Kesehatan

Kapankah Tanggal Kedaluwarsa Pembalut?

Moms pernah kepikiran enggak, sih, kapan tanggal kedaluwarsa pembalut? Sebab, sering kali di kemasan pembalut tidak tertera tanggal kedaluwarsanya. Maka dari itu, banyak dari kita yang tidak mengetahuinya.

Sebenarnya Moms, pembalut wanita punya batas waktu aman untuk digunakan. Jika di kemasan pembalut tidak tertera tanggal kedaluwarsa, maka Moms dapat melihat dari tanggal produksinya.

Mengutip dari situs SehatQ.com, setiap pembalut akan menuliskan tanggal produksi. Nah, tanggal produksi ini bisa menjadi patokan batas aman pembalut bisa dipakai.

Tanggal produksi pembalut bukan berarti tanggal Moms membeli pembalut itu, ya.

Umumnya, tangga kedaluwarsa pembalut yaitu 3 hingga 5 tahun dari tanggal produksi. Jika sudah lebih dari jangka waktu itu, maka jangan lagi menggunakan pembalut tersebut.

Diharapkan Moms dapat selalu memperhatikan setiap produk pembalut yang Moms beli. Jangan sampai produk tersebut sudah lewat 3 hingga 5 tahun dari tanggal produksi, karena sudah tidak layak dipakai.

Kesehatan

Mengenal Kondisi Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) yang Rentan Dialami Perempuan

Saat memasuki siklus menstruasi, Moms pasti pernah merasakan emosi yang tidak stabil atau mood swing. Kondisi ini dikenal dengan istilah premenstrual syndrome (PMS). Selain mood swing, kondisi PMS pun biasanya ditandai dengan timbulnya jerawat, payudara yang agak bengkak, hingga merasa sakit kepala.

Akan tetapi, jika gejala PMS yang Moms alami sudah semakin parah, bisa jadi Moms justru mengalami kondisi premenstrual dysphoric disorder atau PMDD. Lantas, apakah PMDD tersebut, dan apa bedanya dengan PMS? Yuk, simak penjelasan lengkapnya.

Mengutip dari laman Hellosehat.com, premenstrual dysphoric disorder (PMDD) adalah gangguan dengan serangkaian gejala yang jauh lebih parah dari PMS pada umumnya. Gejala PMDD kerap muncul 1-2 minggu sebelum hari pertama menstruasi. Lalu gejala akan hilang sekitar 2-3 hari setelah menstruasi terjadi.

Moms harus mewaspadai kondisi PMDD. Ini termasuk kondisi kronis yang serius. Bahkan penderitanya bisa jadi memerlukan perawatan medis untuk mengatasi gangguan ini. Mengapa hingga memerlukan perawatan medis?

Masih mengutip dari laman Hellosehat.com, umumnya gejala yang muncul pada penderita PMDD cenderung lebih parah dan ekstrem. Saking parahnya, ada yang sampai bisa mengganggu aktivitas sehari-hari hingga mengganggu hubungan dengan orang sekitar.

Bahkan, dalam kasus tertentu, perempuan yang mengindap PMDD pun bisa memiliki pikiran untuk bunuh diri. Wah, seram sekali, ya, Moms? Namun, ini biasanya terjadi pada ia yang memiliki riwayat depresi sebelumnya.

Adapun gejala PMDD yang perlu moms waspadai di antaranya:

  • Tubuh terasa sangat lemas dan lelah
  • Sulit konsentrasi
  • Jantung berdebar cepat
  • Mudah lupa
  • Sakit kepala parah
  • Paranoid
  • Koordinasi tubuh berkurang
  • Hot flashes
  • Kejang otot atau nyeri sendi
  • Perubaha mood yang ekstrem hingga muncul kecemasan atau depresi
  • Citra diri negatif
  • Pusing
  • Pingsan
  • Sulit tidur (insomnia)
  • Perubaha nafsu makan, sakit perut, kembung
  • Mengalami gangguan pernapasan
  • Nyeri haid
  • Gangguan penglihatan
  • Kehilangan gairah seksual
  • Payudara nyeri
  • Gejala terkait retensi cairan, seperti pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, dan tangan, atau buang air kecil berkurang

Jika Moms atau ada kerabat yang mengalami PMDD, segera konsultasikan ke pakarnya, ya, untuk segera mendapat penanganan yang tepat.

Kesehatan

3 Jenis Olahraga yang Bisa Meningkatkan Suasana Hati, Cek Moms!

Suasana hati sangat memengaruhi segala hal yang sedang kita lakukan pada hari itu. Jika suasana hati kita bagus, tentu kita akan enjoy menjalaninya, ya, Moms. Namun sebaliknya, jika suasana hati sedang buruk, biasanya kita cenderung malas melakukan berbagai macam kegiatan.

Nah, jika saat ini suasana hati Moms yang sedang tidak baik, Moms bisa menyiasatinya dengan melakukan olahraga. Ya, melakukan olahraga atau aktivitas fisik apa pun nyatanya dapat memperbaiki suasana hati. Hanya saja, ada beberapa jenis olahraga tertentu yang dapat berkontribusi dalam meningkatkan rasa bahagia.

Mengutip dari laman Hellosehat.com, inilah jenis olahraga yang bisa meningkatkan suasana hati. Moms bisa coba melakukannya di rumah!

1. Yoga

Olahraga yoga dipercaya dapat meningkatkan suasana hati dan meningkatkan kesehatan mental. Yoga lebih fokus pada gerakan untuk melepaskan ketegangan dan membuat Moms lebih rileks melalui peregangan otot.

Melakukan yoga secara teratur dapat membangun energi, menurunkan depresi, kecemasan, terutama stres pascatrauma.

2. Tai Chi

Olahraga tradisional asal China ini bermanfaat untuk orang dengan gejala kecemasan dan depresi. Tai chi juga dapat meningkatkan sistem imun dan endorfin sehingga memicu suasana hati menjadi lebih baik.

Fokus olahraga tai chi terletak pada teknik pernapasan dan gerakannya melibatkan seluruh tubuh. Olahraga ini juga dianggap sebagai latihan penyembuhan diri dan membantu melancarkan energi, sehingga membuat Moms lebih berenergi setelahnya. Penelitian menyatakan, tai chi dapat mengurangi depresi, cemas, dan stres.

3. Aerobik

Aerobik mampu melepaskan hormon endorfin dan meningkatkan suasana hati. Adapun jenis olahraga aerobik yang bisa Moms lakukan yaitu joging, berenang, bersepeda, hingga jalan cepat. Sederhana sekali, ya, Moms?

Itulah, Moms, beragam jenis olahraga yang dapat meningkatkan suasana hati. Selamat mencobanya!

Kesehatan

Tanda Kelelahan Mental Dilihat dari Gejala Perilaku, Apakah Moms Mengalaminya?

Lelah tak hanya dirasakan oleh fisik kita saja, lo, Moms, tetapi mental kita pun bisa lelah. Adapun penyebab kelelahan mental yang biasa dialami oleh banyak orang yaitu efek dari adanya tekanan pekerjaan, keluarga, lingkungan sekitar, masalah keuangan, dan lain sebagainya.

Apabila Moms mengalami kondisi lelah mental, salah satu dampak yang paling terasa adalah sulit fokus atau berkonsentrasi. Misalnya, Moms jadi tak bisa fokus menyelesaikan pekerjaan kantor, pekerjaan rumah, bahkan sering kali mengasuh buah hati pun jadi kewalahan.

Ada beragam gejala yang dapat kita alami ketika merasakan kelelahan mental, salah satunya dilihat dari gejala perilaku. Mengutip dari situs Hellosehat.com, inilah gejala perilaku saat seseorang mengalami kelelahan mental:

  • Mengisolasi diri dari orang lain atau lingkungan sekitar
  • Sering kali melampiaskan rasa kesal kepada orang lain
  • Lari dari tanggung jawab
  • Butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri
  • Suka menunda bahkan melewatkan pekerjaan
  • Melampiaskan rasa lelah atau kesal dengan mengonsumsi makanan tertentu, obat-obatan, bahkan alkohol untuk mencoba mengatasinya

Dari beragam gejala tersebut, apakah Moms pernah mengalaminya? Kalau kondisi lelah mental yang Moms alami dirasa sudah parah dan tak tertahan lagi, lebih baik langsung konsultasi kepada pakarnya, ya, Moms, agar mendapat penanganan yang tepat.

Kesehatan

Sakit Kepala? Yuk, Redakan dengan Mengonsumsi Makanan Ini!

Kebanyakan orang mengatasi sakit kepala dengan cara minum obat, langsung istirahat, ataupun tidur. Selain cara-cara tersebut, ternyata dengan mengonsumsi makanan tertentu pun dapat membantu Moms meredakan sakit kepala. Kira-kira makanan apa saja, ya, yang bisa bantu meredakan sakit kepala dan migrain?

Mengutip dari situs Hellosehat.com, beberapa jenis makanan yang dapat meredakan sakit kepala yaitu sayuran, kacang-kacangan, cokelat, serta jenis makanan lainnya yang mengandung magnesium. Tak hanya makanan, Moms juga bisa mengonsumsi suplemen magnesium untuk bantu meredakan sakit kepala.

Perlu Moms ketahui, magnesium dapat membantu tubuh melemaskan pembuluh darah sehingga melancarkan aliran darah dan oksigen menuju otak. Dengan begitu, sakit kepala yang Moms rasakan pun akan berangsur membaik.

Maka dari itu, ketika Moms merasakan sakit kepala, termasuk sakit kepala gejala menstruasi, Moms bisa mengonsumsi makanan-makanan tersebut untuk meredakannya. Selamat mencoba, ya, Moms!

Kesehatan

Kompres Dingin Bisa Bantu Hilangkan Sakit Kepala, Bagaimana Caranya?

Sat sakit kepala menyerang, rasanya tidak nyaman sekali, ya, Moms. Bahkan bisa bikin kita jadi enggak mood melakukan hal apa pun. Selain minum obat dan istirahat, ada cara lain yang bisa Moms lakukan untuk bantu meredakan atau menghilangkan sakit kepala. Yakni dengan kompres dingin atau menggunakan es.

Mengutip dari situs Hellosehat.com, ketika kepala Moms cenat-cenut, sakit, ataupun migrain, cara untuk mengatasinya yaitu dengan mengompresi dahi atau pelipis menggunakan lap dingin. Kompres dingin dipercaya dapat menghambat pelepasan zat-zat perangsang peradangan yang bergerak menuju kepala sehingga bisa mengurangi nyeri.

Cara melakukannya gampang, kok, Moms! Pertama, siapkan kain atau waslap bersih yang kemudian dibasahi dengan air dingin atau bungkus es di dalamnya. Kemudian, letakkan kompres di bagian kepala yang terasa sakit selama 10-15 menit. Setelah itu, coba rasakan apakah kondisinya membaik?

Jika ingin melakukannya lagi, beri jeda terlebih dahulu selama 15 menit.

Gimana, Moms, sederhana sekali, kan, cara melakukannya? Selamat mencoba, ya, Moms, ketika Moms atau ada anggota keluarga di rumah yang merasakan sakit kepala.

Kesehatan

Tips Mencegah Kerusakan Gigi Susu Anak, Jangan Sampai Diabaikan!

Menjaga kesehatan gigi harus dilakukan sejak dini, bahkan sebelum gigi gigi susu si kecil tumbuh. Hal ini dilakukan guna mencegah terjadinya kerusakan gigi yang bisa saja mengganggu tumbuh kembang si kecil hingga membuatnya merasa tidak nyaman.

Adapun cara mencegah kerusakan gigi susu anak yaitu dengan menjaga kebersihan rongga mulut bayi sedari kecil. Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, Moms bisa menggunakan kain kasa yang dilembapkan menggunakan air untuk membersihkan mulut bayi.

Kemudian, bisa juga menggunakan sikat gigi silikon, serta bisa menggunakan sikat berbulu yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran mulut dan gigi anak. Lantas, perlukah menggunakan pasta gigi untuk membersihkannya?

Moms, penggunaan pasta gigi sendiri harus menyesuaikan usia anak. Untuk anak di atas 3 tahun, gunakan pasta gigi sebesar biji jagung. Sementara untuk anak di bawah usia 3 tahun, gunakanlah pasta gigi sebesar biji beras.

Sedangkan untuk si kecil yang sedang berada di fase gigi campur antara gigi susu dan gigi tetap, cara menjaga kesehatan giginya yaitu dengan memperhatikan gigi tetap yang baru saja tumbuh. Pastikan rajin membersihkan gigi bayi agar tidak ada sisa makanan di permukaan gigi.

Itulah tipsnya, Moms. Mudah, bukan? Yuk, mulai terapkan dari sekarang!

Kesehatan

Gigi si Kecil Berwarna Abu-Abu, Apa Penyebabnya?

Pernahkah Moms melihat gigi si kecil berwarna abu-abu? Jika iya, kondisi tersebut dikenal dengan nama kelainan pulpa nekrotik atau gigi nekrotik. Biasanya, selain berwarna abu-abu, gigi yang mengalami kelainan pulpa nekrotik ini akan tampak lebih gelap dari gigi lainnya.

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, menurut True Dental Care, gigi nekrotik adalah gigi mati yang disebabkan saraf di bagian akar gigi mati. Yakni terjadi ketika pulpa di dalam gigi tidak bisa lagi mendapat suplai darah yang memadai sehingga membuar jaringan mati.

Adapun gejala jika mengalami gigi nekrotik yaitu di antaranya:

  • Terasa muncul tekanan di area gigi dan gusi
  • Sensitif dengan minuman dingin
  • Serta tidak merasakan apa-apa lagi di bagian gigi yang mati

Masih mengutip dari theAsianparent Indonesia, masalah gigi nekrotik pada anak jangan sampai Moms sepelekan. Sebab, kolonisasi bakteri di dalam pulpa bisa masuk ke suplai darah dan mengalir ke seluruh tubuh anak.

Hal itu bisa membuat rasa nyeri luar biasa yang dialami oleh anak. Oleh karena itu, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Kesehatan

Durasi dan Pola Tidur Anak Berdasarkan Usia, Moms Jangan Abai!

Tidur menjadi salah satu hal penting dan berpengaruh dalam proses tumbuh kembang si kecil. Dengan mendapatkan durasi atau waktu tidur yang cukup, dapat membantu tumbuh kembang anak berjalan optimal sesuai usianya.

Oleh karena itu, Moms sebagai orang tua wajib tahu durasi tidur dan pola tidur anak berdasarkan tahapan usianya. Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), inilah perkembangan tidur normal anak sejak usia bayi hingga prasekolah.

UsiaDurasi Tidur Rata-RataPola Tidur
Baru Lahir16-20 jam1-4 jam periode tidur diikuti dengan 1-2 jam periode bangunJumlah tidur pada siang hari = jumlah tidur pada malam hari
Bayi (0-1 Tahun)14-15 jam (total) saat usia 4 bulan13-14 jam (total) saat usia 6 bulanPeriode tidur 3-4 jam pada 3 bulan 6-8 jam pada usia 4-6 bulanPerbedaan siang/malam terbentuk antara usia 6 minggu hingga 3 bulan70-80% tidur sepanjang malam pada usia 9 bulanTidur siang: 2-4 jam, 2 kali/hari
Anak (1-3 Tahun)12 jamTidur siang 1,5 hingga 3,5 jam, 1 kali/hari
Prasekolah (3-6 Tahun)11-12 jamPenurunan tidur siang, biasanya berhenti saat usia 5 tahun

Gimana, Moms, si kecil di rumah sudah mendapatkan durasi tidur yang cukup belum, nih?

Kesehatan

Cara Membuat Oralit di Rumah untuk Penanganan Diare

Diare bisa berisiko membuat seseorang mengalami dehidrasi berat. Untuk mencegah kondisi tersebut, Moms bisa memanfaatkan oralit. Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, oralit adalah larutan yang digunakan untuk menggantikan cairan dan mineral tubuh yang hilang akibat dehidrasi.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak maupun bayi boleh diberikan oralit ketika mengalami diare. Hanya saja, ada beberapa aturan yang perlu Moms perhatikan saat memberikan oralit kepada bayi.

Nah, Moms, oralit ini bisa mudah didapatkan, bahkan Moms pun bisa membuatnya sendiri di rumah. Bagaimanakah caranya? Masih mengutip dari theAsianparent Indonesia, berikut ini bahan dan cara membuat oralit yang bisa Moms coba di rumah.

Bahan:

  • 6 sendok teh gula pasir
  • ½ sendok teh garam
  • 1 liter air minum atau air matang

Cara Membuat:

  • Cuci tangan dengan sabun sebelum membuat oralit dan pastikan peralatan dan wadah yang digunakan bersih benar-benar bersih.
  • Siapkan wadah, masukkan gula dan garam kemudian tambahkan air. Aduk sampai semua bahan tercampur rata.

Penting untuk Diperhatikan:

Jangan menambahkan terlalu banyak garam atau gula tanpa mengikuti dosis yang dianjurkan karena akan membuat larutan oralit tidak efektif bahkan bisa memperburuk diare.