Kesehatan

5 Tips Memberi Anak Makan Saat Sedang Diare, Catat Moms!

Diare menjadi salah satu gangguan kesehatan pada anak yang perlu orang tua waspadai! Diare bisa membuat anak terlihat lemas dari baisanya, bahkan saat sedang diare pun ada saja anak yang menolak makan. Wah, kalau sudah kayak gini, pasti Moms juga yang jadi kepikiran, ya.

Apabila buah hati Moms mengalami kondisi serupa, tenang saja dulu, Moms, jangan terlalu panik. Sebab, ada beberapa tips yang bisa Moms coba untuk memberi makan anak saat ia sedang diare.

Berikut ini cara-caranya mengutip dari penjelasan di website resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

1. Selalu Sedia Oralit

Dehidrasi rentan dialami anak yang diare. Gejala dehidrasi ringan hingga sedang yaitu anak akan terlihat kehausan. Sementara jika sudah mengalami dehidrasi berat, anak justru malas minum.

Moms bisa cegah si kecil mengalami dehidrasi dengan memberikan oralit sekitar 10 ml/kg berat badan. Misal berat badannya 10 kg, maka ia perlu oralit 100 ml setiap diare. Bila si kecil muntah setelah minum oralit, tunda dulu sebentar lalu berikan kembali sedikit demi sedikit.

2. Lanjut Memberikan ASI

ASI memiliki efek proteksi terhadap terjadinya diare. Saat si kecil diare, Moms harus lanjutkan memberikan ASI. Kandungan laktosa yang terdapat dalam ASI tidak menyebabkan diare bertambah parah.

Sementara itu, pemberian susu formula bebas laktosa saat sedang diare masih kontroversial, meski beberapa penelitian menunjukkan manfaat mengganti susu formula ke bebas laktosa saat sedang diare.

3. Beri Makanan yang Mengandung Banyak Cairan

Bagi anak yang sudah diberi MPASI, Moms dapat memberikan makanan yang banyak mengandung air, seperti sup. Makanan yang mengandung tinggi kalium, seperti pisang juga bisa menjadi pilihan.

Sedangkan pemberian buah segar (jus buah) tidak disarankan, karena mengandung sukrosa, fruktosa dan sorbitol yang menyebabkan peningkatan osmolalitas. Hindari memberikan minuman manis atau soda saat si kecil sedang diare.   

4. Berikan Makanan dalam Porsi Kecil dan Sering

Saat sedang diare nafsu makan mungkin akan menurun, tetapi asupan makanan yang masuk tetap harus diperhatikan. Saat diare, si kecil mungkin juga merasa mual atau malah muntah, berikan makanan dalam porsi lebih kecil yang lebih mudah diterima. Makanan dalam porsi kecil ini perlu diberikan lebih sering, misal tiap 3-4 jam, untuk memenuhi kebutuhan zat gizi si kecil selama diare.

5. Lanjut Beri Makanan Tinggi Energi Setelah Sembuh

Saat sedang diare, berat badan si kecil sering turun karena asupan yang kurang atau kondisi dehidrasi. Bila kondisinya sudah membaik, Moms harus mengejar kekurangan asupan makan tersebut dengan melanjutkan memberikan makanan yang mengandung tinggi energi agar pertumbuhan si kecil tetap terjaga saat masa penyembuhan.

Itulah, Moms, tipsnya. Semoga dapat membantu, ya.

Kesehatan

Penanganan Anak Tersedak yang Bisa Orang Tua Lakukan

Siapa, nih, Moms yang buah hatinya pernah tersedak saat sedang makan ataupun minum? Bahkan, kemungkinan anak tersedak pun bisa terjadi ketika ia sedang bermain, karena ada saja anak-anak yang kerap memasukkan mainan atau benda asing ke mulutnya. Duh, jangan sampai hal ini terjadi pada buah hati Moms, ya.

Sering kali kondisi anak tersedak ini bikin orang tua khawatir. Menurut penjelasan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di website resminya, tersedak adalah gangguan berupa sumbatan jalan napas dan berpotensi menimbulkan kematian jika tidak segera dilakukan pertolongan awal.

Oleh karena itu, Moms harus tanggap jika anak tersedak! Masih menurut penjelasan IDAI, jika bayi tersedak, tidak bisa batuk efektif, dan masih sadar penuh, lakukan 5 entakan (back blow) dengan cukup kuat menggunakan pangkal telapak tangan di punggung di antara dua tulang belikat.

Penolong memosisikan bayi telungkup dengan kepala lebih rendah, dan penolong berlutut atau duduk di kursi sehingga dapat menopang bayi di pangkuannya dengan aman.

Untuk bayi, topang kepala dengan ibu jari di satu sisi rahang dan yang lain menggunakan satu atau dua jari tangan yang sama tanpa menekan jaringan lunak di bawah rahang. Sementara untuk anak usia di atas 1 tahun, kepala tidak perlu ditopang secara khusus.

Jika manuver back blow gagal, lakukan 5 entakan dada (chest thrust) pada bayi. Penolong memosisikan bayi telentang dengan kepala lebih rendah mengarah ke bawah.

Supaya lebih aman, sebaiknya penolong meletakan punggung bayi di lengan yang bebas dan menopang ubun-ubun menggunakan tangan, kemudian topang lengan dengan paha. Identifikasi lokasi chest thrust di tengah-tengah tulang dada, lakukan entakan dengan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah). Jika benda asing belum keluar, ulangi tindakan dari awal.

Pada anak usia di atas 1 tahun, untuk mengeluarkan benda asing bila anak sadar dapat dilakukan dengan cara manuver Heimlich. Penolong berdiri di belakang korban dan meletakan letak lengan di bawah lengan korban mengelilingi pinggangnya.

Tangan penolong dikepalkan dan diletakan di antara pusar dan tulang dada penderita. Raih kepalan tangan dengan tangan lainnya dan entakan ke arah atas dan belakang tubuh penderita sebanyak 5 kali.

Bila korban mengalami sumbatan jalan napas dan tidak sadar, lakukan bantuan hidup dasar, dan segera memanggil layanan gawat darurat. Bantuan hidup dasar versi CAB (kompresi dada, jalan napas, bantuan napas) dilakuakan dengan memberikan kompresi dada sebanyak 30 kali tanpa perlu memeriksa nadi, dilanjutkan dengan pemberian 2 kali bantuan napas, dilakukan sebanyak 5 siklus ( 2 menit ). Jika mulut korban terbuka, periksa posisi benda asing dan keluarkan jika memungkinkan.

Itulah, Moms, penanganan anak tersedak yang bisa coba dilakukan. Semoga bermanfaat, ya.

Kesehatan

Alasan Kompres Dingin Tidak Disarankan untuk Mengatasi Anak Demam, Cek Moms!

Mungkin Moms ada yang masih bingung, nih, kira-kira yang benar adalah kompres dingin atau kompres hangat ya untuk mengatasi anak demam? Sebab, yang sering terjadi adalah orang tua memberikan kompres dingin untuk mengatasi anak yang terserang demam.

Perlu Moms ketahui, menurut penjelasan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di website resminya, kompres dingin tidak direkomendasikan untuk mengatasi demam. Sebab, kompres mengguanakan air dingin atau es dapat meningkatkan pusat pengatur suhu (set point) hipotalamus yang mengakibatkan badan menggigil sehingga terjadi kenaikan suhu tubuh.

Kompres dingin pun mengakibatkan pembuluh darah mengecil (vasokonstriksi), yang meningkatkan suhu tubuh. Selain itu, kompres dingin mengakibatkan anak merasa tidak nyaman.

Maka dari itu, yang tepat adalah kompres air hangat untuk mengatasi anak demam. Masih menurut penjelasan IDAI, pemberian kompres air hangat di lipatan ketiak dan lipatan selangkangan (inguinal) selama 10-15 menit akan membantu menurunkan panas dengan cara panas keluar lewat pori-pori kulit melalui proses penguapan.

Jadi Moms jangan sampai salah, ya. Kompres hangat adalah yang tepat untuk mengatasi anak demam, bukan kompres dingin!

Kesehatan

Apakah Kejang Demam Membuat Anak Jadi Bodoh? Cek Faktanya!

Kondisi kejang demam yang dialami si kecil tentu saja bisa membuat orang tua khawatir. Menurut penjelasan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh 38 derajat Celsius atau lebih yang disebabkan proses di luar otak.

Mayoritas kejang demam terjadi saat anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun. Ciri khas kejang demam yaitu demamnya mendahului kejang, pada saat kejang anak masih demam, dan setelah kejang anak langsung sadar kembali.

Lantas, apa penyebab? Perlu Moms ketahui, penyebab kejang demam adalah demam yang terjadi secara mendadak. Demam dapat disebabkan infeksi bakteri atau virus, misalnya infeksi saluran napas atas.

Tak diketahui secara pasti alasan demam dapat menyebabkan kejang pada satu anak dan tidak pada anak lainnya, tetapi diduga ada faktor genetik yang berperan.

Setiap anak juga memiliki suhu ambang kejang yang berbeda. Ada yang kejang pada suhu 38 derajat Celsius, ada pula yang baru mengalami kejang pada suhu 40 derajat Celsius. 

Apakah Kejang Demam Membuat Anak Menjadi Bodoh?

Masih menurut penjelasan IDAI, kondisi kejang demam tidak berpengaruh terhadap perkembangan atau kecerdasan anak. Biasanya kejang demam menghilang dengan sendirinya setelah anak berusia 5-6 tahun.

Tenang saja, Moms, mayoritas anak yang pernah mengalami kejang demam akan mengalami tumbuh kembang yang normal tanpa adanya kelainan.

Kesehatan

5 Penyebab Siklus Menstruasi Tidak Teratur, Simak Moms!

Adakah Moms yang pernah mengalami siklus menstruasi tidak teratur? Bukan tanpa alasan, tentu saja kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab.

Mengutip dari situs Halodoc.com, siklus menstruasi tidak teratur terjadi ketika panjang siklus menstruasi Moms mengalami perubahan terus-menerus. Biasanya, menstruasi bisa datang lebih awal ataupun terlambat.

Sebenarnya kondisi ini normal terjadi. Hanya saja, ada beberapa kemungkinan yang menjadi penyebabnya. Di antaranya yaitu:

1. Mengidap PCOS

Polycystic ovary syndrome (PCOS) menjadi salah satu pemicu siklus menstruasi yang tidak teratur. Hal ini dapat terjadi ketika kista muncul di ovarium.

2. Stres

Tingkat stres yang tinggi dapat memengaruhi siklus menstruasi Moms. Sebab, tubuh yang stres membuat terjadinya peningkatan kadar hormon adrenalin dan kortisol. Peningkatan kedua hormon ini memengaruhi hormon seks yang berfungsi mengatur siklus menstruasi.

Oleh karena itu, Moms harus menghindari stres, ya, agar siklus menstruasi kembali normal.

3. Penggunaan KB Hormon

KB hormonal bekerja dengan menekan ovulasi. Alhasil, siklus menstruasi tidak akan teratur.

Sebaiknya tanyakan kepada dokter kandungan mengenai gangguan siklus menstruasi yang Moms alami selama menggunakan KB hormonal. Pastikan juga mengetahui dampak yang bisa terjadi akibat penggunaan KB yang Moms pilih.

4. Olahraga Berlebihan

Olahraga berlebihan dapat memicu berbagai dampak, salah satunya siklus menstruasi yang tidak teratur.

5. Endometriosis

Masih melansir dari laman Halodoc.com, endometriosis terjadi karena jaringan yang melapisi rahim tumbuh di luar rahim. Selain menyebabkan siklus menstruasi yang tidak teratur, kondisi ini dapat menyebabkan rasa nyeri yang cukup parah saat menstruasi berlangsung.

Demikian 5 penyebab siklus menstruasi tidak teratur. Apakah kondisi ini sedang Moms alami?

Kesehatan

Kapankah Tanggal Kedaluwarsa Pembalut?

Moms pernah kepikiran enggak, sih, kapan tanggal kedaluwarsa pembalut? Sebab, sering kali di kemasan pembalut tidak tertera tanggal kedaluwarsanya. Maka dari itu, banyak dari kita yang tidak mengetahuinya.

Sebenarnya Moms, pembalut wanita punya batas waktu aman untuk digunakan. Jika di kemasan pembalut tidak tertera tanggal kedaluwarsa, maka Moms dapat melihat dari tanggal produksinya.

Mengutip dari situs SehatQ.com, setiap pembalut akan menuliskan tanggal produksi. Nah, tanggal produksi ini bisa menjadi patokan batas aman pembalut bisa dipakai.

Tanggal produksi pembalut bukan berarti tanggal Moms membeli pembalut itu, ya.

Umumnya, tangga kedaluwarsa pembalut yaitu 3 hingga 5 tahun dari tanggal produksi. Jika sudah lebih dari jangka waktu itu, maka jangan lagi menggunakan pembalut tersebut.

Diharapkan Moms dapat selalu memperhatikan setiap produk pembalut yang Moms beli. Jangan sampai produk tersebut sudah lewat 3 hingga 5 tahun dari tanggal produksi, karena sudah tidak layak dipakai.

Kesehatan

Mengenal Kondisi Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) yang Rentan Dialami Perempuan

Saat memasuki siklus menstruasi, Moms pasti pernah merasakan emosi yang tidak stabil atau mood swing. Kondisi ini dikenal dengan istilah premenstrual syndrome (PMS). Selain mood swing, kondisi PMS pun biasanya ditandai dengan timbulnya jerawat, payudara yang agak bengkak, hingga merasa sakit kepala.

Akan tetapi, jika gejala PMS yang Moms alami sudah semakin parah, bisa jadi Moms justru mengalami kondisi premenstrual dysphoric disorder atau PMDD. Lantas, apakah PMDD tersebut, dan apa bedanya dengan PMS? Yuk, simak penjelasan lengkapnya.

Mengutip dari laman Hellosehat.com, premenstrual dysphoric disorder (PMDD) adalah gangguan dengan serangkaian gejala yang jauh lebih parah dari PMS pada umumnya. Gejala PMDD kerap muncul 1-2 minggu sebelum hari pertama menstruasi. Lalu gejala akan hilang sekitar 2-3 hari setelah menstruasi terjadi.

Moms harus mewaspadai kondisi PMDD. Ini termasuk kondisi kronis yang serius. Bahkan penderitanya bisa jadi memerlukan perawatan medis untuk mengatasi gangguan ini. Mengapa hingga memerlukan perawatan medis?

Masih mengutip dari laman Hellosehat.com, umumnya gejala yang muncul pada penderita PMDD cenderung lebih parah dan ekstrem. Saking parahnya, ada yang sampai bisa mengganggu aktivitas sehari-hari hingga mengganggu hubungan dengan orang sekitar.

Bahkan, dalam kasus tertentu, perempuan yang mengindap PMDD pun bisa memiliki pikiran untuk bunuh diri. Wah, seram sekali, ya, Moms? Namun, ini biasanya terjadi pada ia yang memiliki riwayat depresi sebelumnya.

Adapun gejala PMDD yang perlu moms waspadai di antaranya:

  • Tubuh terasa sangat lemas dan lelah
  • Sulit konsentrasi
  • Jantung berdebar cepat
  • Mudah lupa
  • Sakit kepala parah
  • Paranoid
  • Koordinasi tubuh berkurang
  • Hot flashes
  • Kejang otot atau nyeri sendi
  • Perubaha mood yang ekstrem hingga muncul kecemasan atau depresi
  • Citra diri negatif
  • Pusing
  • Pingsan
  • Sulit tidur (insomnia)
  • Perubaha nafsu makan, sakit perut, kembung
  • Mengalami gangguan pernapasan
  • Nyeri haid
  • Gangguan penglihatan
  • Kehilangan gairah seksual
  • Payudara nyeri
  • Gejala terkait retensi cairan, seperti pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, dan tangan, atau buang air kecil berkurang

Jika Moms atau ada kerabat yang mengalami PMDD, segera konsultasikan ke pakarnya, ya, untuk segera mendapat penanganan yang tepat.

Kesehatan

3 Jenis Olahraga yang Bisa Meningkatkan Suasana Hati, Cek Moms!

Suasana hati sangat memengaruhi segala hal yang sedang kita lakukan pada hari itu. Jika suasana hati kita bagus, tentu kita akan enjoy menjalaninya, ya, Moms. Namun sebaliknya, jika suasana hati sedang buruk, biasanya kita cenderung malas melakukan berbagai macam kegiatan.

Nah, jika saat ini suasana hati Moms yang sedang tidak baik, Moms bisa menyiasatinya dengan melakukan olahraga. Ya, melakukan olahraga atau aktivitas fisik apa pun nyatanya dapat memperbaiki suasana hati. Hanya saja, ada beberapa jenis olahraga tertentu yang dapat berkontribusi dalam meningkatkan rasa bahagia.

Mengutip dari laman Hellosehat.com, inilah jenis olahraga yang bisa meningkatkan suasana hati. Moms bisa coba melakukannya di rumah!

1. Yoga

Olahraga yoga dipercaya dapat meningkatkan suasana hati dan meningkatkan kesehatan mental. Yoga lebih fokus pada gerakan untuk melepaskan ketegangan dan membuat Moms lebih rileks melalui peregangan otot.

Melakukan yoga secara teratur dapat membangun energi, menurunkan depresi, kecemasan, terutama stres pascatrauma.

2. Tai Chi

Olahraga tradisional asal China ini bermanfaat untuk orang dengan gejala kecemasan dan depresi. Tai chi juga dapat meningkatkan sistem imun dan endorfin sehingga memicu suasana hati menjadi lebih baik.

Fokus olahraga tai chi terletak pada teknik pernapasan dan gerakannya melibatkan seluruh tubuh. Olahraga ini juga dianggap sebagai latihan penyembuhan diri dan membantu melancarkan energi, sehingga membuat Moms lebih berenergi setelahnya. Penelitian menyatakan, tai chi dapat mengurangi depresi, cemas, dan stres.

3. Aerobik

Aerobik mampu melepaskan hormon endorfin dan meningkatkan suasana hati. Adapun jenis olahraga aerobik yang bisa Moms lakukan yaitu joging, berenang, bersepeda, hingga jalan cepat. Sederhana sekali, ya, Moms?

Itulah, Moms, beragam jenis olahraga yang dapat meningkatkan suasana hati. Selamat mencobanya!

Kesehatan

Tanda Kelelahan Mental Dilihat dari Gejala Perilaku, Apakah Moms Mengalaminya?

Lelah tak hanya dirasakan oleh fisik kita saja, lo, Moms, tetapi mental kita pun bisa lelah. Adapun penyebab kelelahan mental yang biasa dialami oleh banyak orang yaitu efek dari adanya tekanan pekerjaan, keluarga, lingkungan sekitar, masalah keuangan, dan lain sebagainya.

Apabila Moms mengalami kondisi lelah mental, salah satu dampak yang paling terasa adalah sulit fokus atau berkonsentrasi. Misalnya, Moms jadi tak bisa fokus menyelesaikan pekerjaan kantor, pekerjaan rumah, bahkan sering kali mengasuh buah hati pun jadi kewalahan.

Ada beragam gejala yang dapat kita alami ketika merasakan kelelahan mental, salah satunya dilihat dari gejala perilaku. Mengutip dari situs Hellosehat.com, inilah gejala perilaku saat seseorang mengalami kelelahan mental:

  • Mengisolasi diri dari orang lain atau lingkungan sekitar
  • Sering kali melampiaskan rasa kesal kepada orang lain
  • Lari dari tanggung jawab
  • Butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri
  • Suka menunda bahkan melewatkan pekerjaan
  • Melampiaskan rasa lelah atau kesal dengan mengonsumsi makanan tertentu, obat-obatan, bahkan alkohol untuk mencoba mengatasinya

Dari beragam gejala tersebut, apakah Moms pernah mengalaminya? Kalau kondisi lelah mental yang Moms alami dirasa sudah parah dan tak tertahan lagi, lebih baik langsung konsultasi kepada pakarnya, ya, Moms, agar mendapat penanganan yang tepat.

Kesehatan

Sakit Kepala? Yuk, Redakan dengan Mengonsumsi Makanan Ini!

Kebanyakan orang mengatasi sakit kepala dengan cara minum obat, langsung istirahat, ataupun tidur. Selain cara-cara tersebut, ternyata dengan mengonsumsi makanan tertentu pun dapat membantu Moms meredakan sakit kepala. Kira-kira makanan apa saja, ya, yang bisa bantu meredakan sakit kepala dan migrain?

Mengutip dari situs Hellosehat.com, beberapa jenis makanan yang dapat meredakan sakit kepala yaitu sayuran, kacang-kacangan, cokelat, serta jenis makanan lainnya yang mengandung magnesium. Tak hanya makanan, Moms juga bisa mengonsumsi suplemen magnesium untuk bantu meredakan sakit kepala.

Perlu Moms ketahui, magnesium dapat membantu tubuh melemaskan pembuluh darah sehingga melancarkan aliran darah dan oksigen menuju otak. Dengan begitu, sakit kepala yang Moms rasakan pun akan berangsur membaik.

Maka dari itu, ketika Moms merasakan sakit kepala, termasuk sakit kepala gejala menstruasi, Moms bisa mengonsumsi makanan-makanan tersebut untuk meredakannya. Selamat mencoba, ya, Moms!