Ibu Menyusui

Mengenal Extended Breastfeeding, Menyusui Bayi Lebih Lama dari Biasanya

Moms, pernahkah mendengar tentang praktik extended breastfeeding? Atau justru Moms sedang melakukannya saat ini? Untuk lebih jelasnya, berikut ini penjelasan seputar extended breastfeeding yang perlu Busui ketahui.

Mengutip dari penjelasan di laman Healthline, istilah extended breastfeeding sebenarnya memiliki arti yang berbeda, tegantung pada siapa Anda, di mana Anda tinggal, dan kepada siapa Anda bertanya.

Dalam beberapa budaya, disebut extended breastfeeding yaitu jika ibu menyusui bayi lebih dari 2 tahun. Sementara itu, ada pula yang menyatakan extended breastfeeding yaitu ketika kegiatan menyusui sudah melewati tahun pertama kehidupan bayi. 

Mayoritas organisasi kesehatan besar merekomendasikan agar ibu menyusui bayi selama minimal 12 bulan. Namun, banyak pula profesional kesehatan yang merekomendasikan lebih lama dari itu. 

Masih mengutip dari Healthline, inilah pernyataan organisasi kesehatan besar tentang praktik extended breastfeeding

  • Academy of American Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar bayi disusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama, lalu lanjut setidaknya selama 1 tahun. Setelah itu, AAP merekomendasikan kegiatan menyusui bisa dilakukan selama ibu dan bayinya masih sama-sama menginginkan. 
  • World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi, kemudian ibu bisa terus menyusui bayi selama 2 tahun bahkan seterusnya. 
  • American Academy of Family Physicians (AAFP) merekomendasikan untuk terus menyusui setidaknya selama 1 tahun, dan mengatakan bahwa kesehatan ibu dan bayi akan optimal bila menyusui berlanjut setidaknya selama 2 tahun.

Itulah, Moms, tentang praktik extended breastfeeding. Nah, kalau Moms sendiri apakah melakukan extended breastfeeding sampai usia si kecil di atas 2 tahun?

Ibu Menyusui

10 Tips Jika Moms Ingin Melakukan Donor ASI, Catat!

Donor ASI merupakan sebuah kegiatan yang sah-sah saja dilakukan asalkan sesuai dengan persyaratan yang berlaku. Lagi pula, menjadi pendonor ASI adalah pekerjaan yang mulia karena dapat membantu bayi yang membutuhkan asupan ASI.

Jika memiliki stok ASI yang berlebih, Moms bisa saja, lo, menjadi pendonor ASI. Namun, sebelum melakukan donor ASI, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan, agar ASI yang didonorkan dalam kondisi atau berkualitas baik. Oleh karena itu, Moms diharapkan dapat menjaga dan menerapkan pola hidup bersih serta sehat.

Melansir dari situs theAsianparent Indonesia, adapun tips-tips jika ingin melakukan donor ASI di antaranya:

  1. Tidak mengonsumsi alkohol
  2. Tidak merokok atau menggunakan produk tembakau atau obat-obatan rekreasional ilegal
  3. Tak memiliki tato, tindik badan, atau riasan permanen
  4. Tidak memiliki pasangan seksual yang berisiko
  5. Mengonsumsi makanan sehat dan tidak menyebabkan alergi (khusus bagi pendonor yang memiliki alergi)
  6. Pendonor ASI harus mendapatkan pelatihan tentang kebersihan, cara memerah, dan menyimpan ASI
  7. Selalu mencuci tangan sebelum sebelum memompa ASI, pastikan menggunakan air mengalir dan sabun, kemudian keringkan dengan handuk bersih
  8. Rutin membersihkan alat pompa ASI
  9. Perah ASI di tempat bersih
  10. ASI perah harus disimpan pada tempat tertutup, botol kaca, kontainer plastik dari bahan polypropylene atau polycarbonate, botol bayi atau kantung ASI standar.

Berdasarkan panduan kesehatan, kegiatan donor ASI semestinya dilakukan melalui unit donor ASI, yang memiliki tim konsultan terlatih di bidangnya dengan standar sesuai prosedur internasional. Namun, ada pula beberapa ibu yang memiliki melakukan donor ASI atas dasar kekeluargaan dan saling percaya.

Jadi, apakah Moms berniat untuk menjadi pendonor ASI?

Ibu Menyusui

Moms Berniat Donor ASI? Ini Syarat yang Harus Diperhatikan

Moms pasti pernah mendengar soal donor ASI, atau bahkan Moms berniat melakukan maupun menerima donor ASI? Donor ASI tentu saja tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ada peraturan khusus terkait donor ASI. Di Indonesia, hukum donor ASI sudah masuk ke dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012.

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, dalam PP tersebut, berikut ini persyaratan donor ASI yang patut diperhatikan!

  • Merupakan permintaan dari ibu kandung, atau keluarga bayi
  • Ibu kandung dan keluarga si bayi mengetahui dengan jelas identitas, alamat, dan agama si pendonor
  • Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan yang baik
  • ASI tidak diperjualbelikan
  • Pemberian donor harus memperhatikan norma agama dan aspek sosial budaya
  • Menjamin mutu dan keamanan ASI yang didonorkan melalui kebersihan, cara memerah ASI, penyimpanan ASI, dan cara pemberian ASI

Selain dari PP tersebut, ada juga sederat syarat donor ASI, melansir dari situs WebMD. Adapun syaratnya yaitu:

  • Dalam kondisi sehat
  • Miliki ASI lebih dari yang dibutuhkan anak (ibu tidak boleh mengambil ASI dari bayi sendiri untuk disumbangkan)
  • Dapat membekukan ASI dalam waktu 24-48 jam setelah memompa
  • Hanya gunakan obat-obatan yang disetujui untuk donor
  • Penuhi persyaratan donasi minimum lainnya dari bank ASI atau fasilitas layanan kesehatan yang bersangkutan
  • Tidak menggunakan suplemen herbal apa pun

Pastikan ASI yang didonorkan berkualitas baik dan aman diberikan untuk bayi.

Ibu Menyusui

Penyebab Kondisi Hipogalaktia atau Produksi ASI Rendah, Simak Moms!

Kondisi hipogalaktia atau produksi ASI yang rendah bisa saja dialami oleh Moms. Biasanya, hipogalaktia terjadi pada ibu usia antara 20 hingga 50 tahun. Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, adapun gejala kondisi hipogalaktia adalah persediaan atau produksi ASI yang rendah, serta sulit menyusui bayi karena tidak ada pasokan ASI.

Lantas, apa saja penyebab kondisi hipogalaktia, ya, Moms?

Masih mengutip dari laman theAsianparent Indonesia, berikut ini beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan kondisi produksi atau suplai ASI rendah.

  • Ibu jarang menyusui bayinya.
  • Pelekatan yang buruk saat menyusui bayi.
  • Pasokan susu yang memang rendah karena kondisi medis tertentu seperti kelelahan, stres ekstrem, operasi payudara sebelumnya, hipotiroidisme, sindrom ovarium polikistik (PCOS), persalinan atau pemulihan pascapersalinan yang sulit, obat-obatan tertentu, payudara yang kurang berkembang, penyakit, kanker payudara, atau kegagalan laktasi.
  • Bayi masuk dalam fase growth spurt.
  • Menyusui dalam waktu yang singkat.

Selain itu, ada juga faktor risiko lain yang membuat seorang ibu dapat mengalami hipogalaktia. Mengutip Mayo Clinic, faktor-faktor tersebut di antaranya:

  • Kelahiran prematur
  • Penggunaan obat-obatan tertentu
  • Kanker payudara pramenopause
  • Obesitas atau terlalu mempertahankan berat badan selama kehamilan
  • Tekanan darah tinggi yang dipicu dari induksi kehamilan
  • Diabetes tipe 2, tergantung apakah insulin terkontrol dengan baik/tidak
  • Kanker ovarium
  • Ada riwayat keluarga
  • Operasi payudara yang pernah dilakukan sebelum menyusui
  • Sindrom metabolik

Itulah Moms penjelasan terkait hipogalaktia atau kondisi produksi ASI yang rendah. Apakah Moms sedang mengalami kondisi ini?

Ibu Menyusui

3 Cara Efektif Menambah Lemak Dalam ASI yang Bisa Moms Lakukan

Lemak adalah makronutrien penting dalam makanan bayi. Selain sebagai sumber energi utama dalam ASI, lemak dan metabolitnya membantu perkembangan dan pertumbuhan otak bayi. Namun, jumlah lemak dalam ASI seorang ibu bisa bervariasi sepanjang hari.

Mengutip dari situs Momjunction, pergantian kadar lemak ASI biasa terjadi dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, ada beberapa cara untuk menentukan apakah bayi Moms menerima cukup lemak dari ASI atau tidak.

Lantas, apa faktor yang memengaruhi lemak dalam ASI? Berikut ini adalah penjelasan mengenai faktor-faktor yang dapat memengaruhi komposisi lemak dalam ASI yang perlu Moms ketahui.

1. Kekosongan Payudara

Jumlah lemak biasanya berfluktuasi berdasarkan kekosongan payudara. Semakin kosong payudara, semakin tinggi kandungan lemaknya. Selain itu, hindmilk (susu yang keluar menjelang akhir) lebih kaya lemak daripada foremilk (susu yang keluar pertama kali).

2. Waktu Menyusui

ASI yang dikeluarkan pada sore dan malam hari biasanya mengandung lebih banyak lemak. Hal ini terjadi karena akumulasi bertahap lemak dalam susu sepanjang hari. Bayi mungkin lebih jarang menyusu di siang hari sejak mereka tidur siang, sehingga memberi mereka susu dengan kandungan lemak lebih banyak di sore dan malam hari.

3. Status Gizi Ibu

Jenis dan jumlah lemak yang dikonsumsi ibu diteruskan ke bayi melalui ASI. Oleh karena itu, penting bagi ibu menyusui untuk mengonsumsi makanan dengan komposisi asam lemak yang sehat.

Ibu Menyusui

Bahan Alami dan Herbal yang Dapat Meningkatkan Produksi ASI

Ibu mana, sih, yang tak ingin produksi ASInya lancar sehingga bisa lancar pula menyusui buah hatinya? Pastinya Moms juga ingin, dong.

Sebenarnya terdapat banyak cara yang dapat Moms lakukan agar produksi ASI lancar. Salah satunya yaitu mengonsumsi makanan tertentu yang memang berbahan dasar alami.

Melansir dari situs theAsianparent Indonesia, adapun beberapa makanan dan herbal tertentu yang dapat meningkatkan produksi ASI, di antaranya:

  • Bawang putih
  • Jahe
  • Fenugreek
  • Adas
  • Spirulina
  • Oat
  • Flaxseed

Tak hanya makanan dan herbal, Moms juga bisa mencoba suplemen ASI yang dijual bebas di apotek. Namun, baiknya sebelum memutuskan untuk minum suplemen penambah ASI, Moms harus konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Sebab, bisa saja yang dikonsumsi oleh Moms bisa menimbulkan efek samping pada bayi.

Ibu Menyusui

Jarang Menyusui di Malam Hari? Hati-Hati Produksi ASI Moms Bisa Berkurang

Setelah melahirkan, tugas ibu selanjutnya adalah menyusui buah hatinya. Biasanya ada jadwal-jadwal tertentu seorang ibu menyusui bayi baru lahir. Seperti pada malam hari.

Akan tetapi, seiring bertambahnya usia bayi, terkadang bayi mulai jarang menyusu di malam hari, karena mereka sudah terlatih untuk tidur sepanjang malam.

Kondisi bayi jarang menyusu di malam hari ini ternyata bisa berpengaruh pada produksi ASI Moms, loh. Ya, produksi ASI Moms bisa saja menurun.

Kok, bisa ya?

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, hal ini terjadi karena tingkat prolaktin atau hormon yang memberi sinyal pada payudara untuk memproduksi ASI cenderung lebih tinggi di malam hari.

Sementara jika Moms tidak menyusui bayi pada malam hari, ini bisa berpengaruh pada penurunan prolaktin yang dapat berkontribusi pada penurunan ASI.

Oleh karena itu, pertimbangkan untuk memberikan ASI pada bayi sesekali di malam hari agar produksi ASI Moms tidak menurun. Atau bisa juga menyusui ketika bayi terbangun dan susui bayi sambil berbaring agar tidak mengganggu siklus tidurnya.

Ibu Menyusui

Busui Makan Pedas Bikin Bayi Rewel, Benarkah?

Banyak anggapan yang muncul di kalangan masyarakat tentang ibu menyusui dilarang makan makanan pedas karena bisa berpengaruh pada kondisi bayi, misalnya bikin bayi rewel. Kira-kira benarkah hal itu?

Perlu Moms ketahui, sebenarnya hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang menjelaskan tentang efek buruk makanan pedas terhadap bayi yang menyusu pada ibunya. Termasuk pada pencernaan bayi.

Lalu, jika ibu menyusui makan pedas dikaitakn dengan membuat bayi rewel, itu pun hanya mitos. Mengutip dari Hellosehat.com, penyebab bayi rewel atau kolik bukan berarti karena makanan yang dikonsumsi ibu. Bahkan penyebab bayi kolik belum bisa dipastikan hingga saat ini.

Akan tetapi, melansir situs Mayo Clinic, kolik sering terjadi karena sistem pencernaan bayi belum sempurna, mengalami ketidakseimbangan bakteri pencernaan, atau menderita alergi makanan tertentu.

Selain itu, bayi juga bisa saja rewel karena ia kelaparan, kesepian, kelelahan, ingin digendong, ingin mengisap sesuatu, kepanasan, atau kedinginan. Jadi bukan karena pengaruh dari makanan pedas yang Moms konsumsi, ya.

Dan pastinya busui makan pedas bikin bayi rewel hanyalah mitos.

Ibu Menyusui

Mengenal Sindrom ASI Kurang yang Rentan Dialami Busui

Tak dimungkiri jika banyak ibu yang merasa jika produksi ASI-nya sedikit atau tidak bisa mencukupi kebutuhan bayi. Lantaran alasan ini membuat sang ibu memilih untuk memberikan susu formula kepada buah hatinya.

Sebenarnya, Moms, kecukupan ASI dapat dinilai dengan cara menimbang kenaikan berat badan bayi secara teratur. Bila kenaikan berat badannya masih sesuai dengan pertumbuhan normal, berarti si kecil mendapat asupan ASI yang cukup.

Selain itu, mengutip dari situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), cara lain untuk mengetahui produksi ASI Moms cukup untuk bayi adalah dengan mengamati berapa kali bayi buang air kecil. Apabila bayi hanya mendapat ASI, minimal ia buang air kecil 6 kali sehari. Tandanya bayi sudah cukup mendapat ASI.

Adapun jika Moms mengalami sindrom ASI kurang yaitu dipengaruhi oleh beberapa faktor ini:

  1. Menyusui. Posisi dan pelekatan yang salah, kurang sering, tidak mengosongkan payudara, dan menggunakan botol.
  2. Psikologis ibu yang kurang percaya diri untuk menyusui bayi.
  3. Fisik ibu yang kurang gizi, merokok, dan menggunakan alat KB hormonal.
  4. Bayi yang sakit ataupun mengalami kelainan kongenital.

Nah, kalau Moms pernah jugakah mengalami sindrom ASI kurang?

Ibu Menyusui

Perbedaan ASI Foremilk dan Hindmilk, Busui Wajib Tahu!

Air susu ibu atau ASI terbagi menjadi 2 jenis, yaitu foremilk dan hindmilk. Sudahkah Bunda tahu tentang perbedaan 2 jenis ASI tersebut?

Mengutip dari situs Alodokter, foremilk yaitu ASI yang dihasilkan dan dikeluarkan pada awal proses menyusui. Jenis ASI ini terlihat lebih encer dan bening, karena mengandung lebih banyak air dan rendah lemak. Di samping itu, foremilk mengandung laktosa yang tinggi.

Sedangkan hindmilk adalah ASI yang dikeluarkan setelah beberapa saat proses menyusui berlangsung. Konsistensi hindmilk lebih kental dibandingkan dengan foremilk.

Meskipun terbagi menjadi 2 jenis, tetapi baik foremilk maupun hindmilk sama-sama mengandung beragam nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh bayi. Seperti protein, vitamin, zat antibodi, serta mineral. Kedua jenis ASI ini sama-sama memiliki manfaat luar biasa untuk kesehatan buah hati Moms.