Covid 19

Perlukah Vaksin Covid-19 Dosis Keempat?

Vaksin menjadi salah satu upaya untuk mencegah kita terpapar dari virus Corona atau Covid-19. Hingga saat ini pun di Indonesia sudah dilakukan pemberian dosis vaksin Covid-19 ketiga kepada sejumlah masyarakat. Namun ternyata, vaksin Covid-19 tak berhenti di dosis ketiga. Sebab, ada vaksin Covid-19 dosis keempat!

Di negara lain, Israel misalnya, pemberian vaksin Covid-19 dosis keempat telah dijalankan. Adapun penerimanya yaitu kelompok-kelompok yang lebih rentan terpapar, orang dengan sistem imun lemah, dan petugas kesehatan.

Lantas, sebenarnya apakah vaksin Covid-19 dosis keempat memang diperlukan? Mengutip situs Alodokter, hingga saat ini, belum banyak ditemukan bukti kuat mengenai perlu atau tidaknya pemberian vaksin Covid-19 dosis keempat. Penelitian yang lebih luas dan mendalam masih dilakukan untuk memastikan keamanan vaksin dosis keempat.

Selain itu, masih juga dibutuhkan data yang mendukung untuk memastikan manfaat dosis keempat. Misalnya untuk mengurangi risiko terjadinya gejala berat atau kematian akibat Covid-19.

Selain itu, diperlukan juga penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah dosis keempat ini bisa diberikan kepada seluruh masyarakat, atau hanya kelompok tertentu yang lebih rentan terpapar Covid-19.

Oleh karena itu, urgensi pemberian vaksin Covid-19 dosis keempat ini memang masih belum ada kepastiannya, ya, Moms. Lagi pula, lebih baik sekarang kita lakukan saja terlebih dahulu vaksin Covid-19 dosis ketiga atau vaksin booster yang jelas-jelas sudah mulai dijalankan di Indonesia.

Covid 19

Muncul NeoCov, Virus yang Disebut Lebih Mematikan dari Covid-19

Pandemi Covid-19 belum usai, tetapi saat ini muncul lagi varian virus yang dianggap lebih berbahaya dan mematikan dari Covid-19, yakni NeoCov.

Melansir dari situs Business Insider, ilmuwan dari Wuhan, China, telah memperingati bahwa jenis virus ini memiliki tingkat kematian dan penularan yang tinggi.

Strain NeoCov masih berkaitan dengan Middle East Respiratory Syndrome MERS COV. Serta menurut peneliti Cina, satu dari setiap tiga orang yang terinfeksi meninggal dunia karena jenis ini.

Meski baru muncul baru-baru ini, ternyata NeoCov bukanlah varian baru, karena telah ditemukan pada tahun 2012 dan 2015 di negara-negara Timur Tengah, serta sangat mirip dengan Covid-19.

Virus jenis ini pertama kali ditemukan pada populasi kelelawar dan diketahui hanya menyebar di antara hewan. Informasi ini berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan di situs web bioRxiv, yang menemukan NeoCov.

Duh, semakin ada-ada saja, ya, Moms, virus yang bermunculan akhir-akhir ini. Semoga kita dijauhkan dari virus-virus berbahaya, ya, dan jangan lupa tetap terapkan protokol kesehatan!

Covid 19

Kombinasi Vaksin COVID-19 Booster yang Disetujui BPOM

Pemberian vaksinasi COVID-19 booster atau dosis ketiga telah dilaksanakan sejak 12 Januari 2022. Bagi Moms yang sudah menerima vaksinasi dosis pertama dan kedua, jangan ragu untuk mendapatkan vaksinasi booster.

Nah, sebelum melakukan vaksinasi dosis ketiga, ada baiknya juga, nih, mengetahui kombinasi vaksin booster. Melansir dari laman Suara.com, kombinasi vaksin COVID-19 booster atau ketiga diberikan atas pertimbangan rekomendasi Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), persetujuan BPOM, dan World Health Organization (WHO).

Moms, setidaknya ada 8 skema pemberian kombinasi vaksin booster yang disetujui BPOM, yakni:

  1. Untuk vaksin primer (awal) Sinovac 1 dan 2, diberikan dosis penuh (satu dosis) vaksin Sinovac.
  2. Untuk vaksin primer (awal) Pfizer 1 dan 2, diberikan dosis penuh (satu dosis) vaksin Pfizer.
  3. Untuk vaksin primer (awal) AstraZeneca 1 dan 2, diberikan dosis penuh (satu dosis) vaksin AstraZeneca.
  4. Untuk vaksin primer (awal) Moderna 1 dan 2, diberikan dosis penuh (satu dosis) vaksin Moderna.
  5. Untuk vaksin primer (awal) AstraZeneca, Pfizer, atau Janssen 1 dan 2, diberikan vaksin booster 1/2 dosis Moderna.
  6. Untuk vaksin primer (awal) Sinovac dan Sinopharm 1 dan 2, diberikan dosis penuh (satu dosis) vaksin Zifivax.
  7. Untuk vaksin primer (awal) Sinovac atau AstraZeneca 1 dan 2, diberikan vaksin booster 1/2 dosis Pfizer.
  8. Untuk vaksin primer (awal) Sinovac 1 dan 2 diberikan vaksin booster 1/2 dosis AstraZeneca. Atau untuk vaksin primer (awal) Pfizer 1 dan 2, diberikan vaksin booster dosis penuh (satu dosis) AstraZeneca.

Kombinasi vaksin booster ini dilakukan karena keterbatasan vaksin. Untuk pemberian dosis 1/2 booster yang tertulis pun memiliki efektivitas yang sama dengan yang satu dosis. Jadi tetap bisa meningkatkan antibodi dan KIPI yang dirasakan juga cenderung lebih ringan. 

Kriteria Penerima Vaksin COVID-19 Booster atau Dosis Ketiga

Kriteria orang yang dapat menerima vaksin booster adalah sebagai berikut, Moms:

  • Minimal usia 18 tahun dan memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  • Menunjukkan bukti vaksin pertama dan kedua
  • Telah menerima vaksin dosis kedua dalam jangka waktu lebih dari 6 bulan
  • Memiliki tiket vaksin booster di aplikasi Peduli Lindungi
  • Kelompok prioritas, seperti lansia dan orang-orang yang memiliki masalah dengan sistem kekebalan tubuh

Itulah Moms informasi seputar kombinasi vaksin COVID-19 booster atau ketiga serta syarat penerimanya. Jika Moms sudah memenuhi syarat, yuk, langsung dapatkan vaksinasi dosis ketiga!

Covid 19

Waspada Varian Omicron Mengganas, Kenali Gejala dan Pencegahannya!

Hingga saat ini pandemi Covid-19 masih menghantui hampir seluruh umat di dunia. Terlebih muncul varian baru, yakni Omicron.

World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia telah memperingatkan jika varian Covid-19 Omicron akan menyebar lebih jauh dan cepat dibandingkan dengan varian sebelumnya.

Di Indonesia sendiri pun kasusnya sudah banyak ditemukan, khususnya di ibu kota Jakarta. Mengutip dari laman CNBC Indonesia, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban menjelaskan jika sebagian besar kasusnya itu dari Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN) atau imported case. Walau demikian, ada pula yang berasal dari transmisi lokal.

Nah, agar Moms lebih waspada terhadap varian Covid-19 Omicron, yuk, kenali apa saja gejalanya.

Gejala Covid-19 Omicron

Melansir dari situs NBC News, Dr. Katherine Poehling, spesialis penyakit menular dan ahli vaksin di Atrium Health Wake Forest Baptist di North Carolina, berikut ini adalah gejala-gejala yang kerap dialami pasien Omicron:

  • Batuk
  • Kelelahan
  • Hidung tersumbat dan pilek
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala

“Kami sering melihat pasien (yang terpapar Omicron) mengalami sakit tenggorokan, pilek, kelelahan, dan sakit kepala ringan,” kata Dr. Rahul Sharma, kepala dokter darurat di NewYork-Presbyterian/Weill Cornell Medical Center.

Akan tetapi, berbeda dengan varian Delta, sejauh ini pasien yang terpapar varian Omicron diketahui tidak mengalami kehilangan indra perasa atau penciuman. Pun tidak ada penurunan besar dalam kadar oksigen.

Hati-Hati Penyebaran Varian Omicron Lebih Mudah!

Gejala Omicron mungkin lebih ringan daripada varian sebelumnya. Namun, tetap saja harus diwaspadai. Sebab, penularan atau penyebaran Omicron justru lebih cepat.

Melansir dari situs resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), varian Omicron kemungkinan akan menyebar lebih mudah daripada virus Covid-19 asli. CDC mengatakan, siapa pun yang terinfeksi Omicron dapat menyebarakan virus tersebut kepada orang lain, meski mereka telah vaksinasi ataupun tidak memiliki gejala.

Bagaimana Mencegah Paparan Varian Covid-19 Omicron?

Tentu saja Moms harus patuhi protokol kesehatan. Seperti memakai masker, menjauhi kerumunan, rajin cuci tangan menggunakan sabun atau setidaknya hand sanitizer.

Tak luput, lakukan vaksinasi. Apalagi saat ini sudah ada vaksinasi Covid-19 dosis ketiga atau booster.

Menurut CDC, saat ini vaksinasi diharapkan dapat melindungi seseorang terhadap gejala yang parah, rawat inap, hingga kematian. Kemunculan Omicron baru-baru ini semakin menekankan pentingnya vaksinasi dan booster.

Yuk, Mom, lindungi diri dan keluarga dari Covid-19 Omicron dengan selalu terapkan protokol kesehatan serta vaksinasi. Semoga kita sehat selalu, ya.

Covid 19 · Ibu Menyusui

Sempat Terkena Covid19 dan Menyusui Kembar Apakah Aman? Tips Menyusui Saat Positif Covid19

Hai moms kembali lagi sama mami di sesi #CurcolYukMoms. Kemaren ini mami sempat terinfeksi Covid19 sekeluarga, yaitu mami, daddy, cece dan uwi. Jadi yang pertama kali terinfeksi adalah suami mami, dia tiba-tiba panas dingin mami kira cuma demam biasa, jadi mami merawat suami selama 1 hari tanpa masker. Karena kita mikir nggak mungkin banget suami kena Covid19, secara kita sekeluarga selama 2 bulan full #dirumahaja nggak kemana-mana. 4 hari setelah suami positif, mami juga terinfeksi Covid19.

Pertama-tama, yang mami rasakan 1 hari setelah terinfeksi mami masih seperti biasa aja, aktivitas masih normal. Di hari kedua suara mulai serak, tapi mami pikir seharusnya itu bukan masalah karena selama ini mami selalu stimulasi si Kembar dengan nyanyi selama 1 jam untuk masing-masing anak, non stop setiap hari. Belum lagi harus ngonten.

Di hari ketiga ketika sore hari, mami mulai batuk kering. Pas anak sedang berenang, tiba-tiba 1 badan kayak pegal semua apalagi tangan dan kaki, lemas. Setelah mompa ASI rasanya mami ingin tiduran lagi aja. Habis itu mami coba untuk olahraga dan tes antigen. Sebenarnya tes antigen ini sejak hari pertama suami positif sampai hari ke-3 pada malam harinya, masih negatif. Nah tapi pada saat malam hari di hari ketiga itu sekitar jam 9, panas mami itu sampai 38º. Tapi tetap, mami masih berpikir bahwa itu cuma sakit biasa karena kecapekan ditambah kan suami sakit, sempat kepikiran juga kan.

Di hari kelima mami tes antigen lagi dan hasilnya positif. Mami langsung mengurung diri di kamar lantai 4 dan PCR dan hasilnya positif 20.38 CT nya. Yang mami rasakan di hari pertama positif Covid19, batuknya mulai berdahak, panasnya 38º-39º terus nggak turun-turun sampai malam. Hari kedua tenggorokan mami sakit banget, nggak bisa nelan, panasnya 39º-40º, ditambah diare. Tapi diarenya di malam hari udah mulai hilang, cuma batuknya terus menerus.

Di hari ketiga positif Covid19 dahak mami keluar darah, sulit menelannya sudah lebih mendingan ya moms, diare sudah nggak, badan juga lebih fit dari kemaren. Di hari keempat mami positif Covid19 yang mami rasakan kepala sakit banget, tidurnya enak, di pagi harinya sudah segar, batuknya sudah mendingan, menelannya sudah enak banget.

Kemudian 3 hari setelahnya Louisse dan Loewy terinfeksi Covid19. Jadi di hari kelima mami positif Covid19, Louisse dan Loewy positif Covid19 juga. Setelah dites hasil CT Louisse 14, yang dirasakan Louisse adalah badannya panas, pusing, muntah, batuk dan bersin-bersin. Kalau Loewy positif dengan CT 37, dan tinggal 2 poin sekian sudah sembuh, nggak ada demam dan lain-lain. Di hari kelima ini mami sudah lebih segar lagi batuk sudah hampir nggak ada.

Sempat mami kepikiran, menyusui baby kita saat kita sendiri sedang positif Covid19 itu aman nggak? Di 2 hari awal positif itu langsung drop dan mami nggak menyusui sama sekali, alhasil ASI mami seret banget padahal stok ASI untuk si Kembar udah menipis. Akhirnya mami konsultasi dengan salah satu doker di Singapura, mami disarankan untuk tetap memberikan ASI tapi ada aturannya nggak boleh sembarangan.

Aturan memberikan ASI saat positif Covid19

  1. Sering mencuci tangan pakai sabun di bawah air mengalir, dan selalu bawa alkohol ketika keluar kamar isolasi
  2. Mandi yang bersih agar badan steril dari virus/bakteri
  3. Gunakan baju bersih setelah mandi, jangan gunakan baju yang telah dipakai tidur
  4. Gunakan masker 2 lapis
  5. Jangan terlalu lama bersama baby
  6. Jangan mencium baby
  7. Setelah menggunakan ruangan menyusui semprot dengan alkohol agar steril kembali
  8. Kalau untuk memompa susu, juga sama aja ya moms. Sebelum peralatan memompa digunakan semprot peralatan tersebut dengan alkohol agar steril

Nah itu dia aturan dalam memberikan ASI ketika kita sedang positif Covid19 moms. Jadi nggak ada salahnya kita tetap memberikan ASI pada baby karena ASI adalah perlindungan utama untuk bayi kita agar imunnya lebih kuat dan lebih kebal, dan itu sudah terbukti pada mami, setelah 3 minggu mami terinfeksi Covid19 mami tetap menyusui si Kembar dan alhasil mereka sama sekali tidak terinfeksi Covid19 dan sehat. Tapi kalau sampai gejala yang kita alami sangat parah, lebih baik stop dulu ya moms, kalau gejalanya sudah ringan baru kita mulai menyusui baby kita lagi.

Covid 19 · Review Produk

Cara Membersihkan Rumah dari Virus. Jangan Pakai Alkohol!

Di saat pandemi Covid-19 penggunaan disinfektan atau pembersih perabotan rumah tangga yang berbahan dasar alkohol menjadi salah satu pilihan untuk membersihkan rumah atau perabotan rumah agar rumah kita terbebas dari virus, kuman dan bakteri berbahaya salah satunya adalah virus Covid-19. Berdasarkan faktanya, Covid-19 memang dapat menempel di semua benda dalam kurun waktu tertentu sehingga untuk membersihkan rumah dan perabotan rumah tangga menjadi hal yang lumrah atau wajib. Tapi sayangnya, disinfektan atau pembersih rumah tangga yang berbahan dasar alkohol ternyata memiliki berbagai macam resiko. Seperti masalah kesehatan dan kebakaran.

Kita enggak mau kan sampai ada resiko masalah kesehatan dan kebakaran menimpa di keluarga kita. Nah berikut adalah hal yang harus kita hindari ketika menggunakan disinfektan yang berbahan dasar alkohol :

1. Jangan Campur Alkohol dengan Pemutih

Di saat pandemi ini mungkin di antara kita semua juga sempat tahu, ada sebuah merek pemutih yang sempat laris manis dan dicari-cari sebagai disinfektan yang dapat membunuh penyebaran virus, kuman dan bakteri salah satunya adalah Covid-19. Jadi salah satu merek pemutih ini memiliki kandungan sodium hypochlorite dengan konsentrasi 2.5%. Jadi dengan kandungan ini terbukti mampu untuk membunuh virus salah satunya Covid-19 di permukaan benda, sama halnya dengan alkohol.

Jadi banyak orang berpikir seperti salah satunya mommy, alkohol itu bagus, pemutih juga bagus untuk membunuh virus, kalau gitu alkohol dan pemutih dicampur aja jadi 1 biar efeknya makin bagus, biar rumah makin kinclong dan bersih dari Covid-19. Tapi moms, jangan pernah mencampur alkohol dengan pemutih, ini adalah kesalahan besar banget.

Ketika kita mencampur alkohol dengan pemutih itu akan menghasilkan kloroform. Kloroform ini bisa menghasilkan senyawa beracun yang mengeluarkan asap berbahaya dan korosi. Menurut pusat pencegahan dan pengendalian penyakit Amerika Serikat (CDC), dengan kita menghirup kloroform akan menyebabkan kerusakan sistem pusat hati dan ginjal, menyebabkan iritasi pada mata, kulit, paru-paru, hidung, menyebabkan mual dan juga pusing. Jadi jangan pernah mencampur alkohol dengan pemutih.

Kalau memang tetap menjadi pilihan kita bisa menggunakan 1 per 1. Misalnya hari ini kita mau menggunakan pembersih yang berbahan dasar alkohol, jadi alkohol aja. Kalau kita hari ini mau menggunakan disinfektan berbahan dasar pemutih dengan air, boleh pakai aja. Tapi jangan dicampur ya moms, bahaya.

2. Jangan Digunakan atau Disimpan Dekat Api

Jadi kandungan etil alkohol dalam sebuah pembersih tangan aja cukup tinggi, sekitar 60%. Yang mana kandungan ini adalah bahan kimia yang sangat mudah terbakar. Maka jauhkan dari jangkauan anak-anak, jangan disimpan di dekat api, jangan di dekat kompor, jangan gunakan ketika ada orang yang sedang merokok karena itu berbahaya banget moms.

3. Jangan Digunakan saat Jendela Tertutup

Jadi moms kandungan isopropil pada alkohol sifatnya mudah menguap sehingga dia akan menghasilkan asap yang cukup berbahaya. Jadi ingat ketika kita membersihkan rumah kita dengan alkohol entah itu dengan spray atau dilap, jangan lupa untuk membuka jendela kita. Jangan digunakan pada saat jendela tertutup atau tidak ada ventilasi karena itu dapat menimbulkan masalah kesehatan.

4. Jangan Gunakan Alkohol Ke Beberapa Permukaan Benda Berikut

Jadi meskipun alkohol merupakan bahan disinfektan super yang dapat membersihkan meja, laptop, handphone dan lain-lain tapi ternyata ada permukaan benda yang harus kita hindari, yaitu perabotan rumah tangga kayu yang sudah dicat halus bahkan yang sudah dipernis dengan rayon, wol dan sutra salah satunya adalah interior mobil.

Jadi di saat pandemi Covid-19 bepergian dengan mobil itu adalah hal yang pasti ya moms, dan untuk membersihkan mobil itu adalah hal yang wajib juga untuk kita semua agar terbebas dari kuman, virus, bakteri berbahaya salah satunya adalah Covid-19. Tapi jangan pernah menyemprot atau membersihkan interior mobil dengan alkohol terutama pada bagian material kulit asli, kulit sintetis bahkan yang berbahan plastik vinyl sampai aksen kayu, apalagi trim yang sudah dicat. Jadi semuanya itu punya sifat yang berbeda dengan perabotan rumah tangga.

Jadi ketika kita membersihkan dengan alkohol entah itu kulit asli, sintetis, plastik vinyl sampai aksen kayu itu dapat membuat warna interior mobil itu jadi cepat pudar. Kalau sampai kena trim yang sudah dicat dapat membuat keretakan. Lalu bagaimana cara membersihkannya agar benar-benar bersih? Cukup pakai air dan sabun aja itu sudah bersih kok.

5. Jangan Gunakan Alkohol untuk Membersihkan Luka

Jadi mungkin kita sering melihat dokter itu selalu mensterilkan alat medisnya dengan alkohol yang mengandung isopropil yang dimana memiliki sifat antiseptik. Tapi jangan pernah menggunakan pembersih yang berbahan dasar alkohol untuk membersihkan luka kita. Karena dengan kita menggunakan alkohol untuk membersihkan luka itu akan memberikan sensasi terbakar pada kulit kita. Membersihkan luka dengan alkohol itu juga dapat memicu jaringan sehat pada kulit jadi ikut rusak, penyembuhan luka menjadi lambat, akan juga menyebabkan kulit kita menjadi kering dan menyebabkan iritasi.

6. Jangan Tertelan

Pembersih alkohol walaupun yang tertelan dalam dosis yang sangat sedikit aja itu dapat menyebabkan keracunan. Jadi di saat pandemi Covid-19 ini di seluruh dunia itu kasus keracunan akibat perabotan rumah tangga seperti disinfektan atau hand sanitizer meningkat hingga 20% dan korbannya kebanyakan adalah anak-anak usia di bawah 5 tahun. Menurut ahli Pediatric Cleveland mengatakan pembersih rumah tangga yang berbahan dasar alkohol ketika tertelan itu dapat menyebabkan gangguan pada fungsi otak, mual, muntah bahkan penafasan.

Nah itu tadi adalah 6 hal yang harus kita hindari ketika kita menggunakan disinfektan atau hand sanitizer berbahan dasar alkohol. Nah mommy pribadi setelah pengalaman dengan alkohol agak serem ya moms, karena ada kasus kebakaran akibat membersihkan rumah dengan alkohol, kemudian yang paling parah ketika mommy menggunakan hand sanitizer di tangan kulit mommy iritasi bahkan kering banget.

Maka dari itu mommy pribadi sekarang beralih ke disinfektan yang baru yaitu Germ Killer. Ini water base dan dia ada bahan kimia kandungan QUATS (Quaternary Ammonium Compounds) yang mana bahan disinfektan untuk membunuh virus ini dalam kategori yang aman, jadi enggak sekeras alkohol ya moms.

Good newsnya Germ Killer ini sebenarnya sudah dikembangkan dari tahun 1999 untuk konsentrasinya membunuh virus dan sudah tersertifikasi membunuh virus Gram Positive Bacteria, Gram Negative Bacteria, Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA), Mould & Mildew dan yang terakhir adalah Human Coronavirus. Jadi Human Coronavirus ini adalah induknya dari coronavirus dan sertifikat dimana Germ Killer ini dapat membunuh Covid-19 yang sekarang ada, itu akan keluar sekitar bulan Oktober 2020.

Kalau dari mommy pribadi setelah menggunakan Germ Killer yang mommy suka, dia itu enggak menimbulkan percikan api, jadi resiko kebakaran lebih minim. Kemudian Germ Killer ini, disinfektannya mommy semprot ke benda-benda di sekitar seperti tempat duduk toilet atau perabotan rumah tangga, akan membuat perabotan rumah tangga dalam kurun waktu 24 jam tetap terlindungi dari virus. Dan tentunya Germ Killer ini dapat membunuh 99.99% virus di sekitar kita.

Covid 19 · Kesehatan · Review Produk

Tips Hunian Sehat untuk Mencegah Covid-19 Klaster Keluarga. Virus Bakteri Hilang dalam Sekejap

WHO atau lembaga kesehatan dunia yang memiliki otoritas terhadap kesehatan penduduk di seluruh dunia telah mengeluarkan fakta bahwa ternyata virus Covid-19 dapat menyebar melalui udara. Jadi sebenarnya moms fakta dari WHO ini agak sedikit terlambat ya, karena faktanya banyak sekali orang-orang yang sudah terinfeksi Covid-19 melalui udara. Kita lihat salah satunya di Indonesia terutama di kota besar, seperti Jakarta, setelah pemerintah membuka kembali PSBB lalu diberlakukannya sistem new normal entah itu dalam sistem ekonomi, bisnis, kantor, pabrik, restoran, mall dan lain sebagainya kita bisa lihat peningkatan jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 makin melonjak setiap harinya. Kenapa? Ini karena adanya media penyebaran melalui udara yang sering sekali kita abaikan.

Virus Covid-19 yang menyebar melalui udara paling cepat ditularkan lewat mana?

Virus Covid-19 ini dapat ditularkan melalui udara dan paling cepat di ruangan tertutup apalagi ber AC, seperti di rumah, di dalam kendaraan, di kafe, di restoran, di kantor, di mall pokoknya di ruangan tertutup dan ber AC. Jadi ketika ruangan tertutup dan memiliki AC, media penyebaran Covid-19 ini selain melalui udara dan droplet atau percikan, ternyata Covid-19 juga bisa menyebar lewat aerosol (partikel cair atau padat yang melayang di udara) yang berputar di ruangan tertutup karena dorongan dari blower AC.

Contoh: masih ingat enggak dengan kejadian di starbuck Paju Korea yang sempat heboh banget, yang mana di starbuck Paju Korea ini memunculkan jumlah orang yang terinfeksi sebanyak 55 orang. Kok bisa? Jadi, ternyata ada 1 orang OTG yang menghabiskan 2-2,5 jam di starbuck Paju Korea ini. Dia berbincang dengan teman dia, membuka masker sambil minum kopi, ngobrol dan dia duduk di depan AC sedangkan di starbuck itu sendiri terpasang 5-6 AC, otomatis perputaran udara cepat. Dan kebetulan di Korea sedang masuk musim kemarau yang otomatis ventilasi kurang bagus. Menurut para ahli, infeksi yang ditularkan 1 OTG ini bisa memunculkan 55 orang yang terinfeksi virus mengacu pada aerosol. Namanya dia berbincang, droplet keluar, nah ada agent penularnya si aerosol ini yang melayang-layang di udara, dan si droplet ini akan masuk ke aerosol tersebut. Si aerosol yang sudah memiliki droplet yang mengandung virus Covid-19 dibantu menyebar dengan cepat karena adanya perputaran udara dari blower AC. Pada saat itu lah virus masuk ke tubuh, sehingga enggak mengherankan ketika muncul 55 orang terinfeksi virus dari 1 OTG. Yang terinfeksi ini adalah pengunjung semua ya moms, sedangkan pegawainya enggak kena karena mereka pakai masker. Jadi memang penyebaran Covid-19 melalui udara itu paling cepat deh moms.

Dan sekarang ini ada fakta yang enggak kalah mengejutkan, yaitu penyebaran Covid-19 dari klaster keluarga yang memberikan kontribusi paling tinggi. Awalnya, keluarga menjadi tempat paling aman untuk kita, tapi sekarang keluarga menjadi salah satu penyumbang jumlah terbanyak orang terinfeksi Covid-19 karena tuntutan pekerjaan dan lain sebagainya, yang mengharuskan kita keluar dan kemungkinan besar kita pulang dengan membawa virus ke rumah. Dan akhirnya menyebarkan virus tersebut ke keluarga kita di rumah.

Jadi apa yang harus kita lakukan untuk mencegah penularan di dalam keluarga?

1. Menjaga jarak

Menjaga jarak tetap harus dilakukan walaupun di rumah. Misalkan suami mommy flu, walaupun itu hanya flu biasa mommy tetap jaga jarak. Suami harus mengisolasi diri di kamar sendiri, kalau keadaan sudah membaik, sudah sehat kembali baru kita kumpul-kumpul lagi.

2. Pakai masker

Jadi misalkan ada anggota keluarga yang sedang tidak enak badan walaupun itu hanya flu, dia harus menggunakan masker. Kita menjaga agar anggota keluarga kita yang sakit, tidak mengeluarkan droplet yang bisa menempel di permukaan benda-benda yang ada di rumah. Usahakan kalau misalnya orang di rumah kita sudah memiliki gejala ringan seperti flu, bapil atau pusing langsung pakai masker ya moms.

3. Rajin cuci tangan

Ini adalah kunci dari kesehatan keluarga ya moms. Jadi usahakan sebelum menyentuh benda-benda di rumah atau melakukan aktivitas di rumah, atau kita habis bepergian dari luar langsung cuci tangan.

4. Olahraga dan makan yang sehat

Olahraga itu juga penting ya moms, even kita hanya #dirumahaja kita bisa cari aktivitas yang dapat mengeluarkan keringat. Dan jangan lupa makan makanan sehat yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita.

5. Gunakan purifier

Untuk menjaga sirkulasi udara di rumah, itu menjadi poin penting untuk mencegah penyebaran Covid-19 melalui udara. Menjaga sirkulasi udara di rumah memang enggak gampang ya moms, karena namanya juga di rumah pasti tertutup dan panas sedikit kita menggunakan AC, ventilasi juga kurang bagus. Nah cara untuk mengatasinya adalah kita harus memiliki alat yang dapat memfilter udara di ruangan tertutup terutama di rumah kita agar sirkulasi udara di rumah kita tetap bagus. Maka dari itu mommy menggunakan Notale Air Purifier.

Kenapa harus Notale Air Purifier?

a. Warnanya elegan banget

b. Harganya pas banget di kantong. Jadi alat ini bisa digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama dengan harga Rp. 1.690.000.

c. Memiliki kelebihan teknologinya. Teknologi yang digunakan di purifier Notale Air ini adalah UV sterilizer dan 3 in 1 HEPA filter yang dapat membunuh, mengangkat dan memfiltrasi virus bakteri kuman penyakit bahkan polusi udara lainnya. Cara kerja dari Notale Air ini adalah ada lampu indikator. Jadi ketika udara di sekitar kotor, lampu indikatornya akan berubah warna. Yang mommy rasakan setelah menggunakan Notale Air purifier ini adalah udara lebih fresh di rumah. Purifier Notale Air ini, kalau mommy masak asapnya cepat diserap moms.

d. Selain itu menu di Notale Air ini bisa dilock ya moms, jadi anak-anak kalau main-mainin purifiernya, pengaturannya enggak akan berubah.

e. Kalau kita gunakan dengan mode malam hari ini enggak berisik dan enggak ganggu kita tidur.

f. Selain itu, purifier Notale Air ini berbeda dengan purifier yang lain ya moms. Biasanya purifer itu menggunakan air, jadi kita harus isi tapi kalau purifier Notale Air ini kita enggak perlu masukkan air, kita cukup maintenance 6 bulan sekali ganti filternya.

g. Notale Air purifier ini juga memiliki aplikasi yang mana kita atur dari jarak jauh.

Itu dia cara bagaimana kita mencegah penyebaran Covid-19 melalui udara. Stay safe semua!

Covid 19 · Seputar Program Bayi Tabung

Program Bayi Tabung di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 ini membuat proses tatap muka antara dokter dan pasien semakin terbatas ya, moms. Kunjungan ke rumah sakit dibatasi, mengingat rumah sakit juga bisa menjadi tempat penularan virus yang potensial menjadi infeksi dan fatal.

Hal ini pun juga berdampak pada program bayi tabung. Proses ini memerlukan serangkaian tahapan agar berhasil mencapai kehamilan dan kelahiran yang sehat. Dengan adanya pandemi Covid-19 membuat proses tersebut terhambat karna tatap muka antara dokter dan calon orangtua semakin terbatas

Program bayi tabung sendiri merupakan usaha alternatif untuk mendapatkan kehamilan, bagi pasangan yang kesulitan memperoleh buah hati. Program bayi tabung dilakukan dengan pembuahan di luar rahim ibu atau IVF. Untuk memiliki buah hati tentunya tidak terduga dan tidak bisa ditunda ya, moms. Terlebih lagi khsusnya wanita yang memiliki keterbatasan.

Seperti saya sendiri contohnya, tentunya mendapatkan banyak contra ketika memutuskan untuk memiliki anak ketiga di tengah pandemi ini. Tapi, jika ditunda terlalu lama, akan memungkinkan untuk tidak memiliki kesempatan itu lagi lho, moms.

Bagi mommy – mommy yang memiliki pengalaman dan keluh kesah yang sama, berikut saya bagikan tips aman untuk melakukan proses bayi tabung di tengah pademi Covid-19!

  1. Tubuh Harus Fit

Jadi moms, ketika kita memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung yang berlangsung selama kurang lebih 1 bulan, selama itu juga kita harus berkomitmen untuk menjaga kesehatan kita dan melakukan healthy life style agar proses dari program bayi tabung di tengah pandemi ini tidak sia – sia.

Karna, ketika kita akan mendaftarkan diri ke rumah sakit untuk mengikuti proses bayi tabung, hal pertama yang akan ditanyakan oleh pihak rumah sakit adalah kesehatan kita terlebih dahulu. Jika dalam 14 hari terakhir kita dalam keadaan fit, maka kita akan melanjutkan ke step selanjutnya. Melainkan, jika dalam 14 hari terakhir kita dalam keadaan tidak fit, maka pada saat itu juga kita dinyatakan gugur dan tidak bisa melanjutkan proses bayi tabung.

  1. Pakai Masker

Untuk ke rumah sakit tentunya memakai masker dan atribut kesehatan lainnya menjadi hal yang sangat penting ya, moms. Bukan hanya menjaga kesehatan, tetapi memakai masker saat ini juga merupakan hal prioritas bagi kita untuk berkunjung ke rumah sakit yang menjadi media menyebaran virus. Jika tiba – tiba kita terkena virus dan tidak memakai masker, otomatis kita tidak akan bisa melakukan program bayi tabung lho, moms!

  1. Melalui Proses Screening

Tidak berbeda dengan prosedur untuk masuk ke tempat perbelanjaan dan yang lainnya, rumah sakit pun menjadi salah satu tempat terpenting untuk mengadakan proses screening dan mencuci tangan dengan hand sanitizer sebelum masuk. Ketika kita sudah screening dan ternyata hasilnya adalah suhu kita tinggi atau demam maka kita tidak bisa masuk lho, moms.

  1. Social Distancing

Point ini merupakan point yang sudah tidak jarang kita dengar di tengah pandemi ini ya, moms. Sama seperti tempat dan rumah sakit lainnya, RS Morula Menteng juga kerap melakukan social distancing dari ruang tunggu, bagian administrasi, maupun bagian farmasi, jadi pastikan jarak kalian aman dan tidak dekat dengan pasien yang lain ya, moms!

  1. Bersedia Melakukan Rapid Test

Tips yang satu ini tidak kalah penting ya, moms. Untuk mengikuti proses bayi tabung, sebelum dan selama proses ini juga kita harus bersedia untuk melakukan Rapid Test atau test Covid-19. Penting sekali untuk melakukan Rapid Test ini agar proses bayi tabung pun tidak sia – sia untuk dilakukan ya, moms.

  1. Selama Embrio Transfer, Tidak Bisa ditemani Suami

Biasanya ketika melakukan embrio transfer, kita sebagai istri pasti akan bisa ditemani oleh suami ya, moms. Tetapi kali ini berbeda dengan adanya pandemi Covid-19, rumah sakit memiliki kebijakan bahwa suami tidak diperkenankan untuk menemani kita.

That’s all seluruh tips aman untuk mengikuti proses bayi tabung di tengah pandemi Covid-19! So untuk mommy – mommy yang ingin melakukan proses bayi tabung di tengah pandemi, apakah sudah siap menjalankan keseluruhan prosedur nya sendiri? Semoga membantu dan semoga cepat positif hamil ya, moms!

For more information : Instagram = @Louissescarlett and @loewyaxell

#Parenting #MomsMilennial #YoutuberAnak #MainanAnak #TipsBayiTabung #MPASI

Covid 19

Cegah Corona dengan Masker Kain Non Medis? Ini Tips nya!

Hi, moms! Di tengah pandemi Covid-19 ini, pemerintah menganjurkan masyarakat menggunakan masker untuk meringankan penyebaran virus corona. Penggunaan masker ini sangat penting untuk mencegah penularan Covid-19, terutama dari penderita yang terinfeksi virus corona tanpa gejala atau bergejala ringan.

Namun, semakin tinggi dan melonjaknya harga masker medis di pasaran, membuat WHO atau organisasi kesehatan di dunia telah mendukung kebijakan pemerintah yang menganjurkan masyarakat untuk menggunakan masker non medis atau masker kain.

Masker medis atau masker bedah sekali pakai diprioritaskan bagi pekerja medis dan orang sakit. Sedangkan masyarakat disarankan untuk menggunakan masker kain atau masker nonmedis saat keluar rumah.

Nah, berkaitan dengan himbauan pemerintah dan sejumlah otoritas kesehatan resmi dari berbagai negara untuk menggunakan masker tersebut, belakangan ini sudah beredar cara membuat masker di pasaran seperti memanfaatkan kaus, bandana, sampai syal tanpa dijahit lho, moms!

Beberapa dari mereka membuat masker kain menggunakan mesin jahit dengan beragam model atau desain. Agar mommy tidak bingung memilih model masker kain, bahkan bahan masker kain, kita cari tahu yuk, bagaimana sih tips memilih masker kain yang tepat?

  1. Carilah Masker Kain yang Memiliki 3 Lapis atau Lebih

Kita tahu bahwa masker yang aman harus memiliki 3 lapisan di dalamnya seperti layaknya masker medis agar semakin aman untuk menghindari droplet ya, moms.

  1. Carilah Masker Kain yang Dapat Menahan Droplet

Selain tips yang pertama, tips ini juga tidak kalah pentingnya untuk memilih masker kain yang dapat menahan droplet. Tapi, jika masker kain nya sendiri memang tidak ada yang menahan droplet bagaimana, moms?

Nah, seringkali masyarakat menggunakan tissue atau kain untuk dimasukkan ke dalam masker kain 3 lapis untuk menahan droplet, padahal tindakan tersebut tidaklah maksimal lho, moms! Setelah saya lakukan eksperimen uji coba dengan kedua benda tersebut, hasilnya adalah droplet masih bisa tembus dengan kain maupun tissue yang tebal.

Solusinya adalah, sebaiknya mommy menggunakan filter non woven seperti yang digunakan di dalam masker medis. Filter ini benar – benar mampu menahan droplet dan tidak mudah terbakar sehingga sangat baik digunakan untuk kita di tengah pandemi Covid-19 ini.

Memutus rantai penyebaran Covid-19 bukan hanya tanggung jawab tim medis lho, moms! Kita juga wajib memenuhi tanggung jawab untuk memutus rantai penyebaran virus corona dengan hanya memakai 1 masker kain yang dilapisi filter non woven ini.

Yuk, sama – sama kita memutus rantai Covid-19 dengan mengganti pemakaian masker medis menjadi masker non medis dengan tips ini, agar Covid-19 atau virus corona segera berakhir! Stay Safe, moms!

For more information : Instagram = @Louissescarlett and @loewyaxell

#Parenting #MomsMilennial #YoutuberAnak #MainanAnak #TipsBayiTabung #MPASI

Covid 19 · Motherhood

15 Tips Vaksin Anak di Tengah Pandemi Covid-19

Setelah menahan diri untuk tetap #dirumahaja selama kurang lebih 2 bulan, akhirnya pada hari Selasa 28 April 2020, saya memutuskan untuk membawa kedua anak saya vaksin ke rumah sakit.

Nah, jadi berikut ini adalah tips dari saya untuk membawa anak vaksin ke rumah sakit agar tetap aman dan tidak pulang dengan membawa virus!

1. Carilah Rumah Sakit yang Paling Dekat dengan Rumah Kalian

Saya sarankan agar kalian mencari rumah sakit terdekat dengan rumah kalian yang khusus atau spesialis untuk ibu dan anak ya, moms. Jadi, anak kita tidak terkontaminasi dengan pasien – pasien yang memiliki penyakit serius. Saya sendiri memilih RS Grand Family PIK, dan saya sangat suka membawa anak – anak kesana. Karna, di tengah pandemi Covid-19 ini, RS Grand Family PIK menyediakan 2 gedung terpisah antara ibu dan anak yang sakit, dan 1 gedung lainnya adalah khusus ibu dan anak yang ingin datang hanya untuk vaksin. Jadi, pastikan rumah sakit yang kalian pilih aman ya, moms!

2. Mendaftar Terlebih Dahulu di Rumah Sakit

Walaupun nomor antrian biasanya sesuai kedatangan, tetapi sebelum datang ke rumah sakit, biasanya saya akan mendaftar terlebih dahulu ya, moms, agar meminimalisir anak – anak kita terkontaminasi dengan udara rumah sakit hingga terkena virus.

3. Pakai Hand Sanitizer & Masker

Jadi, pada saat kita akan pergi ke rumah sakit untuk daftar, jangan lupa tetap menggunakan masker dan hand sanitizer ya, moms! Pastikan kita tetap menjaga aman diri kita dari infeksi virus dan bakteri di sekeliling rumah sakit.

4. Pastikan Anak Sudah Kenyang

Hal ini sangat penting ya, moms. Bukan hanya untuk kita sebagai orang dewasa, hal ini lebih penting lagi untuk anak – anak. Kita harus memastikan agar perut mereka sudah kenyang, tidak lapar atau haus ketika di rumah sakit, agar meminimalisir aktivitas mereka yang mengharuskan untuk membuka dan menutup masker. Jadi, tetap waspada ya moms!

5. Berikan Vitamin pada Anak

Tips yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan vitamin pada anak. Bukan hanya orang dewasa, imunitas yang baik pada anak juga dibutuhkan untuk menjaga kekebalan tubuh mereka ya, moms. Terlebih lagi ketika kita akan mengunjungi rumah sakit. Sangat penting untuk memberikan vitamin terlebih dahulu kepada anak – anak.

6. Pakai Masker

Bukan hanya kita saja yang menggunakan masker, jangan lupa, anak kita harus pakai masker juga ya moms, agar tetap aman dari virus dan kontaminasi udara di rumah sakit!

7. Pakaikan Popok kepada Anak

Walaupun si kecil sudah potty training, tetapi penggunaan popok sangat diperlukan ketika ingin mengunjungi rumah sakit di tengah pandemi ini lho, moms. Kita harus cerdas memberikan pengertian kepada si kecil agar meminimalisir terjadinya penyebaran virus Covid-19 kepada anak kita moms.

8. Pakai Hand Sanitizer Khusus Anak

Jadi, penting sekali menggunakan hand sanitizer khusus untuk anak – anak ya moms. Saya sendiri menggunakan sanitizer khusus dari Buds untuk kedua baby saya agar mereka tetap aman berkunjung ke rumah sakit.

9. Pakai Acquassimo

Acquassimo ini sudah menjadi sahabat keluarga saya, sehingga ini menjadi benda penting yang harus dibawa untuk menyemprot benda – benda sekitar seperti kursi rumah sakit yang akan kita duduki bersama anak – anak ya, moms.

10. Bawa Disinfectant Spray

Nah, ini merupakan tips yang tidak kalah pentingnya ya moms. Saya sendiri ketika di rumah sakit membawa disinfectant spray Lavme untuk menyemprotkan ke seluruh ruangan di ruang tunggu rumah sakit, agar virus atau bakteri yang mungkin ada di ruangan tersebut tidak sempat terinfeksi ke diri kita maupun anak – anak moms.

11. Edukasikan kepada Anak – anak Sejak Dini

Penting sekali untuk meng-edukasi anak – anak kita mengenai pandemi Covid-19 ini ya moms, agar mereka aware dan turut mengikuti budaya kita untuk mencegah penyebaran virus corona, sehingga mereka tidak akan say “No” ketika kita ajak untuk hidup bersih menggunakan masker maupun hand sanitizer.

12. Cari Ruangan yang Tidak Terlalu Banyak Orang

Kita sebagai mommy harus kembali cerdas dan jeli ya moms. Terlebih lagi di rumah sakit merupakan sarana yang banyak dikunjungi oleh orang sakit. Sebaiknya kita menghindari keramaian ketika membawa anak – anak, melainkan kita harus mencari ruangan yang agak sepi dan tidak terlalu ramai untuk meminimalisir penyebaran virus Covid-19 kepada kita dan anak – anak.

13. Langsung Pulang Setelah Vaksin

Jangan berlama – lama di rumah sakit ya, moms. Setelah nomor antrian kita dipanggil dan sudah masuk ke ruangan dokter untuk melakukan vaksin, sebaiknya kita segera ajak anak – anak untuk meninggalkan rumah sakit agar mereka tidak terkontaminasi udara luar dalam waktu yang cukup lama.

14. Ganti Baju Anak

Setelah kita sudah membawa anak – anak keluar dari rumah sakit dan masuk mobil, step selanjutnya adalah mengganti baju mereka agar tetap higienis ya moms. Kita tidak tahu virus apa saja yang sudah menempel di baju anak – anak kita melalui udara, sebaiknya kita cegah dengan cara mengganti baju mereka sebelum sampai di rumah.

15. Langsung Mandi

Nah, ketika sampai di rumah, ini merupakan tips finishing ya moms. Walaupun baju anak – anak sudah diganti di mobil, tetap harus mandi baik mommy maupun anak – anak, agar kebersihan kita tetap terjaga ya moms.

That’s all 15 tips vaksin anak di tengah pandemi versi saya. Menjaga kesehatan untuk #dirumahaja sangat penting ya, moms. Tetapi untuk mengikuti rangkaian kegiatan vaksin si kecil juga harus diperhatikan lho, moms. Semoga tips ini dapat bermanfaat untuk mommy – mommy yang ingin mengajak si kecil untuk vaksin ya, moms!

See you di next “CurcolYukMoms”!

For more information : Instagram = @Louissescarlett and @loewyaxell

#Parenting #MomsMilennial #YoutuberAnak #MainanAnak #TipsBayiTabung #MPASI