Kesehatan

Ibu Baru Melahirkan Dilarang Makan Seafood, Benarkah?

Moms membutuhkan waktu pemulihan pascamelahirkan. Selama masa pemulihan, ada beberapa makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi oleh Moms. Salah satunya yaitu makanan laut atau seafood yang mengandung kadar merkuri tinggi.

Mengapa makanan tersebut tidak boleh dikonsumsi? Sebab, mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, ada studi yang menemukan jika konsumsi seafood tinggi merkuri dapat mengganggu perkembangan otak dan sistem saraf bayi.

Contoh seafood tinggi merkuri yaitu yang berukuran besar, seperti ikan todak (swordfish), mackerel, dan tilefish.

Lalu, bagaimana dengan makanan laut lainnya? Selama seafood tidak terkontaminasi merkuri, Moms masih bisa, kok, mengonsumsinya. Apalagi kandungan gizi ikan justru sangat dibutuhkan bagi ibu dan bayi.

Moms bisa konsumsi ikan dengan kandungan merkuri terendah seperti salmon, sarden, ikan kod, dan lele. Jadi, pilihlah makanan dengan bijak, ya, agar kesehatan Moms dan si kecil tetap terjaga.

Kesehatan

Pilihan Obat Pilek Alami untuk Anak, Cek di Sini!

Pilek merupakan salah satu penyakit yang rentan menyerang anak-anak. Hampir setiap tahunnya si kecil akan mengalami pilek.

Saat mengalami pilek, pastinya si kecil merasa tidak nyaman. Bahkan beberapa di antaranya sampai membuat tubuh anak lesu dan lemas.

Kalau sudah begini, Moms pasti tidak tega, dong, melihatnya. Oleh karena itu, Moms harus segera bertindak untuk bantu mengatasi pilek yang diderita anak.

Selain menggunakan obat-obatan medis, pilek pada anak juga bisa diatasi dengan cara atau bahan alami. Apa sajakah itu?

1. Konsumsi Sup Ayam

Semangkuk sup ayam bisa bantu menenangkan bahkan meredakan kondisi pilek, serta melegakan hidung yang tersumbat lendir. Sup ayam juga memiliki efek anti-peradangan untuk meredakan gejala flu, seperti pilek dan batuk.

2. Teh Chamomile

Mengutip dari SehatQ.com, teh chamomile berpotensi menjadi obat pilek alami, serta memiliki efek menenangkan, kemampuan antiperadangan, serta efek antioksidan. Menghirup maupun menyesap teh chamomile dianggap mampu meredakan gejala pilek.

3. Bawang Putih

Tak ketinggalan, bawang putih pun bisa menjadi obat pilek alami. Masih mengutip dari SehatQ.com, bawang putih mengandung senyawa antimikroba yang disebut alisin. Moms bisa menambahkan beberapa irisan bawang putih ke makanan si kecil saat ia sedang pilek.

Itulah Moms beberapa obat alami untuk meredakan pilek yang diderita si kecil. Semoga membantu, ya, Moms.

Kesehatan

Jenis Luka Bekas Operasi Caesar dan Cara Menyamarkannya

Operasi caesar meninggalkan bekas luka di area kulit yang dilakukan pembedahan. Mengutip dari situs Hellosehat.com, ini 2 jenis masalah yang mungkin terjadi pada bekas lupa operasi caesar:

  • Keloid. Bekas luka menjadi keloid saat jaringan di luka tumbuh melampaui batas luka sehingga menghasilkan tonjolan bekas luka di sekitar sayatan.
  • Bekas luka hipertrofik. Berbeda dari keloid, bekas luka hipertrofik berada dalam batasan garis sayatan asli. Namun, jaringan tetap tumbuh dan menjadi lebih tebal serta keras dibandingkan dengan bekas luka normal.

Bekas luka caesar sebenarnya dapat hilang atau samar dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu. Namun, bisa saja melakukan upaya-upaya lain untuk bantu menyamarkannya agar tidak terlalu jelas.

Adapun berbagai upaya atau cara tersebut, di antaranya yaitu:

  • Hindari bekas luka dari paparan sinar matahari, karena bisa membuatnya menjadi lebih gelap atau lebih terang daripada kulit di sekitarnya. Lindungi bekas luka dari paparan sinar matahari langsung, misalnya dengan menggunakan tabir surya.
  • Cara selanjutnya yang Moms bisa terapkan yaitu dengan menggunakan berbagai pilihan pengobatan untuk mengurangi bekas luka, baik secara medis maupun terapi nonmedis.
Ibu Menyusui

Busui Makan Pedas Bikin Bayi Rewel, Benarkah?

Banyak anggapan yang muncul di kalangan masyarakat tentang ibu menyusui dilarang makan makanan pedas karena bisa berpengaruh pada kondisi bayi, misalnya bikin bayi rewel. Kira-kira benarkah hal itu?

Perlu Moms ketahui, sebenarnya hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang menjelaskan tentang efek buruk makanan pedas terhadap bayi yang menyusu pada ibunya. Termasuk pada pencernaan bayi.

Lalu, jika ibu menyusui makan pedas dikaitakn dengan membuat bayi rewel, itu pun hanya mitos. Mengutip dari Hellosehat.com, penyebab bayi rewel atau kolik bukan berarti karena makanan yang dikonsumsi ibu. Bahkan penyebab bayi kolik belum bisa dipastikan hingga saat ini.

Akan tetapi, melansir situs Mayo Clinic, kolik sering terjadi karena sistem pencernaan bayi belum sempurna, mengalami ketidakseimbangan bakteri pencernaan, atau menderita alergi makanan tertentu.

Selain itu, bayi juga bisa saja rewel karena ia kelaparan, kesepian, kelelahan, ingin digendong, ingin mengisap sesuatu, kepanasan, atau kedinginan. Jadi bukan karena pengaruh dari makanan pedas yang Moms konsumsi, ya.

Dan pastinya busui makan pedas bikin bayi rewel hanyalah mitos.

Food

Batas Penambahan Gula pada Makanan Anak Berdasarkan Usianya

Makanan dan minuman manis menjadi salah satu kudapan favorit anak-anak. Mulai dari permen, minuman berasa, cokelat, hingga donat, biasanya sangat disukai oleh anak-anak. Meski menjadi makanan favorit, tetapi Moms harus membatasi konsumsi makanan dan minuman manis pada si kecil.

Hal ini karena terlalu banyak atau sering mengonsumsi makanan dan minuman manis bisa membahayakan kesehatan si kecil. Seperti risiko pembusukan gigi, obesitas, hingga memicu penyakit kronis tertentu.

Oleh karena itu, orang tua perlu tahu, nih, batas asupan penambahan gula pada makanan dan minuman anak berdasarkan usianya agar tidak mengonsumsinya secara berlebihan.

Melansir situs Live Science, American Heart Association merekomendasikan anak usia 2-18 tahun mengonsumsi gula tambahan tidak lebih dari 6 sendok teh atau 25 gram per hari. Jumlah ini setara dengan 100 kalori.

Sementara itu, untuk anak usia di bawah 2 tahun, American Heart Association merekomendasikan agar mereka tidak diberikan tambahan gula.

Mengapa demikian? Sebab, tambahan gula pada makanan anak di bawah usia 2 tahun berisiko menjadikan anak ketagihan gula.

Lalu untuk minuman, berdasarkan rekomendasi American Heart Association, anak usia 2-18 tahun sebaiknya membatasi konsumsi minuman manis tidak lebih dari satu gelas atau 240 ml per minggu.

Minuman manis yang dimaksud di sini seperti minuman bersoda, minuman berenergi, teh manis, dan minuman jus dalam kemasan.

Nah, Moms, jangan biarkan si kecil konsumsi gula berlebihan, ya. Ikuti aturan normalnya agar si kecil terhindar dari beragam penyakit yang disebabkan oleh konsumsi gula berlebih.

Kesehatan

Bayi Mandi Susu, Adakah Manfaatnya dan Bagaimana Melakukannya?

Moms, pernahkah mendengar tentang milk bath atau mandi susu? Ternyata mandi susu ini menawarkan beragam manfaat kesehatan untuk bayi. Lantas, susu apakah yang dipakai untuk mandi? Jawabannya adalah ASI.

Akan tetapi, tentu saja bukan atau bahkan tidak disarankan Moms mencelupkan bayi ke dalam bak yang berisi ASI hingga penuh. Moms hanya perlu sedikit ASI yang dipompa untuk keperluan milk bath.

Mengutip dari Parents.com, dokter anak Tanya Altmann, MD, yang juga penulis buku American Academy of Pediatrics Baby and Toddler Basics and Your Infant’s First Year, mencatat bahwa ASI mengandung banyak bahan yang ditemukan dalam pelembap kulit—termasuk lemak, protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral. “Tidak mengherankan bahwa itu bisa bermanfaat bagi kulit,” kata Dr. Altmann.

“Antibodi yang terkandung dalam ASI juga dapat membantu meringankan iritasi kulit dan infeksi. Itulah alasan mengapa mengoleskan 1 hingga 2 tetes ASI pada ruam popok bisa membantu meringankan kondisinya.

Mandi ASI telah digunakan untuk mengobati dan mencegah masalah kulit umum pada bayi termasuk:

  • Kulit kering
  • Jerawat bayi
  • Eksim
  • Ruam popok
  • Cradle cap

Cara Memandikan Bayi dengan Susu

Konsultan laktasi Polly Gannon merekomendasikan penggunaan sekitar 150-350 mililiter ASI, cukup untuk membuat air terlihat keruh atau seperti susu. “Jangan menggunakan terlalu banyak susu, karena akan menyebabkan bayi berbau seperti susu,” Gannon memperingatkan.

Moms dapat menggunakan ASI segar atau yang disimpan untuk mandi susu, tetapi ASI beku harus dicairkan sebelum ditambahkan ke air mandi hangat. Setelah susu siap, ikuti langkah-langkah ini untuk memandikan bayi dengan susu:

  • Tambahkan ASI ke bak mandi bayi yang berisi air hangat.
  • Tempatkan bayi dengan lembut di bak mandi dan biarkan mereka berendam selama sekitar 15 menit. Gunakan tangan Moms untuk memercikkan air ke seluruh tubuh bayi, berikan perhatian khusus pada area yang teriritasi.
  • Setelah selesai, bayi tidak perlu dibilas. Cukup keluarkan dari bak mandi dan tepuk dengan lembut hingga kering.
  • Oleskan losion bebas pewangi ke kulit bayi untuk mengunci manfaat hidrasi dari mandi susu.
  • Jika semuanya berjalan dengan baik, Moms dapat melihat peningkatan yang nyata pada kulit anak setelah mandi ASI, tetapi tetap perhatikan iritasi yang mungkin memerlukan perawatan tambahan.

“Saya tidak melihat bahaya menambahkan ASI ke bak mandi bayi Anda,” kata Dr. Altmann. “Namun, selalu konsultasikan dengan dokter anak jika bayi mengalami ruam kulit atau iritasi yang tidak membaik.”

Kesehatan

Jarak Aman Menyimpan Humidifier di Ruangan Anak

Humidifier atau alat pelembap udara memiliki banyak manfaat. Misalnya dapat membantu menjaga kesehatan dengan cara mencegah penyebaran virus dan kuman.

Begitu juga untuk si kecil, humidifer mampu menjaga saluran hidup bayi tetap lembap dan lendir tidak terlalu lengket. Terlebih saat anak mengalami infeksi saluran pernapasan atas.

Hanya saja, humidifier sebaiknya jangan diletakkan di dekat bayi. Beri jarak cukup jauh agar penggunaannya tetap aman.

“Tempat terbaik untuk meletakkan alat penguap adalah cukup jauh sehingga kabut tidak mendarat langsung di tempat tidur dan bayi, jadi setidaknya enam kaki jauhnya,” kata Jennifer Foersterling, M.D., seorang dokter anak Universitas Washington di Premier Pediatrics di St. Louis, mengutip dari situs Parents.com.

Selain itu, penting juga untuk memastikan kabelnya terselip dengan aman sehingga si kecil tidak dapat mengambilnya dan menarik alat tersebut ke bawah.

Selama digunakan dengan benar dan sesuai dengan pedoman keselamatan dan saran dokter anak, pelembap udara dapat membantu Moms dan keluarga melewati musim dingin tanpa ada drama hidung bayi tersumbat sehingga ia pun bisa tidur dengan nyaman.

Baby

Manfaat Menggunakan Humidifer untuk Bayi

Zaman sekarang sudah banyak yang menggunakan humidifier di dalam rumah atau ruangan pribadinya. Humidifier atau alat pelembap udara ini punya banyak manfaat. Misalnya dapat membantu menjaga kesehatan dengan cara mencegah penyebaran virus dan kuman.

Akan tetapi, apakah penggunaan humidifier aman untuk bayi?

Melansir dari situs Parents.com, humidifier bekerja dengan mengubah air menjadi uap, dan mendorongnya ke udara melalui cerat. Ini meningkatkan kadar air di udara, dan ketika udara lembap itu dihirup melalui mulut atau hidung, ini membantu mengurangi kekeringan di saluran udara.

“Pelembap udara sangat bermanfaat jika disimpan di kamar bayi, terlebih ketika mereka mengalami infeksi saluran pernapasan atas atau ketika udara sangat kering di rumah—biasanya di musim dingin,” kata Jennifer Foersterling, M.D., dokter anak Universitas Washington di Premier Pediatrics di St. Louis.

“Udara yang dilembapkan membuat saluran hidung tetap lembap dan lendir tidak terlalu lengket.” Hal itu mengarah pada pernapasan yang lebih mudah bagi bayi, yang tentu saja membantu mereka tidur lebih nyenyak.

Selain itu, pelembap dapat menangkal kulit kering, dan dapat membantu mencegah eksim. Dan beberapa bayi menyukai white noise yang dikeluarkan oleh humidifier.

Baby

Tanda Mata Anak Kedip Berlebihan, Stres Bisa Jadi Pemicunya!

Setiap hari bahkan setiap saat mata kita suka berkedip, ya, Moms. Bukan sekadar gerakan refleks, mata berkedip pun punya manfaatnya, yakni untuk menjaga bola mata tetap terlumasi. Selain itu, berkedip pun mengatur air mata yang menyehatkan dan membersihkan permukaan mata.

Mata orang dewasa maupun anak-anak tanpa disadari akan refleks berkedip. Namun, bagaimana jika mata anak berkedip berlebihan?

Melansir dari laman Adult child Eye, mengetahui mata anak kedip berlebihan yaitu dengan cara melakukan pemeriksaan ke dokter mata dan menemukan tanda-tanda berikut ini:

  • Mata gatal sehingga anak sering menggosok matanya
  • Mata bengkak
  • Mata merah dan berair
  • Terkadang dibarengi dengan hidung tersumbat dan pilek

Di samping itu, kedipan yang berlebihan juga berkaitan dengan stres serta kebiasaan tics. Stres yang dialami anak bisa jadi karena merasa cemas dan ketakutan.

Sedangkan kebiasaan tics disebabkan oleh gerakan otot yang cepat dan berulang yang menyebabkan kedipan keras. Kondisi ini pun bisa saja disebabkan oleh stres dan kelalahan.

Sebenarnya kondisi ini bisa membaik tanpa pengobatan, biasanya dalam beberapa minggu atau bulan. Namun, jika si kecil sudah merasa sangat tidak nyaman, lebih baik segera membawanya ke dokter mata untuk mendapat pengobatan yang tepat.

Food

Bolehkah si Kecil Makan Telur Setengah Matang?

Telur kerap menjadi makanan andalan bagi orang dewasa maupun anak-anak. Selain mudah mengolahnya dan rasanya yang nikmat, telur pun menjadi salah satu makanan yang sehat.

Mengutip dari situs Hellosehat, telur mengandung beragam zat gizi, termasuk protein, folat, vitamin A, B2, B12, dan D, serta ragam mineral. Telur pun mengandung asam lemak omega3 yang baik untuk tumbuh kembang anak.

Jika Moms mengolah telur dengan benar, alias matang, kemungkinan besar si kecil akan mendapatkan kandungan-kandungan tersebut yang baik untuk tumbuh kembangnya. Namun, bagaimana jika telur dimasak setengah matang?

Apakah boleh anak makan telur setengah matang?

Perlu menjadi catatan Moms, nih, kalau bayi dan balita tidak dianjurkan untuk makan telur setengah matang. Sebab, telur setengah matang rentan mengandung bakteri Salmonella yang bisa membahayakan tubuhnya.

Oleh karena itu, jangan sampai Moms memberikan telur setengah matang dalam menu makanan si kecil demi kesehatan tubuhnya dan menghindari infeksi bakteri Salmonella.