Baby

Penyebab Bayi Bingung Puting, Moms Wajib Simak!

Kondisi bingung puting kerap dialami oleh bayi. Apakah buah hati Moms juga mengalaminya? Lantas, apa penyebab bayi bingung puting?

Bingung puting bisa saja terjadi sejak bayi baru lahir. Adapun salah satu penyebabnya yaitu karena payudara ibu belum mengeluarkan ASI hingga hari ketiga setelah melahirkan.

Di sisi lain, melansir situs theAsianparent Indonesia, ada beberapa keselahan yang dapat memicu bayi mengalami bingung puting. Di antaranya yaitu:

  1. Mudah berputus asa ketika ASI pertama belum juga keluar
  2. Terlalu dini mengenalkan botol pada bayi
  3. Beranggapan bayi tidak menyukai ASI yang dikeluarkan ibu
  4. Ibu beranggapan ASI yang diproduksinya terlalu sedikit dan tidak mencukupi kebutuhan bayinya.
  5. Pasrah ketika bayi lebih memilih botol daripada menghisap payudara ibu
  6. Beranggapan kandungan susu formula lebih baik dan lengkap
  7. Tidak mau repot menyusui setiap 2-3 jam, sehingga memberikan ASIP ataupun susu formula menggunakan botol, yang bisa dilakukan oleh orang lain

Sebenarnya kesalahan-kesalahan tersebut masih bisa diperbaiki, ya, Moms, bahkan masih bisa dicegah. Dengan demikian, Moms bisa menghindari kondisi bayi mengalami bingung puting.

Baby

3 Penyebab Kulit Kering pada Bayi, Cek Moms!

Buah hati Moms mengalami kulit kering? Tenang saja, Moms, ini adalah kondisi yang umum terjadi, kok. Kondisi kulit kering pada bayi bisa datang tiba-tiba, tetapi hilang dengan cepat.

Meski demikian, sebenarnya ada beberapa faktor yang bisa menjadi pemicu kulit kering pada bayi. Mengutip dari situs SehatQ.com, inilah faktor penyebabnya:

1. Dehidrasi

Salah satu penyebab kulit kering pada bayi yaitu dehidrasi. Oleh karena itu, pastikan buah hati Moms tidak mengalami dehidrasi dengan cara cukupi kebutuhan cairan setiap harinya, yakni pastikan bayi cukup mendapatkan ASI.

2. Cuaca atau Kondisi Lingkungan

Kulit kering pada bayi sering kali disebabkan oleh cuaca atau kondisi lingkungan yang terasa kering pula. Misalnya, saat cuaca panas atau terlalu lembap.

3. Tidak Cocok dengan Produk Skincare

Pastikan Moms memilih produk skincare yang cocok untuk kulit bayi. Sebab, bila ada kandungan skincare yang tidak cocok dengan kulit bayi, bisa menyebabkan kulit bayi menjadi kering. Moms juga bisa berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan produk skincare yang cocok untuk bayi.

Moms, itulah 3 faktor penyebab kulit kering pada bayi. Untuk mencegah kondisi kulit kering pada bayi, Moms bisa rutin menggunakan losion atau pelembap yang khusus untuk bayi.

Baby

Manfaat ASI untuk Bayi, Simak Moms!

Sudah menjadi rahasia umum jika ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. ASI memberikan jumlah nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk mendukung tumbuh kembangnya berjalan optimal.

ASI disebut makanan terbaik pun karena mudah dicerna dan disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi bayi.

Melansir dari situs Momjunction, kolostrum atau ASI pertama yang keluar setelah bayi lahir punya banyak manfaat untuk bayi. Kolostrum kaya akan komponen imunologis seperti laktoferin, antibodi, dan leukosit yang membantu mengurangi risiko beberapa penyakit umum anak pada bayi yang disusui.

Selain itu, ASI juga memiliki beberapa manfaat psikologis karena membantu memperkuat ikatan antara ibu dan bayi.

Hormon oksitosin yang dilepaskan selama menyusui secara alami menenangkan ibu menyusui dan bayinya.

Jadi itulah sederet manfaat ASI untuk bayi, bahkan bagi ibu menyusui. Selain manfaat-manfaat tadi, tentu saja masih banyak manfaat lain yang bisa dirasakan oleh buah hati Moms.

Baby

Tanda Bayi Tidak Cukup ASI, Moms Wajib Tahu!

Terkadang ada saja masalah yang dijumpai dalam proses menyusui si kecil. Salah satunya yaitu bayi yang tidak cukup mendapat ASI.

Melansir dari situs Momjunction, berikut ini adalah beberapa tanda bahwa buah hati Moms tidak mendapatkan cukup ASI:

1. Bayi Lesu dan Mengantuk

Bayi biasanya perlu menyusu setiap 3 hingga 4 jam. Beberapa bayi mungkin melewatkan waktu menyusu dan tidur lebih lama tanpa menyusu sehingga perlu dibangunkan untuk menyusu.

2. Masih Lapar Setelah Makan

Tandanya yaitu bayi mengisap ibu jari atau jarinya yang lain, serta tampak tidak puas setelah sesi menyusui.

3. Lebih Sedikit Popok Basah dan Tinja Berwarna Gelap

Saat bayi mulai mencerna susu, mereka biasanya akan mengeluarkan 3 hingga 4 popok kotor dalam sehari, dan kotorannya akan berwarna kuning sawi.

Akan tetapi, kadang-kadang, bayi yang diberi ASI dengan gizi baik dapat melewati satu hari tanpa buang air besar. Popok basah adalah tanda hidrasi yang lebih baik secara keseluruhan.

4. Berat Badan Kurang

Bayi Moms tidak menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan sesuai grafik pertumbuhan umum atau berat badan kurang.

5. Payudara Moms Terasa Penuh Setelah Menyusui

Payudara terasa tetap keras di akhir sesi menyusui.

Setelah mengetahui tanda-tanda itu, kira-kira apakah buah hati Moms sudah mendapat cukup ASI atau belum, nih?

Baby

Takaran Susu Bayi Setelah Mulai MPASI

Setiap ibu tentu ingin bisa memberikan ASI kepada buah hatinya. Namun, ada saja kendala yang pada akhirnya pemberian ASI tidak bisa dilakukan. Saat Moms tidak bisa memberikan ASI kepada si kecil, susu formula adalah alternatif lain asupan yang cocok untuk bayi.

Susu formula bisa Moms berikan kepada bayi sejak ia baru lahir, bahkan hingga saat bayi mulai diberikan makanan padat atau MPASI. Hanya saja, takaran susu formula yang diberikan untuk bayi baru lahir dengan bayi yang sudah diberi makanan padat tentunya berbeda.

Nah, Moms, berikut ini takaran susu bayi untuk bayi yang sudah mulai diberikan MPASI atau makanan padat, melansir dari situs theAsianparent Indonesia.

Berdasarkan American Academy of Pediatrics (AAP), rata-rata bayi harus mengonsumsi sekitar 75 ml susu formula sehari untuk setiap 4,5 kg berat badannya.

Contoh menghitung jumlah takaran susu pada bayi dengan berat 6 kg, maka bayi setidaknya mengonsumsi susu formula sebanyak 100 ml.

Sebagian besar bayi puas dengan 90-120 ml per makan selama bulan pertama. Kemudian, jumlah itu meningkat sebanyak 30 ml per bulan, sampai mencapai maksimum sekitar 210-240 ml. 

Jika bayi secara konsisten terlihat menginginkan lebih atau kurang dari takaran tersebut, Moms bisa diskusikan dengan dokter anak. Sebab, sebaiknya bayi tidak minum lebih dari 960 ml susu formula dalam 24 jam, dikarenakan akan mengganggu penyerapan zat besi (Fe). 

Saat bayi sudah mulai diberikan MPASI, asupan susu formula hariannya bisa berkurang dalam satu hari, yaitu sekitar 600 mililiter. Pasalnya, bayi juga mendapatkan asupan lain dari berbagai makanan padat yang mulai diberikan kepadanya.

Satu hal yang perlu orang tua perhatikan, yakni kebutuhan susu setiap bayi berbeda. Maka dari itu, jangan khawatir jika buah hati Moms tidak mau minum susu dalam jumlah tersebut.

Baby

Kenapa Bayi Perlu Bersendawa? Simak Alasannya, Moms!

Bersendawa merupakan cara mudah untuk melepaskan udara yang terperangkap dalam sistem pencernaan.

Bagi orang dewasa, bersendewa adalah sesuatu yang mudah saja dilakukan. Namun, berbeda dengan bayi, ia perlu bantuan agar bisa bersendawa.

Mengapa, sih, bayi perlu juga bersendawa?

Mengutip dari situs Momjunction, saat diberi makan, bayi cenderung menelan udara. Selain menelannya secara oral, bayi dapat menghasilkan gas selama pencernaan.

Bayi dengan intoleransi laktosa atau yang alergi susu formula dapat menghasilkan gas berlebih. Demikian pula, makanan yang dikonsumsi oleh ibu menyusui dapat menghasilkan gas pada beberapa bayi yang disusui.

Oleh karena itu, membiarkan bayi Moms bersendawa dapat membantu melepaskan gas yang terbentuk keluar melalui mulut. Hal ini bermanfaat bagi bayi, seperti mencegah kembung dan kemungkinan muntah saat menyusu.

Baby

Mengenal Penyakit Kuning ASI yang Bisa Dialami Bayi, Apa Saja Gejalanya?

Penyakit kuning ASI pada bayi biasanya tidak perlu dikhawatirkan, tetapi jika buah hati Moms mengalami jenis penyakit kuning khusus ini, berikut adalah fakta yang Moms perlukah sehingga Moms akan tahu jika ada sesuatu yang salah.

Mengutip dari situs Parents.com, lebih dari separuh bayi mengalami penyakit kuning dalam beberapa minggu pertama, tetapi sekitar 20 hingga 30 persen bayi yang disusui mendapatkan jenis penyakit kuning yang berhubungan langsung dengan menyusui. Inilah yang perlu diketahui tentang jenis penyakit kuning khusus ini.

Mengenal Penyakit Kuning ASI

Secara umum, bayi yang diberi ASI memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalami penyakit kuning dibandingkan bayi yang diberi susu formula.

Penyakit kuning menyusui, atau penyakit kuning asupan suboptimal, terjadi ketika bayi yang disusui tidak mendapatkan cukup ASI dan kesulitan menyusu. Ini biasanya terjadi pada minggu pertama dan dapat diobati dengan meningkatkan pemberian makan untuk membantu membuang kelebihan bilirubin.

Ikterus ASI, di sisi lain, terjadi bahkan ketika bayi mendapatkan cukup ASI dan memiliki perlekatan yang kuat. Biasanya dimulai ketika bayi berusia dua minggu dan dapat berlanjut hingga dua belas minggu.

Gejala penyakit kuning ASI pada bayi di antaranya:

  • Menguningnya mata atau kulit
  • Berat badan tidak bertambah
  • Lesu atau mengantuk
  • Tangisan bernada tinggi

Apa Penyebab Penyakit Kuning ASI?

Dokter tidak tahu mengapa ikterus ASI terjadi, tetapi hal itu mungkin berkaitan dengan zat dalam ASI yang mencegah hati bayi Moms memecah bilirubin. Jenis penyakit kuning ini mungkin memiliki komponen genetik juga, yang berarti dapat diturunkan dalam keluarga.

Itulah Moms penjelasan tentang penyakit kuning ASI. Semoga bermanfaat.

Baby

Ciri-Ciri Bayi Alergi Protein Susu Dilihat dari Fesesnya, Cek Moms!

Sejumlah bayi mengalami intoleransi protein susu sapi, mungkin salah satunya adalah buah hati Moms? Jika mengalami intoleransi atau alergi protein susu sapi, bayi biasanya menunjukkan gejala rewel, sakit perut, muntah, hingga muncul ruam.

Selain itu, ternyata intoleransi protein susu sapi pun dapat ditunjukkan melalui gejala lain, yakni dari fesesnya. Kira-kira apa saja ciri atau gejala bayi alergi susu jika dilihat dari fesesnya?

Mengutip dari situs Parents.com, ini adalah gejala yang perlu Moms perhatikan!

  1. Feses lebih encer dan lembek (diare), terutama jika terjadi dua hingga empat kali sehari selama lebih dari 5-7 hari.
  2. Warna feses sedikit merah karena tercampur darah. “Merah cerah dapat menunjukkan peradangan usus besar,” kata Wendy Sue Swanson, M.D., MBE, FAAP, dokter anak dan Kepala Petugas Medis SpoonfulONE.
  3. Kotoran berlendir yang menyerupai ingus di popok.

Apa yang Harus Dilakukan jika Bayi Mengalami Alergi Protein Susu?

Masih mengutip dari situs Parents.com, dokter anak mungkin akan merekomendasikan diet eliminasi, yang melibatkan menghilangkan makanan pemicu alergi dari piring ibu (susu, keju, yoghurt, es krim, dll.).

Lalu, untuk bayi yang diberi susu formula, bisa beralih ke jenis susu formula yang berbeda. Setelah itu biasanya gejala akan membaik dalam dua atau tiga minggu.

Meskipun kotoran bayi yang tidak biasa bisa tampak mengkhawatirkan, para ahli menekankan bahwa peradangan usus kecil bukanlah masalah besar, dan kemungkinan dokter anak akan merekomendasikan untuk memperkenalkan kembali bayi Anda pada susu di waktu-waktu tertentu.

Baby

Alasan Bayi Suka Isap Jempol, Moms Sudah Tahu?

Moms pasti pernah atau bahkan sering melihat bayi mengisap jempolnya. Kira-kira kenapa, ya, banyak bayi yang gemar mengisap jempol?

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, bagi bayi baru lahir, sensasi membuka mulut dan memasukkan ibu jari adalah hal yang menyenangkan.

Fakta menarik pula bahwa kebiasaan bayi mengisap jempol ini pun adalah kelanjutan dari kebiasaan yang sudah ia lakukan sejak dalam kanudungan. Mungkin Moms juga pernah melihatnya saat melakukan USG kehamilan?

Selain itu, menurut penjelasan pada laman Mayo Clinic, bayi memiliki refleks rooting dan mengisap alami. Pun bayi ternyata merasa aman ketika mereka mengisap jempolnya.

Oleh karenanya, beberapa bayi akan mengembangkan kebiasaan mengisap jempol atau ibu jari saat mereka membutuhkan ketenangan atau akan tidur.

Nah, kalau buah hati Moms di rumah suka mengisap jempolnya juga enggak, nih?

Baby

Normalkah Bayi Baru Lahir Sering Tidur?

Moms pasti sering melihat, kan, kalau bayi baru lahir itu banyak tidur? Mayoritas bahkan hampir seluruh bayi baru lahir memang akan tidur lebih sering.

Lantas, apa, sih, penyebab dari kondisi ini?

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, saat masih berada di dalam rahim, bayi sudah menghabiskan banyak waktunya untuk tidur. Ia merasa sangat nyaman dikelilingi oleh rahim yang hangat dan merasa tenang serta aman saat mendengarkan suara Moms.

Lantaran terbiasa tidur di dalam kandungan, hal itu pun terbawa hingga ia lahir ke dunia. Sehingga bayi baru lahir biasanya akan tidur terus-menerus. Dan ini merupakan kondisi yang normal, ya, Moms.

Menurut National Sleep Foundation, dalam periode 24 jam seorang bayi baru lahir dapat tidur antara 14 hingga 17 jam. Beberapa bayi bahkan tidur hingga 18 jam sehari. Sehingga 75% dari hari bayi dihabiskan untuk tidur.

Mengutip dari Healthline, Karen Gill, MD, FAAP menjelaskan bahwa selama dua atau tiga minggu pertama bayi lebih banyak tidur dan jarang menyusu.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa bayi harus bangun setidaknya 8 hingga 12 kali untuk menyusui dalam waktu 14 jam. Setelah ia melewati usia tiga minggu, pola tidurnya menjadi lebih bervariasi dan berkurang, meski ada juga bayi yang tidur lebih lama daripada yang lain.

Jadi kebiasaan bayi baru lahir yang sering tidur itu normal, ya, Moms.