Baby

Keunggulan Memilih Kasur Lantai sebagai Tempat Tidur Bayi

Memilih perlengkapan bayi memang tidak boleh sembarangan, termasuk dalam memilih tempat tidur bayi. Beberapa orang tua ada yang memilih boks bayi, beberapa lainnya ada yang memilih kasur lantai sebagai tempat tidur bayi. Untuk Moms yang memilih kasur lantai sebagai tempat tidur bayi, yuk, cari tahu apa kelebihannya.

Moms yang memilih kasur lantai, alias kasur yang langsung disimpan di lantai tanpa ranjang, sebagai tempat tidur bayi mungkin beranggapan jika ini lebih aman. Sebab, dengan menyimpan kasur langsung di atas lantai bisa mengurangi risiko bayi terjatuh dari tempat yang tinggi.

Tak hanya bermanfaat untuk bayi, nyatanya kasur lantai bermanfaat untuk Mom juga, lo, khususnya Moms yang menyusui bayi. Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, kasur lantai dianggap lebih nyaman untuk ibu yang mau menyusui dengan posisi tiduran miring. Sebab, para ibu menyusui tak perlu mengangkat bayi ketika harus menyusui. Moms cukup baringkan diri, lalu setelah selesai, dapat meninggalkan bayi dengan sedikit gerakan hingga bayi tak mudah terbangun.

Di sisi lain, menggunakan kasur lantai juga termasuk bagian dari yang dinamakan pengaturan tidur Montessori. Pola ini memungkinkan bayi untuk lebih leluasa bergerak, memuaskan rasa ingin tahunya, dan melakukan gerakan secara berulang, yang menjadi kunci utama untuk mengembangkan fungsi motoriknya. Bayi yang sering bergerak dengan sendirinya akan tumbuh menjadi bayi yang cerdas, mandiri, dan haus pengetahuan.

Jadi itulah Moms keunggulan menggunakan kasur lantai sebagai tempat tidur bayi. Apakah Moms salah satu yang memilih kasur lantai?

Baby

Alasan si Kecil Suka Bermain Cilukba, Moms Sudah Tahu Belum?

Anak-anak, mungkin salah satunya buah hati Moms, biasanya suka bermain cilukba. Kira-kira, Moms sudah tahu belum, nih, kenapa anak-anak senang sekali saat bermain cilukba?

Seorang peneliti dari University of Cambridge yang bernama James Russel mencoba mencari tahu alasan anak-anak suka bermain cilukba. Ternyata hasilnya cukup menarik, nih, Moms!

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, Russel mengamati jika balita yang diajak bermain cilukba ini berpikir kalau orang lain tidak bisa melihat mereka.

Si kecil merasa bahwa mereka seakan tidak terlihat ketika matanya ditutup atau saat orang lain mengatakan ‘ciluk’, lalu bersembunyi darinya. Bagi si kecil, khususnya batita, permainan ini begitu menyenangkan karena membuat mereka tahu bahwa suatu objek bisa muncul dan menghilang dari hadapannya.

Sementara itu, penelitian lain menyebutkan alasan si kecil yang suka bermain cilukba juga bisa terungkap dari ekspresi wajahnya. Gerrod Parrot dan Henry Gleitman membuktikan bahwa anak-anak yang menikmati permainan cilukba ini akan lebih sering menggerakkan alis mata mereka ke atas, lalu tersenyum serta banyak tertawa.

Permainan cilukba memang benar-benar dapat memberikan sensasi senang tersendiri bagi si kecil. Nah, Moms, jangan lupa ajak bermain cilukba buah hati Anda di rumah, ya.

Baby

5 Tanda Bahaya Mata Merah yang Dialami Bayi

Kondisi mata merah tak hanya dialami oleh orang dewasa, bayi pun bisa mengalaminya. Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, mata merah pada bayi sebenarnya kondisi yang umum terjadi. Namun, tetap saja ada beberapa tanda bahaya yang perlu diwaspadai.

Berikut ini adalah 5 tanda bahaya mata merah pada bayi yang perlu Moms waspadai. Disimak, ya, Moms!

1. Terdapat titik putih di area mata bayi. Waspadai jika Moms melihat ada titik putih di mata bayi. Terutama saat bayi difoto menggunakan kamera dengan flash. 

2. Posisi mata bayi tidak sejajar. Apabila Moms melihat kondisi ini pada bayi berusia 4 bulan, atau mata yang bergerak tidak normal, haruslah waspada!

3. Kelopak mata bayi terlihat terkulai lemas.

4. Mata bayi terlihat keruh, berwarna putih, keabuan, bahkan kuning.

5. Salah satu bola mata bayi terlihat lebih besar.

Jika si Kecil mengalami kondisi di atas, segera konsultasikan kepada dokter agar mendapat penanganan yang tepat.

Baby

Tanda Bayi Terlalu Banyak Minum Susu Formula, Simak Moms!

Apakah buah hati Moms ‘kuat’ minum susu formula? Jangan senang dulu, Moms! Sebab, bisa membuat si kecil terlalu banyak minum susu formula yang pada akhirnya berdampak pada beragam kondisi buruk, salah satunya obesitas.

Moms, mengutip dari situs theAsianparent, inilah tanda bayi terlalu banyak minum susu formula yang perlu diketahui!

1. Obesitas atau Berat Badan Bertambah secara Berlebihan

Apabila berat badan bayi tampaknya secara konsisten bergerak ke atas lebih cepat dari tinggi badannya, lebih baik tanyakan kepada dokter. Sebab, bisa jadi ia terlalu banyak mengonsumsi susu formula.

2. Muntah

Muntah setelah menyusu bisa menjadi tanda bahwa bayi terlalu banyak minum. Muntah bukan berarti gumoh, ya, Moms, karena kedua kondisi tersebut berbeda. Gumoh tergolong normal dan wajar, sementara muntah dapat membuat bayi tidak nyaman.

3. Sakit Perut

Tanda lain bayi terlalu banyak minum susu yaitu ia menderita sakit perut setelah menyusu. Adapun ciri bayi sakit perut biasanya perut bayi tampak tegang.

Saat buah hati Moms mengalami kondisi tersebut, jangan ragu untuk segera berkonsultasi kepada dokter, ya. Seperti yang dijelaskan, bisa jadi ia menerima susu formula terlalu banyak.

Baby

Komposisi Kebutuhan Kalori Bayi dari MPASI dan ASI

Kalori sangat dibutuhkan untuk mendukung mengoptimalkan tumbuh kembang bayi. Sejak lahir hingga usia 5 bulan, kebutuhan kalori bayi hanya didapat dari ASI ataupun susu formula. Namun, mulai usia 6 bulan, kalori bayi didapat dari kombinasi antara MPASI dan ASI.

Melansir dari situs Parenting Firstcry, asupan kalori yang ideal untuk bayi adalah antara 430 hingga 844 kalori per hari. Namun, itu juga disesuaikan dengan usia, berat badan, hingga jenis kelamin bayi. Tak luput, aktivitas fisik bayi pun bisa berpengaruh pada kebutuhan kalori bayi setiap harinya. 

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), adapun perbandingan komposisi kebutuhan kalori bayi dari MPASI dan ASI atau susu formula, yakni:

  • Bayi usia 6-8 bulan: 70% ASI (dan/atau susu formula), 30% MPASI
  • Bayi usia 9-11 bulan: 50% ASI (dan/atau susu formula), 50% MPASI
  • Bayi usia 12-23 bulan: 30% ASI (dan/atau susu formula), 70% MPASI

Kini Moms sudah tahu, kan, komposisi kalori yang dibutuhkan oleh bayi usia 6 bulan ke atas dari MPASI dan ASI. Jangan sampai keliru, ya, Moms!

Baby

Kebutuhan Kalori Bayi dari MPASI Berdasarkan Usia

Memasuki usia 6 bulan, bayi mulai bisa diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) atau makanan padat. Tak sekadar memberi makan, MPASI juga bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan kalori bayi guna mendukung tumbuh kembangnya berjalan optimal.

Akan tetapi, kebutuhan kalori bayi pada setiap tahapan usianya berbeda. Nah, sebagai pedoman Moms, berikut ini kebutuhan kalori yang harus dipenuhi bayi dari MPASI per harinya berdasarkan penjelasan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI):

Usia (Bulan)Frekuensi Makan Per HariJumlah Energi yang Harus Dipenuhi dari MPASI (kkal/hari)KonsistensiJumlah Poris Per Makan
6-82-3200Tim saring, lumat2-3 sendok makan, ditingkatkan bertahap sampai 125 ml
9-113-4300Cincang halus/kasar, finger foods125 ml
12-233-4550Makanan keluarga150-250 ml

MPASI untuk bayi haruslah mengandung gizi seimbang. Adapun komposisi yang harus ada dalam MPASI yakni karbohidrat, protein (hewani dan nabati), lemak (yang bersumber dari minyak goreng, santan, maupun mentega), serta buah dan sayur. 

Agar tidak bingung, Moms bisa mengikuti komposisi yang dianjurkan oleh IDAI berikut ini:

Usia (Bulan)Komposisi Karbohidrat (35-60% dari total kalori)Komposisi Protein (10-15% dari total kalori)Komposisi Lemak (30-45% dari total kalori)
6-870-120 kkal/hari20-30 kkal/hari60-90 kkal/hari
9-11100-180 kkal/hari30-45 kkal/hari90-130 kkal/hari
12-23190-330 kkal/hari55-80 kkal/hari170-250 kkal/hari

Itulah penjelasan mengenai kebutuhan kalori bayi berdasarkan tahapan usianya, serta komposisi nutrisi yang ada di dalam MPASI. Selalu ingat, ya, Moms, kalau MPASI bayi haruslah mengandung gizi seimbang.

Baby

Benarkah Bayi Bisa Sakit Badan? Apa Tandanya?

Sakit badan pada orang dewasa lazim terjadi, tetapi bagaimana jika sakit badan dialami oleh bayi, normalkah? Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, bayi yang biasanya terlihat sehat bisa saja mengalami rasa sakit pada waktu-waktu tertentu, dan ini termasuk bagian normal dari masa tumbuh kembangnya.

Seperti sakit gigi, atau merasa sakit saat menerima injeksi jarum untuk tes darah, dan vaksinasi. Ada juga bayi yang mengalami rasa sakit karena memang menderita sakit atau cedera.

Akan tetapi, cara bayi menunjukkan reaksi rasa sakit berbeda dengan yang dilakukan orang dewasa. Sebab, bayi cenderung tidak bisa menyatakan rasa sakit yang dialaminya. Oleh karena itu, dibutuhkan naluri orang tua untuk mengenali rasa sakit yang dialami bayi sehingga mampu membantu untuk menyembuhkannya.

Lantas, apa tandanya jika bayi mengalami sakit badan?

Salah satu tanda yang kerap ditunjukkan bayi jika mengalami sakit badan yaitu ia akan menangis dan merengek. Selain itu, bayi juga cenderung lebih rewel seharian, yang pada akhirnya akan mengganggu jam tidur atau istirahat bayi. Serta, biasanya bayi juga jadi tidak nafsu makan.

Apabila Moms melihat tanda-tanda tersebut pada buah hati, lebih baik segera konsultasikan kepada dokter, ya!

Baby

Amankah Memberikan Oralit kepada Bayi?

Diare dapat terjadi pada siapa saja, tak terkecuali pada bayi. Saat bayi mengalami diare, tak jarang ada beberapa orang tua yang memberikan oralit kepadanya. Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, oralit adalah obat yang umum diberikan sebagai pertolongan pertama pada seseorang yang mengalami diare.

Oralit merupakan larutan yang digunakan untuk menggantikan cairan dan mineral tubuh yang hilang akibat dehidrasi. Kondisi dehidrasi sangat rentan dialami oleh mereka yang menderita diare. Pada bayi, kondisi dehidrasi tidak boleh dianggap sepele. Sebab, bisa saja berujung pada kematian.

Jika pada pemberian oralit pada orang dewasa adalah hal yang aman, tetapi bagaimana jika pemberian oralit pada bayi? Boleh dilakukan?

Masih mengutip dari theAsianparent Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa oralit aman digunakan untuk segala usia, termasuk bayi dan anak-anak. Namun, Moms perlu memperhatikan aturan pemberian oralit pada bayi. Berikut ini adalah dosis dan aturannya.

Pada 4 jam pertama, berikan oralit kepada si kecil dengan dosis sesuai usianya yaitu:

  • 30-90 ml setiap jam untuk bayi di bawah 6 bulan.
  • 90-125 ml setiap jam untuk bayi berusia 6 bulan hingga 2 tahun.
  • 125-250 ml setiap jam untuk anak berusia di atas 2 tahun.

Untuk bayi dan anak-anak di bawah usia 2 tahun, harus ditawarkan larutan oralit satu sendok teh setiap 1-2 menit.

Muntah dapat terjadi selama dua jam pertama pengobatan, terutama jika anak meminum larutan terlalu cepat. Jika bayi muntah, tunggu selama 5-10 menit lalu mulai berikan larutan oralit lagi, tetapi lebih lambat (misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit).

Jadi pemberian oralit untuk bayi boleh dilakukan, ya, Moms. Namun, tetap ikuti aturannya dan jangan lupa konsultasikan juga kepada dokter.

Baby

Adakah Waktu Tertentu untuk Mencukur Rambut Bayi?

Masyarakat Indonesia kental dengan tradisi dan budaya, tak terkecuali soal mencukur rambut bayi. Beberapa orang tua percaya kalau mencukur rambut bayi harus di hari tertentu. Misalnya, pada hari ketujuh setelah bayi dilahirkan. Lantas, sebenarnya adakah waktu tertentu untuk mencukur rambut bayi?

Ditinjau dari sisi medis, mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pada dasarnya tidak ada waktu khusus terkait mencukur rambut bayi untuk pertama kalinya. Bahkan menurut dr. Rosalina Dewi Roeslani, Sp.A(K), rambut bayi boleh dicukur, boleh juga tidak.

Rambut pertama bayi, atau dikenal juga dengan velus, akan rontok sendirinya pada bulan-bulan pertama kehidupan bayi. Sehingga tanpa dicukur, rambut halus tersebut akan rontok pada waktunya.

Rambut manusia, termasuk rambut bayi, akan melewati tiga fase, yaitu fase tumbuh, fase istirahat, dan fase lepas. Setiap helai rambut mungkin berada pada fase pertumbuhan yang berbeda sehingga sering kali tampak ada area kulit kepala bayi yang agak jarang rambutnya, sementara bagian lain tampak lebat. Mencukur ataupun tidak mencukur rambut bayi tidak memengaruhi kecepatan pertumbuhan maupun membuat rambut menjadi lebih tebal.

Jadi, sebenarnya kapan saja Moms ingin mencukur rambut bayi, boleh, ya. Atau jika tidak ingin mencukurnya dalam jangka waktu tertentu juga boleh.

Baby

Bayi Tidak Merangkak, Perlukah Moms Khawatir?

Salah satu tahapan perkembangan yang kerap dialami bayi yaitu merangkak. Namun, ada juga beberapa bayi yang tidak merangkak. Apakah buah hati Moms salah satunya?

Sebagian orang tua mungkin merasa khawatir ketika bayinya tidak melalui fase merangkak. Namun, sebagian lain ada yang merasa bangga karena bayinya langsung belajar berjalan tanpa merangkak.

Lantas, normalkah jika bayi tidak merangkak?

Melansir dari situs Breaking Muscle, merangkak termasuk dalam gerakan kontra level atau gerakan anggota tubuh berlawanan yang terkoordinasi. Merangkak adalah dasar dari pola berjalan.

Mengutip dari laman theAsianparent Indonesia, merangkak mengajarkan bahu dan pinggul bekerja sama secara terkoordinasi. Secara refleks, ketika merangkak, otot-otot di seluruh lengan, kaki, dan dada bekerja melalui saraf sensorik atau mechano-receptors yang terdapat di tangan dan kaki.

Saraf sensorik tersebut mengatur otot-otot di seluruh tubuh akan langsung berkontraksi untuk menguatkannya. Namun, apa jadinya jika bayi melewatkan fase merangkak dalam tahapan tumbuh kembangnya?

Perlu Moms tahu, tidak masalah jika bayi tidak merangkak. Sebab, pada dasarnya merangkak tidak ada dalam chart for milestones dokter. Bayi yang tidak merangkak pun tidak memengaruhi perkembangannya di kemudian hari. Maka dari itu, normal jika bayi tidak merangkak, atau justru ia merambat bahkan langsung berdiri.