Ibu Menyusui

Perbedaan ASI Foremilk dan Hindmilk, Busui Wajib Tahu!

Air susu ibu atau ASI terbagi menjadi 2 jenis, yaitu foremilk dan hindmilk. Sudahkah Bunda tahu tentang perbedaan 2 jenis ASI tersebut?

Mengutip dari situs Alodokter, foremilk yaitu ASI yang dihasilkan dan dikeluarkan pada awal proses menyusui. Jenis ASI ini terlihat lebih encer dan bening, karena mengandung lebih banyak air dan rendah lemak. Di samping itu, foremilk mengandung laktosa yang tinggi.

Sedangkan hindmilk adalah ASI yang dikeluarkan setelah beberapa saat proses menyusui berlangsung. Konsistensi hindmilk lebih kental dibandingkan dengan foremilk.

Meskipun terbagi menjadi 2 jenis, tetapi baik foremilk maupun hindmilk sama-sama mengandung beragam nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh bayi. Seperti protein, vitamin, zat antibodi, serta mineral. Kedua jenis ASI ini sama-sama memiliki manfaat luar biasa untuk kesehatan buah hati Moms.

Ibu Menyusui

5 Penyebab ASI Berkurang, Busui Wajib Tahu!

Setiap ibu pastinya ingin memberikan ASI dengan kualitas yang baik untuk buah hatinya. Namun, sering kali busui mengalami hambatan dalam proses menyusui. Salah satu yang sering terjadi yaitu produksi ASI berkurang.

Apakah Moms pernah mengalami juga? Perlu Moms ketahui, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi produksi ASI berkurang. Mulai dari gaya hidup Moms hingga kebiasaan menyusu si kecil.

Melansir dari situs theAsianparent Indonesia, berikut ini sejumlah faktor yang memengaruhi produksi ASI Moms bisa berkurang.

  1. Konsumsi alkohol dan kafein secara berlebihan
  2. Penggunaan empeng yang membuat bayi jarang menyusu sehingga produksi ASI pun jadi berkurang
  3. Mengalami masalah kesehatan tertentu seperti PCOS, diabetes, hipertensi, serta lainnya yang bisa menyebabkan suplai ASI rendah
  4. Konsumsi obat tertentu, contohnya Pseudoephedrine, sejenis dekongestan yang terkandung dalam beberapa obat pilek, sinus, atau pengobatan alergi dapat menyebabkan ASI berkurang
  5. Bayi mengalami kesulitan pelekatan atau mengisap karena masalah anatomi

Selain 5 penyebab tersebut, biasanya masih ada faktor lain yang bisa memengaruhi produksi ASI Moms, seperti pola makan sehari-hari.

Ibu Menyusui

Mengenal Postpartum Insomnia atau Gangguan Tidur Setelah Melahirkan

Tidak mudah untuk menjalani peran sebagai ibu baru. Segala rutinitas baru yang Moms jalani bisa saja memengaruhi kesehatan fisik dan mental. Tak terkecuali berisiko mengalami postpartum insomnia atau sulit tidur setelah melahirkan.

Melansir dari situs Sleep Foundation, insomnia adalah gangguan tidur yang diyakini memengaruhi 10-30% orang dewasa. Termasuk dialami oleh ibu hamil hingga setelah melahirkan. Ya, ternyata sebagian besar ibu menghadapi masalah tidur setelah melahirkan.

Apa Penyebab Postpartum Insomnia?

Bayi baru lahir sering terbangun dan butuh menyusu sepanjang siang hingga malam. Tuntutan ini sering memaksa ibu untuk menyesuaikan jadwal tidur mereka, sehingga dalam banyak kasus bisa berdampak pada kurang tidur di malam hari.

Selain itu, Moms juga akan mengalami perubahan hormonal selama periode postpartum. Ini termasuk penurunan produksi progesteron, hormon seks wanita dengan sifat merangsang tidur, dan perubahan tingkat melatonin, yang diproduksi tubuh di malam hari untuk meningkatkan kantuk dan relaksasi.

Segala penyesuain itu dapat memengaruhi ritme sirkadian wanita, yang mengatur tidak hanya tidur tetapi juga suasana hati, nafsu makan, dan fungsi tubuh lainnya.

Di sisi lain, depresi pascapersalinan pun bisa menjadi kendala lain untuk tidur. Gangguan yang memengaruhi ibu baru ini dapat menyebabkan kesedihan, kecemasan, dan kelelahan yang ekstrem.

Sekitar satu dari delapan ibu hamil akan mengalami depresi pascapersalinan. Kesulitan tidur dan tidur berlebihan adalah dua gejala umum dari kondisi ini.

Insomnia bisa menjadi gejala depresi pascamelahirkan. Satu studi menemukan ibu baru yang kurang tidur memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar untuk mengalami depresi dibandingkan mereka yang memiliki kualitas tidur yang baik.

Apa Dampak Insomnia Postpartum?

Gangguan tidur pascapersalinan bisa menjadi masalah serius. Tidak hanya memiliki efek negatif pada Moms, tetapi juga berpotensi pada bayi dan suami.

Para peneliti telah menyarankan hubungan antara kesehatan perilaku ibu dan perkembangan psikososial buah hati. Lebih lanjut, penelitian menunjukkan wanita yang mengalami insomnia kronis setelah melahirkan memiliki risiko lebih tinggi mengalami nyeri pascapersalinan.

Nah, kalau Moms sendiri pernah jugakah mengalami postpartum insomnia?

Ibu Menyusui

Ibu Menyusui Minum Alkohol, Apa Dampaknya?

Jika ibu hamil dilarang minum alkohol, lantas bagaimana dengan ibu menyusui? Moms, sebaiknya ibu menyusui pun tidak minum alkohol! Mengapa demikian?

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, sebuah penelitian menemukan bahwa alkohol secara signifikan mengurangi kadar oksitosin sekaligus meningkatkan kadar prolaktin.

Apabila kadar oksitosin menurun atau rendah, maka ini bisa memengaruhi penundaan pengeluaran ASI. Pun jika semakin tinggi tingkat prolaktin, semakin lama juga penundaannya. Hal itu tentu saja menyebabkan penundaan yang signifikan dalam pengeluaran ASI.

Di samping itu, dampak busui minum alkohol pun dapat memengaruhi durasi menyusui.

Sebuah survei selama 1 tahun terhadap 587 ibu baru di Australia menemukan bahwa mereka yang minum lebih dari 2 minuman standar (10 gram atau 12,5 mL alkohol absolut) setiap hari, dua kali lebih mungkin untuk menghentikan menyusui pada 6 bulan setelah persalinan.

Itu artinya apabila Moms minum alkohol saat menyusui, bisa memengaruhi produksi ASI yang lebih sedikit, sehingga asupan ASI yang diterima oleh bayi pun jumlahnya sedikit.

Selain itu, ibu yang minum alkohol saat masih menyusui bayi pun dianggap tidak bisa merawat bayinya dengan baik. Apalagi jika minum alkohol sampai mabuk, jelas ini sangat tidak aman jika harus merawat bayi.

Oleh karenanya, Moms diharapkan tidak minum alkohol di masa-masa menyusui si kecil guna mencegah dampak-dampak buruk yang mungkin saja terjadi.

Ibu Menyusui

Busui, Ini 4 Tips Merawat Payudara Saat Menyapih

Bukan hanya kondisi si kecil yang perlu Moms perhatikan ketika menyapih, tetapi kondisi diri sendiri pun patut diperhatikan. Salah satunya yaitu bagaimana merawat payudara saat mulai menyapih si kecil.

Pasalnya, tak sedikit ibu yang mengalami permasalahan payudara bengkak hingga mastitis ketika proses menyapih. Oleh karena itu, Moms wajib tahu cara merawat payudara yang tepat agar kondisi tersebut bisa dicegah.

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, inilah cara atau tips merawat payudara saat menyapih yang bisa Moms lakukan.

1. Pijat payudara untuk mengurangi kemungkinan terjadinya mastitis.

2. Kompres dingin payudara, karena dapat membantu mengatasi rasa sakit dan peradangan. 

3. Mengoleskan minyak pappermint. Minyak ini diklaim bisa mengurangi produksi ASI saat dioleskan langsung ke payudara. 

4. Menggunakan bra yang nyaman.

Itulah Moms tips merawat payudara saat menyapih. Semoga bermanfaat, ya, informasinya.

Ibu Menyusui

Waspada Bakteri Cronobacter di Pompa ASI, Busui Wajib Tahu!

Segala peralatan yang tidak dibersihkan dengan benar dapat memicu timbulnya bakteri-bakteri yang mengancam kesehatan kita dan keluarga. Begitu juga dengan pompas ASI, nih, Moms.

Para busui wajib tahu kalau adalah salah satu bakteri yang dikhawatirkan bisa mencemari pompa ASI dan peralatan menyusui, yakni bakteri Cronobacter. Bakteri apakah itu?

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, Cronobacter sebenarnya secara alami ada di mana saja dan bisa menyerang siapa saja. Namun, infeksi bakteri Cronobacter pada bayi dapat membawa dampak yang serius.

Berdasarkan penjelasan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Cronobacter dapat menyebabkan komplikasi berbahaya bahkan meningitis pada bayi. Meski jarang terjadi, infeksi karena Cronobacter dapat mematikan bagi bayi. 

Wah, ngeri, ya, Moms!

Moms juga harus tahu, nih, jika bayi yang berusia di bawah 2 bulan sangat berisiko terkena infeksi bakteri Cronobacter. Adapun gejala awal yang dialami bayi yaitu berupa demam, tidak mau menyusu, menangis, hingga tubuhnya terlihat sangat lemas.

Oleh karena itu, agar si kecil terhindar dari infeksi bakteri Cronobacter, Moms harus selalu bersihkan pompa ASI dan alat-alat menyusui dengan benar, ya.

Ibu Menyusui

Amankah Makan Plum atau Minum Jus Plum Saat Menyusui?

Plum adalah salah satu buah yang lezat dan kaya manfaat untuk kesehatan tubuh. Namun, bagaimana jika buah ini dikonsumsi oleh ibu menyusui? Boleh atau tidak?

Melansir dari situs Mom Junction, vitamin, mineral, serat, dan nutrisi lain yang ada di dalam plum nyatanya mampu mencegah risiko perkembangan masalah kesehatan saat menyusui. Serta, membantu Moms mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.

Oleh karena itu, buah plum bisa dikonsumsi oleh ibu menyusui. Tak hanya dikonsumsi secara langsung, Moms bisa mengolahnya menjadi secangkir jus yang segar.

Minum jus plum yang segar saat menyusui membantu mencegah dan mengobati gangguan seperti sembelit.

Akan tetapi, sebagai catatan, kelebihan konsumsi buah plum atau minum jus buah plum bisa saja menimbulkan risiko kesehatan bagi si kecil yang sedang menyusu kepada Moms.

Maka dari itu, akan lebih baik jika Moms konsultasi dengan dokter terlebih dahulu terkait konsumsi buah plum saat menyusui.

Ibu Menyusui

5 Bentuk Puting, Busui Sudah Tahu Belum?

Ternyata Moms, setiap perempuan itu memiliki bentuk puting payudara yang berbeda. Mengutip dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), berikut ini beragam bentuk puting payudara yang patut Moms ketahui.

1. Puting Normal

Ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, pun tidak terbenam dalam areola. Jenis puting ini bisa mengeras jika diberi stimulasi.

2. Puting Terlalu Kecil (Under Sized Nipple)

Bentuk puting yang terlalu kecil ini memiliki ukuran sekitar 4-5 cm, termasuk daerah areola.

3. Puting Terlalu Besar (Oversized Nipple)

Jenis puting ini ukurannya lebih besar dan gembung. Serta memiliki daerah sektiar areola yang lebih besar.

4. Puting Datar (Flat Nipple)

Bentuk puting datar membuat sebagian daerah puting masuk ke dalam. Namun, dalam beberapa kondisi akan menonjol ketika diberi stimulasi.

5. Puting Terbenam (Inverted Nipple)

Bentuk puting ini masuk ke dalam, tidak menonjol ke luar. Bentuk puting ini pun terbagi menjadi dua jenis, yakni larva depressed nipple dan true depressed nipple.

Itulah Moms bentuk-bentuk puting yang dimiliki perempuan. Sekarang Moms sudah tahu, kan, bedanya?

Ibu Menyusui

Ibu Menyusui Pakai Bra Kawat, Boleh Tidak, ya?

Menjaga kesehatan selama menyusui merupakan hal penting bagi seluruh ibu, khususnya yang berkaitan dengan produksi ASI. Tidak hanya dari ‘dalam’, ternyata perawatan dari luar pun dipercaya dapat pengaruhi kuantitas produksi ASI. Misalnya, pemilihan bra.

Selama ini kita tahu, ya, Moms kalau ada beragam jenis bra yang bisa dipakai. Termasuk bra kawat atau underwire bra yang selama ini menjadi salah satu jenis bra paling banyak dipakai perempuan.

Akan tetapi, ada anggapan negatif yang muncul tentang pengguaan bra kawat, khususnya untuk ibu menyusui. Disebut jika bra kawat tidak boleh dipakai ibu menyusui karena dapat menghambat aliran ASI. Bahkan dipercaya juga bisa memicu mastitis.

Lantas, apakah ini benar atau sekadar mitos, ya, Moms?

Melansir dari Babycenter, Carmit Archibald, M.D., mengatakan jika ibu menyusui atau busui aman-aman saja kalau ingin memakai bra kawatSebab, dari sudut pandang medis, tidak akan ada masalah jika ibu menyusui mengenakan bra kawat.

“Kekhawatiran tentang penggunaan bra kawat saat menyusui berasal dari gagasan bahwa kawat dapat menghambat aliran darah dan menghambat produksi susu atau menyebabkan saluran tersumbat atau bahkan mastitis,” kata Carmit yang merupakan asisten profesor klinis Mount Sinai School of Medicine.

Carmit melanjutkan, faktanya tidak ada bukti bahwa bra kawat ini bisa menyebabkan masalah menyusui. “Itulah sebabnya konsultan kepada ahli laktasi, bidan, dan bahkan sesama ibu menyusui dapat meneruskan nasihat ini,” imbuh Carmit.

Jadi sudah jelas, ya, Moms, jika ibu menyusui boleh saja memakai bra kawat karena tidak memengaruhi produksi ASI.

Ibu Menyusui

5 Manfaat Susu Almond untuk Ibu Menyusui

Bagi Moms yang punya alergi laktosa ataupun kelompok vegan, bisa banget, nih, mengganti susu sapi menjadi susu almond untuk memenuhi asupan nutrisi harian.

Apalagi sudah jadi rahasia umum kalau susu almond adalah salah satu ASI booster yang sering dikonsumsi oleh para busui. Sebab, banyak banget manfaat yang ditawarkan susu almond kepada ibu menyusui.

Manfaat Rutin Minum Susu Almon Saat Menyusui

Mengutip dari laman Momjunction, inilah beragam manfaat kesehatan minum susu almond bagi ibu menyusui yang wajib Moms ketahui.

1. Meningkatkan Produksi ASI

Sejumlah besar asam lemak omega-3 dalam almond dapat merangsang hormon dan meningkatkan kuantitas serta kualitas ASI. Jika ASI Moms tidak lancar, minum susu almond secara teratur dipercaya dapat memperbaiki kondisi ini.

2. Meningkatkan Kekebalan Tubuh

Minum susu almond secara teratur dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh Moms dan mencegah penyakit serta infeksi yang mengerikan. Pun dapat meningkatkan kecepatan pemulihan pascamelahirkan dan menjaga kesehatan si kecil.

3. Melindungi Kesehatan Tulang

Kandungan kalsium dan fosfor dari susu almond membantu memastikan perkembangan tulang yang lebih kuat dan sehat. Termasuk untuk si kecil yang sedang menyusu pada Moms.

4. Meningkatkan Kesehatan Mata Dan Kulit

Susu almond kaya akan vitamin A yang membantu melawan stres oksidatif, menghilangkan radikal bebas, mencegah penuaan, dan melindungi dari degenerasi makula.

Susu almond pun mengandung vitamin E yang dapat membuat kulit Moms bercahaya dan lebih sehat.

Yuk, Moms, mulai sekarang lebih rajin minum susu almond, terutama di masa-masa menyusui buah hati tercinta.