Motherhood

5 Cara Membentuk Pola Tidur yang Baik pada Balita

Menerapkan pola tidur yang baik dapat mendukung tumbuh kembang si kecil berjalan optimal sesuai usianya. Maka dari itu, pastikan si kecil mendapat waktu tidur atau istirahat yang cukup.

Lantas, bagaimana caranya? Yakni dengan membentuk pola tidur yang baik, yang bisa Moms terapkan pada si kecil sejak dini. Melansir dari laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), inilah cara-caranya.

1. Bantu Bayi Baru Lahir Mengenali Isyarat Terang dan Gelap

Moms dapat membantu bayi baru lahir mengenali isyarat terang dan gelap untuk melatih irama tubuh bayi sekitar usia 2 bulan. Perbanyak interaksi saat bayi terbangun pada pagi hingga sore hari dengan berbicara, bermain, maupun bernyanyi. Pada malam hari, kurangi stimulus dengan mengurangi cahaya lampu dan suara, serta berinteraksi sesuai kebutuhan bayi saja.

2. Kenali Tanda si Kecil Mengantuk

Kenali tanda-tanda bayi mulai mengantuk dan berikan respons sewajarnya agar bayi dapat belajar tidur sendiri. Bila menunggu terlalu lama, bayi akan menjadi terlalu lelah dan sulit untuk tidur. Waktu terbaik untuk meletakkan bayi di tempat tidurnya adalah saat ia dalam keadaan mengantuk namun masih terjaga.

3. Lakukan Kegiatan Pengantar Tidur

Pilih satu atau dua kegiatan yang rutin dilakukan sebagai pengantar tidur. Kegiatan ini dapat berupa aktivitas yang menenangkan, seperti memandikan, memijat, mengayun, berdoa, dan membacakan cerita sebelum tidur. Sebaiknya rutinitas ini tidak terlalu panjang atau terlalu merepotkan.

4. Tidur Sebelum Jam 9 Malam

Waktu tidur optimal bagi anak adalah sebelum jam 9 malam, walaupun hal ini bukan merupakan aturan yang bersifat mengikat. Penerapan waktu tidur perlu dilaksanakan secara konsisten. Namun, sebaiknya Moms tegas dalam menerapkan waktu tidur anak.

5. Tenangkan Anak Saat Mimpi Burul

Apabila anak mengalami mimpi buruk, tenangkan kemudian bantu anak untuk tidur kembali. Penting untuk memindahkan benda-benda yang berbahaya dan menyediakan lingkungan yang aman. Mimpi buruk jarang mencerminkan suatu penyakit organik dan biasanya menghilang seiring dengan bertambahnya usia anak.

Motherhood

Manfaat Membaca Nyaring bagi Anak, Simak Moms!

Membaca nyaring buku cerita atau read aloud biasanya dilakukan oleh para orang tua saat menemani buah hati yang hendak tidur. Apakah Moms juga salah satu yang melakukan kebiasaan ini?

Tak hanya membacakan atau menyampaikan cerita yang terkandung dalam buku kepada anak, ternyata membaca nyaring pun memiliki manfaat lain untuk si kecil. Apa sajakah itu?

Mengutip dari situs SehatQ.com, inilah beragam manfaat dari kebiasaan membaca nyaring yang Moms lakukan kepada si kecil.

  1. Membantu perkembangan kognitif dan keterampilan bahasa
  2. Membantu memperluas kosa kata anak
  3. Meningkatkan konsentrasi si kecil
  4. Bantu mengembangkan kreativitas anak
  5. Melatih keterampilan mendengarkan
  6. Bonding antara anak dan orang tua

Setelah mengetahui beragam manfaat dari membaca nyaring, diharapkan Moms jadi lebih sering melakukannya kepada si kecil, ya, agar masa perkembangannya bisa berjalan lebih optimal.

Motherhood

Gejala Parental Burnout, Apakah Moms Mengalaminya?

Menurut American Psychological Association (APA), parental burnout adalah kondisi kelehan yang dialami orang tua saat mengasuh anak. Mengutip dari situs Hellosehat, ada 4 tahapan kondisi kelelahan yang dirasakan orang tua saat mengasuh anak, di antaranya:

  1. Lelah menjalani peran sebagai orang tua
  2. Perbedaan kondisi orang tua saat ini dan sebelumnya
  3. Muak menjadi orang tua
  4. Menjaga jarak secara emosional dengan anak

Lantas, apa saja gejala parental burnout yang biasanya dialami orang tua?

Perlu Moms ketahui, ada 3 bagian gejala parental burnout, yakni fisik, emosional, dan perilaku.

Gejala Fisik

  • Tubuh merasa lelah
  • Mudah sakit karena sistem kekebalan tubuh yang menurun
  • Sering sakit kepala atau nyeri otot
  • Mengalami gangguan tidur
  • Nafsu makan berkurang

Gejala Emosional

  • Sering merasa sendirian atau kesepian
  • Merasa bersalah dan ragu dengan diri sendiri
  • Seakan tak punya motivasi dalam hidup
  • Merasa tidak berdaya
  • Sering memiliki pikiran negatif

Gejala Perilaku

  • Tidak bertanggung jawab dengan tugasnya
  • Sering menunda untuk menyelesaikan sesuatu
  • Melampiaskan amarah kepada orang lain
  • Menarik diri dari lingkungan sekitar dan orang lain
  • Memakai obat-obatan hingga alkohol

Jika Moms mengalami beberapa gejala tersebut, sebaiknya segera bercerita dengan orang terdekat dan yang Moms percayai, misalnya suami. Sedangkan jika kondisinya dirasa semakin parah bahkan sampai memakai obat-obatan, langsung saja konsultasi ke psikolog, jangan sampai ditunda, ya, Moms!

Motherhood

Penyebab Anak Suka Gigit Pakaian, Sudahkah Moms Tahu?

Sering kali si kecil menunjukkan tingkah laku yang cukup unik, ya, Moms. Bahkan kerap membuat orang tua bingung, mengapa ia sampai bisa melakukan itu? Salah satunya adalah ketika anak suka menggigit pakaian.

Ternyata cukup banyak anak yang suka menggigit pakaiannya. Dan ternyata dalam hal medis, ini pun ada penjelasannya.

Melansir situs Very Well Family, kebiasaan anak menggigit pakaian dikaitkan dengan stimulasi oral, dan ini memainkan peran penting dalam perkembangan anak.

“Pencarian motorik oral berakar pada metode pengaturan diri atau ketenangan paling dasar,” kata Monal Patel, MS, OTR/L, terapis okupasi di Blue Bird Day Program di Chicago, IL. 

“Sejak bayi hingga balita, seorang anak menggunakan refleks rooting untuk memenuhi kebutuhan dasar lapar dan haus. Kemudian, mereka menggunakan pola mengisap dan mengakar itu untuk menenangkan diri, paling sering dalam bentuk dot dan mengisap ibu jari,” sambung Patel.

Setelah usia balita, beberapa anak mungkin masih ada yang berusaha untuk merangsang mulut dan rahangnya. Hal ini dikenal dalam dunia terapi okupasi sebagai input proprioseptif. 

“Tekanan yang dalam ini dapat menenangkan anak-anak saat mereka mencari cara untuk menenangkan diri mereka sendiri yang mengarahkan diri sendiri dan dapat diprediksi,” kata Patel.

Seorang anak yang menenangkan diri dengan cara menggigit pakaian, bisa jadi karena pakaian mudah dijangkau dan berada di sekitarnya. 

Lantas, haruskah orang tua khawatir saat anak punya kebiasaan menggigit pakaian?

Laura Grashow, PsyD, psikolog klinis pediatri berlisensi di Child & Family Institute di Scarsdale, NY, mengatakan bahwa menggigit baju tidak berbahaya bagi anak, terutama dalam hal mencari masukan sensorik atau menenangkan dan memfokuskan diri.

Akan tetapi, ada kalanya juga ini bisa berdampak negatif. Bahkan dalam beberapa kasus, kebiasaan ini bisa jadi tanda kecemasan atau ADHD dalam tumbuh kembang anak.

Oleh karena itu, jika Moms menganggap kebiasaan ini sudah berlebihan dan memicu dampak negatif, segera bawa anak ke pakarnya untuk melakukan konsultasi.

Motherhood

3 Manfaat Anak Suka Bermain Boneka

Moms, si kecil di rumah suka main boneka enggak, sih? Jika suka, Moms jangan melarangnya, ya. Sebab, hobi main boneka ini memiliki sederet manfaat untuk anak di masa perkembangannya.

Lantas, apa saja manfaat anak suka bermain boneka? Yuk, simak, Moms.

1. Meningkatkan Kemampuan Bahasa dan Komunikasi

Mengutip dari situs SehatQ, dengan bermain boneka, si kecil bisa mengembangkan kemampuan berbahasa dan komunikasi. Mengapa demikian?

Sebab, sering kali sembari bermain boneka, si kecil pun seakan mengajak bonekanya mengobrol. Hal ini tentu saja dapat mengasah atau melatih kemampuan berbahasa dan komunikasi anak.

2. Mengembangkan Kemampuan Motorik

Saat bermain boneka, anak akan aktif menggerakan anggota tubuhnya seperti jemari, tangan, kaki, hingga kepala. Aktivitas itu dapat melatih kemampuan motorik hingga meningkatkan kekuatan serta ketangkasan si kecil.

3. Mengasah Kreativitas

Imajinasi dan kreativitas anak akan dipakai saat ia bermain dengan boneka kesayangannya. Contoh sederhananya yaitu ketika anak mulai bermain peran bersama boneka dengan jalan cerita yang diciptakan sendiri olehnya. Tentu saja hal ini akan membuat si kecil menjadi lebih terlatih untuk meningkatkan kreativitas serta berpikir cepat.

Jadi itu, Moms, beberapa manfaat anak bermain boneka. Tentu saja masih ada manfaat lain yang bisa diraih si kecil.

Motherhood

Mengenal Konsep Helicopter Parenting, Adakah Dampaknya untuk Anak?

Sudahkah Moms tahu tentang helicopter parenting? Mengutip dari Parents.com, istilah helicopter parenting atau pola asuh helikopter ini pertama kali digunakan dalam buku Parents & Teenagers karya Dr. Haim Ginott pada tahun 1969.

Helicopter parenting ini mengacu pada gaya pola asuh orang tua yang terlalu fokus pada anak-anaknya. “Mereka (orang tua) biasanya mengambil terlalu banyak tanggung jawab atas pengalaman anak-anak mereka, khususnya keberhasilan atau kegagalan sang anak,” kata Carolyn Daitch, Ph.D., direktur Pusat Perawatan Gangguan Kecemasan di dekat Detroit dan penulis Anxiety Disorders: The Go-To Guide .

Sementara itu, Ann Dunnewold, Ph. D., seorang psikolog berlisensi dan penulis buku Even June Cleaver Will Forget the Juice Box, mengatakan bahwa helicopter parenting bisa didefinisikan sebagai pengasuhan yang berlebihan.

“Itu berarti orang tua terlibat dalam kehidupan anak dengan cara yang terlalu mengontrol, melindungi, dan menyempurnakan, dengan cara yang melebihi tanggung jawab orang tua,” jelas Dr. Dunnewold.

Menurut Dunnewold, helicopter parenting ini bisa saja diterapkan kepada anak di usia berapa pun, bahkan memungkian sejak masih kecil.

“Contohnya pada masa balita, pola asuh helikopter ini memungkinkan orang tua terus-menerus membayangi anak, selalu bermain dengan dan mengarahkan perilakunya, sehingga dia tidak punya waktu sendirian,” kata Dr. Dunnewold.

Apa Dampak Helicopter Parenting untuk Anak?

Sebenarnya pola asuh ini memiliki sederet manfaat untuk anak. Seperti ia akan mendapatkan perasaan cinta dan penerimaan, kepercayaan diri yang lebih baik, serta kesempatan untuk tumbuh.

Akan tetapi, bisa juga berdampak buruk bagi anak. “Masalahnya adalah, begitu mengasuh anak diatur oleh ketakutan dan keputusan berdasarkan apa yang mungkin terjadi, sulit untuk mengingat semua hal yang dipelajari anak-anak ketika kita tidak membimbing setiap langkah mereka,” jelas Deborah Gilboa, M.D., founder dari AskDoctorG.com

“Kegagalan dan tantangan mengajarkan anak-anak keterampilan baru, dan yang paling penting, mengajari anak-anak bahwa mereka dapat menangani kegagalan dan tantangan,” sambungnya.

Selain itu, bayang-bayang orang tua helicopter parenting ini pun berpotensi membuat anak kesulitan menguasai banyak skill penting dalam hidupnya. Sebab, selama ini mereka selalu dibantu oleh orang tua, sehingga life skill-nya kurang terasah.

Itulah Moms informasi tentang helicopter parenting. Kira-kira kalau Moms di rumah apakah menerapkan pola asuh ini jugakah kepada anak?

Motherhood

Kapan Waktu yang Tepat untuk Pasang KB Setelah Melahirkan?

KB atau Keluarga Berencana merupakan sebuah program yang bisa Moms dan pasangan pilih ketika ingin mengatur jarak kehamilan.

Moms bisa kapan saja mengikuti program KB, termasuk setelah melahirkan. Asalkan rencana KB ini memang sudah disepakati bersama dengan pasangan, ya.

Nah, terkait KB setelah melahirkan, mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, para ahli berpendapat jika ada rencana untuk menggunakan kontrasepsi setelah melahirkan, sebaiknya mulai sekitar tiga minggu setelah melahirkan.

Sebab, kita tidak tahu mana yang akan terjadi terlebih dahulu, ovulasi atau menstruasi. Maka dari itu, tak menutup kemungkinan Moms bisa saja hamil sebelum menstruasi datang.

Meksi demikian, pada umumnya perempuan memasuki masa subur dua minggu sebelum siklus menstruasi tiba. Serta menstruasi dapat kembali terjadi mulai dari sekitar 6 minggu hingga 3 bulan setelah melahirkan.

Itulah Moms informasi terkait waktu yang tepat untuk pasang KB setelah melahirkan. Semoga informasinya bermanfaat, ya.

Motherhood

Cuti Melahirkan untuk Suami, Perlu Enggak, ya?

Selama ini yang kita ketahui jika cuti melahirkan hanya diperuntukkan kepada perempuan atau ibu. Padahal sebenarnya suami pun perlu cuti melahirkan, lo, Moms.

Apa alasannya? Sebab, tugas mengurus bayi, khususnya di hari-hari pertama persalinan bukan cuma tugas ibu. Namun, ayah pun harus ikut serta.

Apalagi seorang ibu telah mengeluarkan banyak energi selama proses persalinan. Tentu saja hal itu membuat tubuh akan lemas dan butuh bantuan orang lain, yang tak lain adalah suaminya, untuk bantu mengurus bayi baru lahir.

Selain itu, cuti melahirkan pun dibutuhkan lelaki agar suami kita bisa membangun bonding yang kuat dengan si kecil sejak baru lahir. Tentunya para ayah tidak mau melewatkan momen ini, kan?

Lalu, tentu saja masih banyak manfaat lain yang bisa diraih jika suami mengajukan atau mengambil cuti melahirkan.

Jadi, para suami sudah terpikirkan belum, nih, kapan akan mengajukan cuti melahirkan guna mendampingi istri dan anak tercinta di momen spesial dalam hidupnya?

Motherhood

3 Bahaya Silent Treatment atau Mendiamkan Anak sebagai Hukuman

Ketika anak berbuat salah atau menjengkelkan, biasanya emosi orang tua ikut tersulut. Tak jarang hal ini memicu orang tua menghukum anak. Salah satu hukuman yang masih sering dilakukan yaitu silent treatment atau mendiamkan si kecil.

Kira-kira, nih, adakah Moms yang sering melakukan hal itu kepada si kecil di rumah? Jika Moms melakukannya, lebih baik mulai sekarang jangan lagi menerapkan hukuman tersebut, ya.

Mengapa demikian? Sebab, mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, mendiamkan anak atas kesalahannya bukanlah tindakan yang benar. Beberapa psikolog bahkan menganggap silent treatment merupakan bentuk pelecehan terhadap anak.

Moms, berikut ini adalah 3 dampak silent treatment atau menghukum anak dengan cara mendiamkannya yang perlu diketahui!

1. Anak Jadi Frustasi

Silent treatment dapat menyebabkan anak menjadi frustasi karena ia mengalami kebingungan bagaimana seharusnya merespons orang tua yang mendiamkannya.

2. Membuat Anak Trauma

Silent treatment dapat menimbulkan pengalaman traumatis bagi anak. Apalagi jika dilakukan berulang kali sehingga menimbulkan pengalaman yang tidak menyenangkan bagi anak.

3. Memicu Gangguan Fisiologis

Muncul gangguan fisiologis sebagai respons stres anak menghadapi silent treatment dari orang tuanya. Gangguan seperti sakit kepala, sakit perut, gemetar, gugup bisa saja anak rasakan.

Moms tidak ingin, kan, si kecil merasakan dampak-dampak itu? Mulai sekarang, yuk, jangan lagi menerapkan hukuman silent treatment kepada anak.

Motherhood

4 Jenis Hewan Peliharaan yang Cocok untuk Anak

Siapa, nih, Moms yang lagi merencanakan punya hewan peliharaan di rumah? Selain sebagai peliharaan, ternyata hewan juga bisa, lo, jadi teman main si kecil.

Kalau Moms masih bingung mau memelihara hewan apa di rumah, berikut Mami berikan beberapa rekomendasinya. Jenis hewan ini pun cocok untuk anak.

1. Anjing

Cukup banyak orang yang memelihara anjing, karena anjing merupakan hewan yang setia dan penyayang. Anjing juga hewan yang cukup aktif sehingga bisa diajak main oleh si kecil di rumah.

2. Kucing

Hewan lainnya yang sering dijadikan peliharaan adalah kucing. Siapa, nih, Moms dan anaknya yang suka sama kucing? Enggak heran kalau banyak yang suka sama kucing, karena hewan ini sangat menggemaskan, apalagi kalau sudah manja, ya, Moms.

3. Ikan Hias

Moms dan si kecil bisa juga, lo, memelihara ikan hias di rumah. Sebab, ikan hias memiliki warna yang beragam dan bentuknya yang lucu. Pasti si kecil suka, deh, kalau ada ikan di rumah.

4. Burung

Biasanya bapak-bapak, ya, Moms yang suka melihara burung di rumah. Namun, burung juga bisa, lo, jadi peliharaan si kecil. Pilihlah jenis burung yang ramah anak serta suka berkicau dan bermain, karena akan lebih menghibur si kecil.