Motherhood

4 Jenis Hewan Peliharaan yang Cocok untuk Anak

Siapa, nih, Moms yang lagi merencanakan punya hewan peliharaan di rumah? Selain sebagai peliharaan, ternyata hewan juga bisa, lo, jadi teman main si kecil.

Kalau Moms masih bingung mau memelihara hewan apa di rumah, berikut Mami berikan beberapa rekomendasinya. Jenis hewan ini pun cocok untuk anak.

1. Anjing

Cukup banyak orang yang memelihara anjing, karena anjing merupakan hewan yang setia dan penyayang. Anjing juga hewan yang cukup aktif sehingga bisa diajak main oleh si kecil di rumah.

2. Kucing

Hewan lainnya yang sering dijadikan peliharaan adalah kucing. Siapa, nih, Moms dan anaknya yang suka sama kucing? Enggak heran kalau banyak yang suka sama kucing, karena hewan ini sangat menggemaskan, apalagi kalau sudah manja, ya, Moms.

3. Ikan Hias

Moms dan si kecil bisa juga, lo, memelihara ikan hias di rumah. Sebab, ikan hias memiliki warna yang beragam dan bentuknya yang lucu. Pasti si kecil suka, deh, kalau ada ikan di rumah.

4. Burung

Biasanya bapak-bapak, ya, Moms yang suka melihara burung di rumah. Namun, burung juga bisa, lo, jadi peliharaan si kecil. Pilihlah jenis burung yang ramah anak serta suka berkicau dan bermain, karena akan lebih menghibur si kecil.

Motherhood

Si Kecil Sering Menolak Saat Diberi Makanan Baru? Bisa Jadi Ia Mengalami Neophobia

Duh, pasti pusing, ya, Moms, kalau anak mulai susah atau bahkan menolak makanan yang kita berikan. Rasanya campur aduk, antara sedih, kesal, tetapi kita tetap saja tidak bisa memarahinya.

Memang, di masa tumbuh kembangnya, ada saja masalah atau gangguan makan yang bakal dialami si kecil. Seperti picky eater, selective eater, hingga food neophobia. Terkait food neophobia, Moms sudah pernah dengar istilah ini sebelumnyakah?

Meskipun sama-sama tergolong masalah makan pada anak, tetapi masing-masing jenis gangguan makan ini memiliki kondisi yang berbeda. Tak terkecuali food neophobia.

Perlu Moms ketahui, food neophobia merupakan rasa takut anak dengan makanan yang baru dilihatnya. Jika mengalami hal ini, si kecil kerap menolak makanan baru yang disodorkan kepadanya.

Bahkan bisa jadi anak menanggapinya dengan tangisan, amukan, dan teriakan saat Moms menyodorkan makanan baru ke dalam mulutnya.

Sebenarnya, food neophobia pada anak adalah hal yang wajar. Hanya saja, masih banyak orang tua yang tidak memahami hal ini dan langsung mencap perilaku makan anaknya dengan negatif.

Mengutip dari laman theAsianparent Indonesia, food neophobia dianggap sebagai tahap normal dalam perkembangan anak dan memengaruhi antara 50 dan 75% anak-anak. Biasanya terjadi antara usia 2-6 tahun dan kemudian hilang saat anak-anak tumbuh dewasa. 

Akan tetapi, dalam beberapa kasus, hal itu dapat berlanjut hingga dewasa. Mereka akan langsung menolak makanan baru saat disajikan, bukan saat dicicipi.

Apa Penyebab Anak Mengalami Food Neophobia?

Kondisi ini berkaitan dengan perilaku anak yang cenderung berhati-hati saat merespons hal baru. Maka dari itu, enggak heran kalau ia menolak makanan yang baru pertama kali dirasakan atau bahkan disajikan untuknya.

Di sisi lain, ini pun bentuk gambaran tentang penerimaan makanan dari aromanya. Jika aroma makanan dirasa asing oleh anak, tak menutup kemungkinan ia langsung menolaknya.

Sementara apabila suatu makanan dikenali dan diterima pada tingkat visual, bisa saja makanan itu akan dicicipi. Seleranya kemudian akan dinilai berdasarkan subjektifnya (positif atau negatif), yang pada gilirannya akan dikaitkan dengan citra visual. 

Itulah Moms penjelasan tentang food neophobia yang rentan dialami anak-anak. Kalau si kecil di rumah pernah mengalami jenis gangguan makan apa, nih, Moms?

Motherhood

Buah Hati Moms Makan Hanya Sedikit? Mungkin Ia Mengalami Small Eater

Moms, pernahkah mendengar istilah small eater? Ini merupakan salah satu jenis gangguan makan yang kerap dialami anak di masa tumbuh kembangnya.

Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), small eater adalah gangguan makan pada anak yang ditandai dengan sejumlah keluhan, yaitu anak makan sangat sedikit dan status gizinya kurang, padahal orang tua sudah menerapkan feeding rules yang benar.

Dalam beberapa litleratur, small eater disebut juga infantile anorexia, yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan penolakan makanan dan menyebabkan bayi gagal tumbuh. Kondisi ini umumnya terjadi saat fase transisi bayi ke MPASI atau makan sendiri, yaitu usia 6 bulan hingga 3 tahun.

Lantas Mom, apa, ya, penyebab anak mengalami small eater?

Mengutip dari laman theAsianparent Indonesia, small eating sering dikaitkan dengan kebutuhan emosional bayi. Seiring bertambahnya usia, bayi mulai mengembangkan keinginan untuk membuat keputusan sendiri, termasuk soal pilihan makanan.

Oleh karenanya, tidak heran jika si kecil menolak makanan yang Moms berikan, atau mereka memakan tapi hanya sedikit-sedikit. Si kecil juga sengaja menolak makanan untuk mendapatkan perhatian dari Moms.

Faktor-faktor seperti depresi dan gangguan makan yang Moms alami juga dapat menyebabkan small eating pada bayi.

Ibu yang mengalami depresi biasanya menunjukkan keterlibatan yang kurang positif saat memberi makan kepada anak. Semua ini dapat membahayakan kondisi emosional bayi dan mungkin menyebabkan mereka menolak makan.

Lalu, menurut US National Library of Medicine National Institutes of Health, bayi yang tumbuh dalam keluarga disfungsional atau pola pengasuhan yang tidak optimal juga lebih berisiko menjadi small eater.

Faktor emosional dan perilaku orang tua terhadap pemberian makan adalah alasan signifikan yang bisa memicu gangguan makan pada anak.

Gejala Small Eater

  • Si kecil makan dengan porsi sedikit
  • Biasanya lebih tertarik dengan bermain dibandingkan makan
  • Berhenti makan setelah beberapa gigitan
  • Selalu mengatakan tidak lapar
  • Berat badan tidak bertambah atau mengalami penurunan

Itulah Moms penjelasan tentang small eater yang kerap dialami anak. Jika buah hati Moms mengalaminya, segera konsultasi ke dokter anak, ya.

Motherhood

Karakter Anak Pertama atau Sulung, Moms Sudah Tahu?

Karakter setiap anak itu memang beda, ya, Moms. Jangan jauh-jauh, deh, melihat karakter anak Moms dengan anak dari orang tua lain. Coba Moms lihat karakter anak di rumah, dari anak sulung, anak tengah, hingga anak bungsu, pasti semuanya beda, kan?

Untuk kali ini Mami akan bagikan informasi tentang karakter anak sulung. Sebagai anak pertama, biasanya si sulung atau si kakak memiliki kepribadian yang lebih dewasa dibanding adik-adiknya.

Bahkan kedewasan ini bisa dilihat sejak ia masih kecil. Terutama untuk anak sulung yang memang sudah punya adik sejak ia kecil. Jangan heran kalau ia akan membantu Moms mengurus adiknya, menjaga sang adik, dan memberikan hampir seluruh perhatiannya untuk adik.

Anak sulung pun cenderung dapat diandalkan. Hanya saja, pada giliriannya ini dapat menyebabkan mereka tumbuh menjadi pribadi yang perfeksionis. Sebab, mereka selalu berusaha untuk menyenangkan hati orang tua.

Anak sulung pun terkenal rajin dan ingin unggul dalam segala hal yang mereka lakukan. Selain itu, ia juga teliti, rapi, waspada, cerdas, dan kerap kali sering mengontrol apa yang ada di dekat atau di sekitarnya.

Akan tetapi, beberapa karakter anak sulung ini pun bisa saja tidak dimiliki buah hati Moms di rumah. Pasalnya, pembentukan karakter atau kepribadian anak dipengaruhi juga oleh pola asuh orang tua di rumah.

Motherhood

Anak Suka Bicara Sendiri? Apa, ya, Penyebabnya?

Moms pernah enggak, sih, melihat si kecil sedang bicara sendiri? Kalau Mami pernah, nih. Hal itu pun membuat Mami penasaran kenapa, ya, anak-anak suka bicara sendiri? Apakah kondisi ini normal?

Nah, Moms, berdasarkan penjelasan seorang psikolog dari Toronto yang bernama Ester Cole, kondisi anak sering bicara sendiri itu normal, lo. Bahkan termasuk salah satu fase tumbuh kembangnya.

“Anak-anak menjelajahi dunia dan melatih bahasa, seperti halnya mereka belajar berjalan,” kata Ester Cole.

“Ini adalah permainan peran mereka. Mereka mengeksplorasi hubungan dan mereka juga membimbing diri mereka sendiri ketika sedang melakukan hal-hal tertentu,” lanjut Ester Cole menjelaskan.

Mungkin saja nantinya Moms akan melihat si kecil sedang berbicara sendiri sembari mengenakan sepatu, lalu terlihat asyik menceritakan pengalaman yang mereka alami ketika sedang berada di stroller, atau bahkan seakan curhat ke boneka sebelum beranjak tidur.

“Bisa jadi juga hal itu karena mereka meniru sesuatu yang dikatakan oleh orang tua atau pengasuh kepadanya,” jelas psikolog Ester Cole, mengutip dari laman Today’s Parent.

Jadi Moms jangan bingung, ya, kalau anak suka bicara sendiri, karena ini memang termasuk fase tumbuh kembang yang dilaluinya.

Motherhood

Si Kecil Enggan Minum Susu? Yuk, Coba Trik Ini, Moms!

Kadang ada saja, ya, Moms, polah si kecil yang bikin orang tua jadi bingung. Mulai dari tiba-tiba tantrum, mogok makan, dan sering juga sampai mogok minum susu! Kalau sudah kayak gini, bagaimana kita bisa mencukupi kebutuhan nutrisi harian si kecil?

Susu kaya akan vitamin dan mineral yang dapat mendukung tummbuh kembang si kecil. Adapun vitamin yang terkandung dalam susu yaitu vitamin A, D, dan E, serta vitamin B1, B2, B6, B12, niasin, folat, dan vitamin C. Sementara mineral yang ada dalam susu di antaranya kalsium, fosfor, magnesium, dan kalium.

Segala vitamin dan mineral tersebut sangat dibutuhkan oleh tubuh si kecil. Namun, bagaimana jika ia menolak minum susu? Adakah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya?

Tenang saja, Moms, ternyata ada, lo, cara agar si kecil tetap mendapat vitamin dan mineral yang terkandung dalam susu tanpa ia meminumnya secara langsung. Kali ini Mami akan bagikan tipsnya!

1. Moms bisa campur susu dengan perasa lain, seperti bubuk cokelat, madu, atau lainnya yang disukai oleh si kecil. Dengan begitu rasa susu yang si kecil minum akan lebih berbeda dari biasanya dan lebih lezat.

2. Membuat smoothie. Moms bisa coba mencampurkan buah-buahan yang si kecil sukai ke dalam susu untuk dibuat secangkir smoothie buah yang lezat.

3. Cara terakhir yaitu coba ganti mereka susu anak. Moms juga bisa coba susu jenis lain seperti susu almond atau susu kedelai.

Itulah 3 caranya, Moms. Selamat mencoba!

Motherhood

8 Manfaat Olahraga Yoga untuk Ibu Pascamelahirkan

Setelah menghabiskan beberapa jam dalam sehari untuk menggendong dan mengurus si kecil, Moms pasti butuh relaksasi tubuh, dong. Salah satu cara mudah yang bisa Moms lakukan adalah yoga.

Selain membuat tubuh lebih relaks, berlatih yoga juga dapat meningkatkan postur dan fleksibilitas Moms, serta membantu kesehatan secara keseluruhan.

Terdapat berbagai postur yoga dapat membantu Moms meregangkan dan memperkuat otot punggung dan leher yang lelah.

Nah, apabila Moms mulai tertarik melakukan yoga, inilah sederet manfaat yang akan Moms raih. Simak, yuk!

  1. Meningkatkan kebugaran umum
  2. Meningkatkan detak jantung
  3. Meningkatkan kesehatan mental
  4. Meningkatkan tingkat energi
  5. Mengurangi stres
  6. Membantu mengontrol berat badan
  7. Meningkatkan kekuatan tulang
  8. Membantu mengelola depresi pascapersalinan

Akan tetapi, patut Moms ingat juga, ya, alangkah lebih baik konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau pakarnya sebelum memulai segala bentuk olahraga setelah melahirkan.

Motherhood

10 Pertimbangan Saat Moms Akan Beli Stroller, Catat!

Salah satu barang yang wajib Moms miliki ketika sudah punya anak adalah stroller! Stoller dapat memudahkan Moms ketika melakukan sejumlah aktivitas bersama si kecil. Misalnya, saat harus bepergian, Moms bisa menaruh si kecil di stroller, alih-alih terus-menerus menggendongnya.

Si kecil juga akan merasa nyaman ketika berada di stoller, bahkan ia bisa tidur meski harus pergi keluar rumah. Jadi stroller ini sangat menguntungkan bagi orang tua dan si kecil, dong.

Akan tetapi, sebelum Moms membeli stroller untuk anak, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Tujuannya agar stroller yang Moms beli bisa bermanfaat dan tentu saja awet.

Melansir dari laman Momjunction, berikut ini 10 pertimbangan saat Moms memilih stroller anak.

  1. Pastikan rangka yang kokoh dan mekanisme kemudi yang mudah.
  2. Memiliki harness di lima titik, beberapa posisi berbaring, dan alas yang lebar.
  3. Mudah dibuka dan dilipat.
  4. Coba angkat stroller saat dibuka dan dilipat untuk memastikannya kokoh tetapi portabel.
  5. Periksa rem dan sistem penguncian setiap roda, serta pastikan pegangannya nyaman untuk Moms operasikan.
  6. Keranjang penyimpanan dan ruang bagasi yang cukup besar.
  7. Sebaiknya multifungsi, misalnya bisa juga dijadikan car seat bila diperlukan.
  8. Pastikan kemampuan manuvernya, baik dengan dan tanpa beban ekstra.
  9. Pastikan stroller sesuai dengan standar keselamatan yang telah ditetapkan.
  10. Garansi dan kebijakan pengembalian produk.

Jangan lupa juga periksa deskripsi produk, instruksi pabrik, dan detail produk untuk memastikan stroller yang akan dibeli sesuai dengan tinggi, berat, dan usia bayi si kecil, ya, Moms.

Motherhood

5 Sifat Anak Kedua, Moms Sudah Tahu Belum?

Ada yang bilang kalau anak kedua itu punya sifat pemberontak? Hmm, kira-kira benar enggak, ya, Moms?

Terkait hal ini, berdasarkan sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Child Development, urutan kelahiran anak ternyata berpengaruh juga terhadap pembentukan sifat atau kepribadiannya.

Maka dari itu, enggak heran Moms kalau buah hati di rumah, baik itu anak pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, memiliki kepribadian yang berbeda-beda.

Namun selain urutan kelahiran, tentu saja masih ada faktor lain yang memengaruhi kepribadian si kecil. Seperti pola asuh orang tua dan lingkungan sekitar.

Untuk anak kedua, Moms penasaran enggak, nih, kira-kira bagaimana penggambaran sifat mereka?

Kepribadian atau Sifat Anak Kedua

  1. Anak yang penyabar, khususnya pada anak yang memiliki adik. Sebab, setelah memiliki adik, mereka bisa melatih kesabarannya.
  2. Cerdas dan terampil. Melansir dari laman Psychology Today, anak kedua merupakan sosok negosiator yang sangat baik, cerdas, dan terampil. Pun lebih mau berkompromi dalam banyak hal, sehingga cenderung pandai dalam berdebat.
  3. Setia dan romantis. Anak kedua cenderung cocok dengan semua orang, sehingga membuatnya setia kepada teman, pasangan, dan mitra kerjanya kelak.
  4. Mudah beradaptasi.
  5. Pemberontak. Ternyata anak kedua cenderung lebih pemberontak dibandingkan dengan anak yang lahir di urutan pertama atau setelahnya.

Kira-kira gambaran sifat anak kedua ini sesuai enggak, nih, sama buah hati Moms di rumah?

Motherhood

5 Pertimbangan Memilih Car Seat Anak, Moms Wajib Tahu!

Saat Moms punya anak dan sering bepergian menggunakan mobil, jangan sampai lupa membeli car seat. Nyatanya car seat bukan sekadar akseseori, lo, Moms, melainkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk melindungi si kecil saat berkendara.

Car seat telah terbukti bisa melindungi si kecil apabila terjadi kecelakaan saat berkendara. Apabila terjadi tabrakan atau tiba-tiba saja mobil berhenti secara mendadak, penggunaan car seat bayi bisa mencegah anak terkena benturan atau terpelanting.

Lantaran fungsinya untuk melindungi anak, Moms tentu saja tidak boleh sembarang dalam memilih car seat. Ada sejumlah tips atau pedoman yang perlu Moms perhatikan. Apa sajakah itu?

Melansir dari laman KidsHealth, inilah 5 hal yang perlu diperhatikan saat membeli car seat anak.

  1. Pilih car seat dengan label yang menyatakan memenuhi standar keselamatan kendaraan.
  2. Apabila Moms membeli car seat bekas, periksalah kualitasnya dengan hati-hati. Jangan membeli car seat yang sudah dipakai lebih dari 6 tahun atau yang pernah mengalami kecelakaan meskipun bentuknya terlihat masih bagus.
  3. Hindari membeli car seat yang tidak lengkap atau ada bagian yang hilang. Selain itu, cek lebih dulu apakah car seat tersebut memiliki label tanggal pembuatan dan nomor model atau tidak.
  4. Periksa kapan ‘tanggal kedaluwarsa’ yang direkomendasikan pabrik. Jika ragu mengenai kualitas car seat yang akan dibeli atau jika ada keretakan dan menunjukkan tanda-tanda keausan, maka lebih baik tidak memilihnya.
  5. Saat membeli car seat pastikan ada kartu registrasi produk. Maka ketika produk itu sudah tidak layak pakai bisa diberi tahu untuk ditarik oleh pabrik.

Itulah Moms 5 pertimbangan saat memilih atau membeli car seat untuk anak. Pilih yang kualitasnya baik dan tentu saja sesuai budget, ya.