara Anak 3-5 Tahun

Ada banyak perkembangan anak yang akan Moms temui seiring bertambahnya usia mereka. Begitu juga dengan tahap perkembangan bicara atau bahasa anak. Moms pasti akan takjub melihat itu semua!

Jika dibandingkan dengan usia sebelumnya, tentu saja perkembangan bicara anak usia 3-5 tahun akan melaju pesat. Berdasarkan penjelasan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di laman resminya, anak-anak pada usia ini sudah tertarik mendengarkan cerita dan percakapan di sekitarnya.

Anak pun sudah dapat menyebutkan nama, umur, serta jenis kelamin mereka. Tak ketinggalan, anak-anak di usia 3 hingga 5 tahun sudah mampu menyusun kalimat panjang yang terdiri lebih dari 4 kata saat ia berbicara.

Pada usia 4 tahun, apa yang anak bicarakan sepenuhnya sudah dapat dimengerti oleh orang dewasa. Anak sudah mampu menceritakan dengan lancar dan cukup rinci tentang hal-hal yang dialaminya. Wah, keren, ya, Moms!

Bagaimana dengan buah hati Moms, apakah perkembangan bahasanya di usia ini juga sudah lebih baik dari usia sebelumnya?

Moms harus waspada jika kemampuan bicara anak tidak sesuai dengan tahapan usianya. Sebab, bisa jadi ia mengalami keterlambatan bicara atau speech delay. Segera hubungi dan konsultasikan dengan pakar jika Moms melihat adanya indikasi keterlambatan bicara pada anak.

Baby

Tahap Perkembangan Bicara Anak 18-24 Bulan

Tak terasa, ya, Moms, sebentar lagi si kecil akan berusia 2 tahun. Di usia ini, Moms akan melihat banyak perkembangan yang dialami si kecil. Termasuk perkembangan bahasanya.

Mungkin Moms juga sudah mulai menyadari, nih, kalau di usia ini si kecil sudah semakin cerewet dan bahkan banyak bertanya. Jangan heran Moms, karena memang pada tahap ini anak akan mengalami ledakan bahasan.

Moms, berikut ini penjelasan mengenai tahap perkembangan anak di usia 18-24 bulan berdasarkan penjelasan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melansir dari website resminya.

Menurut IDAI, anak usia 18 hingga 24 bualn akan memiliki kosakata baru pada setiap harinya. Wah, salut, ya, Moms! Anak dapat membuat kalimat yang terdiri dari dua kata. Contohnya, “Aku lapar” “Naik sepeda”. Mereka juga sudah dapat mengikuti perintah dua langkah.

Tak hanya itu, masih berdasarkan penjelasan dari IDAI, pada masa ini pun si kecil akan senang mendengarkan cerita. Serta, saat usia anak sudah menginjak 2 tahun, sekitar 50% bicaranya dapat dimengerti orang lain.

Itulah Moms gambaran tahap perkembangan bahasa anak usia 18 hingga 24 bulan. Semoga bisa jadi panduan Moms, ya.

Growth

Tahap Perkembangan Bicara Anak 2-3 Tahun

Seiring bertambahnya usia anak, akan ada banyak perkembangan anak yang melaju pesat. Termasuk soal perkembangan bahasa atau bicara anak. Bahkan di usia ini, usia 2-3 tahun, anak-anak biasanya sedang berada di tahap cerewet atau mulai banyak tanya.

Ya, anak-anak usia 2-3 tahun mulai sering penasaran dengan dunia sekitarnya. Tak heran jika Moms dan Dads akan sering mendapat pertanyaan darinya. Jangan heran juga jika ia mengajukan pertanyaan yang cukup unik, ya.

Berdasarkan penjelasan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di laman resminya, setelah usia 2 tahun, hampir seluruh kata atau kalimat yang diucapkan anak dapat dimengerti oleh orang tua maupun orang dewasa lain.

Umumnya anak-anak di usia ini sudah bisa menyusun kalimat yang terdiri dari 2-3 kata. Lalu, mendekati usia 3 tahun, anak bahkan sudah bisa menyusun 3 kata atau lebih, serta mulai menggunakan kalimat tanya.

Selain itu, anak pun dapat menyebutkan nama dan kegunaan benda-benda yang sering ditemui, sudah mengenal warna, dan senang bernyanyi atau bersajak, misalnya bernyanyi Pok Ami-Ami.

Agar tahap perkembangan bicara anak 2-3 tahun berjalan lancar, diperlukan pula peran Moms dan Dads untuk memberikan stimulasi kepadanya. Moms dan Dads bisa sering mengajak anak mengobrol atau berinteraksi menggunakan bahasa yang baik dan benar agar si kecil bisa terlatih untuk menirukannya.

Relationship

Manfaat Cuddle untuk Pasangan Suami Istri, Intip yuk Moms!

Siapa, nih, Moms dan suami yang sering melakukan cuddle? Mengutip dari laman Alodokter, cuddle yaitu berpelukan yang dilakukan secara lebih intim. Biasanya cuddle dikakukan saat sedang santai, misalnya sebelum tidur. Tak hanya itu, biasanya pasangan yang melakukan cuddle pun dibarengi dengan deep talk. Apakah Moms dan pasangan juga seperti itu?

Melakukan cuddle dengan orang terkasih, termasuk pasangan, ternyata dapat menurunkan kadar hormon kortisol atau hormon stres, sekaligus mengaktifkan hormon oksitosin, dopamin, dan serotonin. Aktifnya hormon-hormon tersebut dapat memberikan manfaat-manfaat untuk Moms dan pasangan yang melakukannya.

Masih mengutip dari laman Alodokter, manfaat-manfaat tersebut di antaranya:

  • Meredakan stres dan cemas
  • Meningkatkan kualitas tidur
  • Menumbuhkan atau meningkatkan perasaan bahagia, cinta, dan kasih sayang
  • Meningkatkan keharmonisan dan kepuasan hubungan
  • Meningkatkan kepuasan seksual
  • Menurunkan kadar tekanan darah
  • Memperkuat imunitas tubuh

Semakin bisa membuat Moms dan pasangan lebih intim, cuddle juga menawarkan manfaat lainnya. Jadi, jangan lupa cuddle hari ini, ya.

Growth

5 Manfaat Permainan Origami untuk Perkembangan Anak

Permainan origami atau melipat kertas sudah terkenal sejak zaman dahulu. Seni melipat kertas ini berasal dari negara Tiongkok dan dipopulerkan di Jepang. Kalau di Indonesia, biasanya permainan ini mulai dikenalkan sejak anak-anak duduk di bangku TK ataupun SD.

Ada banyak bentuk yang dapat diciptakan melalui permainan origami. Seperti bentuk bunga, hewan, maupun buah-buahan. Ternyata, origami ini bukan sekadar permainan, lo.

Seni melipat kertas origami ini punya beragam manfaat untuk perkembangan si kecil. Lantas, apa sajakah itu? Mengutip dari situs SehatQ.com, berikut inilah beragam manfaat dari permainan origami yang dapat diraih si kecil.

  1. Menumbuhkan kemampuan menyelesaikan masalah
  2. Memperkuat kemampuan kognitif anak
  3. Meningkatkan imajinasi dan kebahagiaan anak
  4. Meningkatkan kreativitas anak
  5. Melatih kesabaran dan ketekunan

Ibu Menyusui

Mengenal Extended Breastfeeding, Menyusui Bayi Lebih Lama dari Biasanya

Moms, pernahkah mendengar tentang praktik extended breastfeeding? Atau justru Moms sedang melakukannya saat ini? Untuk lebih jelasnya, berikut ini penjelasan seputar extended breastfeeding yang perlu Busui ketahui.

Mengutip dari penjelasan di laman Healthline, istilah extended breastfeeding sebenarnya memiliki arti yang berbeda, tegantung pada siapa Anda, di mana Anda tinggal, dan kepada siapa Anda bertanya.

Dalam beberapa budaya, disebut extended breastfeeding yaitu jika ibu menyusui bayi lebih dari 2 tahun. Sementara itu, ada pula yang menyatakan extended breastfeeding yaitu ketika kegiatan menyusui sudah melewati tahun pertama kehidupan bayi. 

Mayoritas organisasi kesehatan besar merekomendasikan agar ibu menyusui bayi selama minimal 12 bulan. Namun, banyak pula profesional kesehatan yang merekomendasikan lebih lama dari itu. 

Masih mengutip dari Healthline, inilah pernyataan organisasi kesehatan besar tentang praktik extended breastfeeding

  • Academy of American Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar bayi disusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama, lalu lanjut setidaknya selama 1 tahun. Setelah itu, AAP merekomendasikan kegiatan menyusui bisa dilakukan selama ibu dan bayinya masih sama-sama menginginkan. 
  • World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi, kemudian ibu bisa terus menyusui bayi selama 2 tahun bahkan seterusnya. 
  • American Academy of Family Physicians (AAFP) merekomendasikan untuk terus menyusui setidaknya selama 1 tahun, dan mengatakan bahwa kesehatan ibu dan bayi akan optimal bila menyusui berlanjut setidaknya selama 2 tahun.

Itulah, Moms, tentang praktik extended breastfeeding. Nah, kalau Moms sendiri apakah melakukan extended breastfeeding sampai usia si kecil di atas 2 tahun?

Baby

Tahap Perkembangan Bicara Anak 12-18 Bulan

Seiring bertambahnya usia, tentu saja kemampuan yang dimiliki anak pun semakin bertambah. Termasuk kemampuan bicara dan jumlah kosakata yang dikuasi.

Lantas, seperti apakah tahap perkembangan bicara anak usia 12-18 bulan? Moms, inilah penjelasannya, mengutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Berdasarkan penjelasan IDAI, pada awal usia ini, anak biasanya sudah dapat mengucapkan 3-6 kata dengan arti, dapat mengangguk atau menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan, menunjuk anggota tubuh atau gambar yang disebutkan orang lain, dan mengikuti perintah satu langkah, seperti “Tolong ambilkan mainan itu.”

Semakin bertambahnya usia, losakata anak pun bertambah dengan pesat. Pada usia 15 bulan ia mungkin baru dapat mengucapkan 3-6 kata dengan arti, tetapi pada usia 18 bulan, kosakatanya telah mencapai 5-50 kata. Lalu, pada akhir masa ini, anak sudah bisa menyatakan sebagian besar keinginannya dengan kata-kata.

Bagaimana, Moms, apakah si kecil sudah menunjukkan kalau ia sudah menguasi lebih banyak kosakata? Yuk, Moms, sering-sering beri stimulasi juga untuknya.

Baby

Tahap Perkembangan Bicara Anak 6-12 Bulan

Ada banyak tahap perkembangan anak yang perlu orang tua perhatikan, salah satunya yaitu perkembangan bicara. Moms bisa memperhatikan tahap perkembangan anak bicara sesuai usianya.

Moms yang memiliki buah hati berusia 6-12 bulan, inilah tahap perkembangan bicara anak 6-12 bulan berdasarkan penjelasan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di laman resminya.

Bayi Usia 6-9 Bulan

Pada usia ini, bayi mulai mengerti nama-nama orang dan benda, serta konsep-konsep dasar seperti ya, tidak, habis. Saat babbling, si kecil menggunakan intonasi atau nada bicara seperti bahasa ibunya. Ia pun dapat mengucapkan kata-kata sederhana seperti mama dan papa tanpa arti.

Bayi Usia 9-12 Bulan

Kemudian pada usia ini bayi sudah dapat mengucapkan mama dan papa (atau istilah lain yang biasa digunakan untuk ibu dan ayah atau pengasuh utama lainnya) dengan arti. Ia menengok apabila namanya dipanggil dan mengerti beberapa perintah sederhana (misal lihat itu, ayo sini).

Bayi menggunakan isyarat untuk menyatakan keinginannya, misalnya menunjuk, merentangkan tangan ke atas untuk minta digendong, atau melambaikan tangan (dadah). Ia suka membeo, menirukan kata atau bunyi yang didengarnya. Pada usia 12 bulan bayi sudah mengerti sekitar 70 kata.

Itulah, Moms, tahap perkembangan bahasa bayi usia 6-12 bulan. Apakah si kecil sudah berada di tahap tersebut? Jangan terlalu khawatir juga jika belum, karena Moms bisa memberikan bayi stimulasi yang tepat.