Pregnancy

Bahaya Cacar Monyet pada Ibu Hamil, Jangan Anggap Sepele!

Penyakit cacar monyet (monkeypox) menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi banyak orang. Sebab, penyakit ini memiliki sejumlah bahaya, terutama untuk kelompok rentan, salah satunya ibu hamil. Kira-kira apa, ya, Moms, bahaya cacar monyet untuk ibu hamil?

Walaupun kasusnya belum ditemukan di Indonesia, tetapi Moms tetap harus waspada dengan penyakit cacar monyet, terutama Moms yang sedang hamil. Sebab, mengutip dari situs Hellosehat, penyakit cacar monyet dapat menimbulkan komplikasi berbahaya dan gangguan kesehatan ibu hamil. Hal ini pernah disampaikan oleh Mbala et al. dalam sebuah laporan kasus di Republik Kongo pada 2017.

Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa ada 4 pasien ibu hamil yang awalnya datang ke rumah sakit dengan keluhan gejala mirip cacar monyet. Lalu, 2 orang pasien menunjukkan gejala pada trimester pertama, setelah itu mengalami keguguran.

Sementara pasien ke-3 mengaku gejala muncul saat trimester kedua dan akhirnya ia melahirkan bayi secara normal. Kemudian, pasien ke-4, menunjukkan gejala saat trimester kedua dan mengalami kematian janin tepat pada usia kehamilan 21 minggu.

Setelah dilakukan identifikasi pada janin, terdeteksi pembesaran hati abnormal (hepatomegali) dan penumpukan cairan pada rongga perut (efusi peritoneal).

Menurut peneliti, kedua kondisi ini timbul karena terinfeksi cacar monyeti. Pengamatan lainnya juga menunjukkan tampilan abnormal pada kulit (lesi kulit) kepala, telapak tangan, dan telapak kaki.

Sebelumnya, salah satu studi dalam The Journal of Infectious Disease pernah melaporkan kasus ibu hamil yang melahirkan bayi prematur pada minggu kehamilan ke-24. Bayi tampak mengalami ruam kulit yang mirip dengan gejala cacar monyet. Kemudian, enam minggu setelahnya, bayi tersebut meninggal.

Sayangnya, tidak dilakukan uji laboratorium sehingga peneliti tidak bisa mengonfirmasi apakah hal tersebut memang disebabkan oleh infeksi cacar monyet atau bukan?

Jadi, Moms, dari penjelasan tersebut, harus berhati-hati dengan penyakit ini, ya. Hindari segala penyebab penyakit cacar monyet.

Pregnancy

Mengenal Pemeriksaan TORCH untuk Ibu Hamil, Cek Moms!

TORCH adalah singkatan dari beberapa nama penyakit infeksi, yakni Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex virus, dan Sifilis. Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, pemeriksaan TORCH dilakukan untuk mendeteksi antibodi yang dihasilkan tubuh ketika terserang mikroorganisme penyebab penyakit-penyakit infeksi tersebut.

Pemeriksaan TORCH dapat dilakukan saat hamil trimester pertama. Selain itu, bisa juga dilakukan pada bayi baru lahir yang menunjukkan gejala-gejala penyakit infeksi yang tergolong ke dalam TORCH, seperti:

  • Sakit kuning (jaundice)
  • Tuli
  • Pembesaran hati dan limpa
  • Kejang
  • Keterlambatan pertumbuhan
  • Kelainan jantung
  • Berat dan panjang badan yang lebih kecil dari bayi seusianya
  • Katarak
  • Trombositopenia

Tahapan tes TORCH

Masih mengutip dari situs theAsianparent, berikut ini tahapan-tahapan TORCH yang dapat dilakukan:

  1. Dokter akan mengikat lengan atas dengan menggunakan alat khusus agar vena di lengan menggembung dan terlihat jelas.
  2. Lalu, dokter akan menusukkan jarum ke dalam vena dan memasang tabung steril untuk mengumpulkan sampel darah.
  3. Dokter akan mensterilkan bagian tubuh yang akan dijadikan tempat pengambilan sampel darah. Biasanya, sampel darah akan diambil dari pembuluh darah vena di lengan.
  4. Ikatan pada lengan akan dilepaskan agar darah dapat mengalir dengan sendirinya ke dalam tabung sampel.
  5. Setelah dirasa cukup, dokter akan mencabut jarum dan memasang perban pada titik tusukan jarum.

Sampel darah yang telah diambil akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa IgM dan IgG TORCH. Dari hasil pemeriksaan, dokter akan menilai apakah pasien sedang, pernah, atau tidak mengalami infeksi.

Pregnancy

Bolehkah Operasi LASIK Mata Saat Hamil?

Menurut penjelasan American Academy of Ophthalmology, operasi LASIK atau laser-assisted in-situ keratomileusis adalah tindakan medis yang dilakukan untuk menangani gangguan mata atau penglihatan. Adapun gangguan tersebut berupa rabun jauh (miopia), rabun dekat (hiperopia), dan astigmatisme.

Lantas, bolehkah menjalani operasi LASIK saat hamil? Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, menurut American Academy of Ophthalmology, melakukan operasi LASIK saat hamil tidak dianjurkan. Mengapa demikian?

Sebab, ketebalan dan kelengkungan kornea mata perempuan dapat meningkat karena perubahan hormonal selama hamil, maka koreksi penglihatan bisa jadi tidak akurat. Hal tersebut dapat menyebabkan masalah penglihatan setelah hormon kembali normal sehingga memerlukan operasi mata tambahan.

“Kebanyakan dokter mata merekomendasikan koreksi penglihatan laser sebelum kehamilan atau menunggu sampai setelah melahirkan bayi,” kata dokter mata Gregory Parkhurst, MD.

Dari penjelasan tersebut, jadi sebaiknya Moms tidak melakukan operasi LASIK mata saat hamil, ya.

Pregnancy

Ingin Pijat Saat Hamil? Jangan Lakukan di 4 Bagian Tubuh Ini!

Kaki dan punggung adalah contoh bagian tubuh yang aman dipijat saat hamil. Kalau begitu, bagian tubuh mana saja, ya, Moms, yang sekiranya tidak disarankan untuk dipijat saat hamil?

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, inilah bagian-bagian tubuh yang dilarang dipijat saat Moms sedang hamil, karena dapat memicu beragam dampak negatif!

1. Dada

Dada memiliki efek berbahaya jika mendapat tekanan pijat, terlebih jika dilakukan saat usia kehamilan masih muda. Memijat dada dapat memicu kontraksi atau persalinan prematur, pun berisiko menyebabkan bayi meninggal setelah dilahirkan.

2. Perut

Area perut manapun sebaiknya jangan dipijat sedikit pun! Sebab, perut dapat memicu interaksi langsung dengan janin serta memicu kontraksi yang memungkinkan Moms mengalami persalinan prematur.

3. Pinggang

Selain dada dan perut, bagian pinggang juga jangan dipijat saat Moms sedang hamil. Memijat pinggang dapat membahayakan janin dalam kandungan.

4. Pinggul

Letak pinggul berdekatan dengan janin sehingga bisa membahayakannya, bahkan bisa meningkatkan risiko keguguran.

Itulah 4 bagian tubuh yang dilarang dipijat saat hamil. Jangan sampai keliru, ya, Moms!

Pregnancy

Kapan Ibu Hamil Boleh Dipijat? Simak Penjelasan Ini Moms!

Saat tubuh terasa pegal, enaknya langsung dipijat, ya, Moms. Namun, bagaimana jika Moms sedang hamil? Kira-kira kapan ibu hamil boleh dipijat?

Pijat saat hamil sebenarnya boleh saja dilakukan asal jangan di bagian perut, pinggul, pinggang, dan dada. Adapun bagian tubuh yang aman untuk dipijat saat hamil yaitu kaki dan punggung.

Sementara itu, untuk waktu pijat saat hamil, mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, sejumlah praktisi pijat biasanya tidak akan melakukan pijatan untuk ibu hamil pada trimester pertama. Sebab, kondisi trimester pertama terlalu rentan mengalami keguguran. Walau begitu, masih belum banyak penelitian yang mendukung anggapan tersebut.

Lantaran banyak kasus keguguran yang terjadi pada trimester pertama, beberapa terapis pijat dan dokter menyarankan untuk tidak melakukan pijat pada trimester pertama. Selain mencegah keguguran, pijat saat trimester pertama pun dapat memicu pusing dan mual, yang pada akhirnya menyebabkan kondisi morning sickness yang Bunda alami menjadi lebih parah.

Lantas, kapan ibu hamil boleh dipijat? Masih mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, ibu hamil disarankan melakukan pijat setelah usia kehamilan 12 minggu atau memasuki trimester kedua.

Terapis biasanya akan meminta surat keterangan dokter kandungan yang menyatakan bahwa ibu hamil aman untuk dipijat. Ibu hamil biasanya direkomendasikan untuk pijat jika morning sickness telah berkurang, tidak memiliki risiko tinggi keguguran atau kondisi tertentu seperti gangguan plasenta, tekanan darah tinggi, preeklampsia dan risiko komplikasi.

Lantas, bagaimana jika trimester ketiga? Perlu Moms tahu, pijat saat trimester ketiga kehamilan pun tidak disarankan. Sebab, waktu ini sudah mendekati persalinan sehingga bisa berpotensi memicu kontraksi.

Oleh karenanya, waktu aman untuk melakukan pijat saat hamil yaitu saat trimester kedua.

Pregnancy

Program Bayi Tabung Bisa Deteksi Kelainan Genetik, Benarkah?

Salah satu program hamil yang bisa Anda dan pasangan lakukan untuk segera mendapat momongan adalah prosedur bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Mengutip dari situs Alodokter, melalui program bayi tabung, nantinya sel telur dan sperma akan digabungkan di laboratorium. Setelah sel telur berhasil dibuahi, embrio akan dipindahkan ke dalam rahim agar bisa berkembang dan terjadi kehamilan.

Program bayi tabung dapat meningkatkan peluang kehamilan bagi pasangan yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Misalnya, mengalami gangguan ovulasi, gangguan fungsi sperma, riwayat pengangkatan tuba falopi, disfungsi seksual, serta endometriosis.

Selain itu, program bayi tabung juga memiliki sederet kelebihan, salah satunya adalah dapat mendeteksi kelainan genetik pada calon buah hati Anda dan pasangan. Kok, bisa, ya?

Masih mengutip dari situs Alodokter, dalam program bayi tabung, sel telur yang dibuahi akan melalui tes genetik praimplantasi (preimplantation genetic diagnosis) sebelum ditanam di dalam rahim. Nah, tujuan dari tes ini yaitu untuk memeriksa kelainan genetik pada embrio.

Apabila ditemukan embrio dengan kelainan genetik, maka embrio tersebut akan dieliminasi. Kemudian, dokter akan memilih dan menanam embrio yang sehat tanpa kelainan genetik.

Jadi benar, ya, kalau program bayi tabung ini bisa mendeteksi kelainan genetik pada calon buah hati Anda. Lantas, adakah yang tertarik untuk mulai menjalani program bayi tabung?

Pregnancy

Bumil, Inilah Tips Menjaga Rambut Tetap Bersih dan Sehat Saat Hamil

Menjaga kesehatan dan kebersihan rambut adalah tugas masing-masing orang, tak terkecuali ibu hamil. Jika Moms pernah mendengar soal larangan keramas saat hamil, itu hanya MITOS, ya! Jangan dipercaya! Bumil boleh, kok, keramas. Lagi pula keramas adalah salah satu upaya untuk menjaga rambut agar tetap sehat dan bersih.

Selain keramas, ada juga tips atau cara lainnya yang bisa Moms lakukan untuk menjaga rambut tetap bersih dan sehat selama hamil. Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, berikut ini adalah tips-tips yang bisa Moms lakukan:

  • Jaga kebersihan sisir karena rambut akan cenderung cepat kotor dan membuat sisir menjadi lebih kotor lagi.
  • Moms dapat menjaga kebersihan rambut dengan menggosok bagian rambut secara halus menggunakan kain air panas atau handuk. Buat bagian-bagian kecil pada rambut dan coba bersihkan dengan menggosokannya menggunakan kain muslin atau katun yang dicelupkan ke dalam air panas (hati-hati pada suhu panasnya). Ini akan membuat kulit kepala bebas dari kotoran dan minyak, dan membuat kepala merasa bersih.
  • Untuk tipe rambut berminyak, tidak dianjurkan untuk mengoleskan minyak jenis apa pun ke rambut. Sebab, itu akan menjadikannya lebih berminyak lagi.
  • Jika rambut Moms kering, jangan khawatir, kulit kepala Anda akan menghasilkan minyak yang cukup untuk rambut.
  • Jika kulit kepala Moms agak berminyak, Moms bisa menyiasatinya dengan menaburkan bedak talek agar tetap kering.
  • Jauhkan rambut dari kotoran, debu, polusi, dan tutupi rambut dengan topi atau syal saat Moms keluar rumah.

Itulah Moms tips menjaga rambut tetap bersih dan sehat saat hamil. Jangan lupa dilakukan, ya.

Pregnancy

Benarkah Dehidrasi Saat Hamil Pengaruhi Produksi ASI?

Ibu hamil berpotensi mengalami dehidrasi atau kondisi tubuh kurang cairan. Terutama jika sedang mengalami morning sickness yang menyebabkan mual dan muntah. Sebab, muntah dapat membuat tubuh jadi sulit menyerap air yang dibutuhkan.

Kondisi dehidrasi ini sebaiknya jangan sampai Moms abaikan, karena berisiko memicu beragam kondisi buruk yang merugikan diri sendiri maupun janin yang sedang dikandung. Adapun salah satu dampak dari dehidrasi saat hamil yaitu dapat memengaruhi produksi ASI.

Kok, bisa, ya, Moms? Bukannya ASI baru diproduksi ketika si kecil sudah lahir ke dunia?

Perlu Moms tahu, mengutip dari laman theAsianparent Indonesia, produksi ASI dimulai sejak masa kehamilan. Di usia kehamilan 6 minggu, hormon memberi isyarat kepada tubuh untuk mengubah jaringan kelenjar menjadi sel pembuat susu yang disebut laktosit.

Sel-sel itu melapisi alveoli, kantung seperti balon yang melekat pada saluran dalam kelompok. Lalu, pada kehamilan 32 minggu, laktosit mulai memproduksi kolostrum untuk mengisi alveoli.

Nah, apabila Moms mengalami dehidrasi yang parah saat hamil, jaringan tubuh bisa saja mengering dan sel-sel akan mengerut sehingga tidak berfungsi dengan baik. Jika berlanjut terus-menerus, berisiko menyebabkan produksi ASI yang tidak memadai dan perubahan pada komposisi ASI.

Oleh karena itu, Moms jangan sampai mengalami dehidrasi saat hamil, ya. Yuk, cukupi kebutuhan air dalam tubuh dengan minum sekitar 10 cangkir setiap hari.

Pregnancy

Jangan Abai Moms! Kenali Tanda Ibu Hamil Kurang Cairan

Siapapun diharapkan untuk selalu memenuhi kebutuhan cairan setiap harinya, terutama ibu hamil. Sebab, mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, tubuh kita terdiri dari sekitar 60% air. Fungsi cairan dalam tubuh meliputi pencernaan, penyerapan, sirkulasi, pembuatan air liur, transportasi nutrisi, dan pemeliharaan suhu tubuh.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan Institute of Medicine merekomendasikan agar ibu hamil minum rata-rata 10 cangkir setiap hari. Namun, kebutuhan ini juga bisa berbeda menyesuaikan dengan kondisi setiap individu berdasarkan tingkat aktivitas, ukuran tubuh, dan suhu lingkungan.

Hanya saja, jika ibu hamil kurang minum, ia akan mengalami kondisi kurang cairan atau dehidrasi. Dampaknya bisa sangat berbahaya bagi Bumil maupun janin yang sedang dikandung. Seperti, kekurangan nutrisi untuk bantu perkembangan janin, hingga memicu perdarahan yang dapat berujung pada keguguran. Duh, pastinya Moms tidak mau, kan, mengalami kondisi buruk tersebut?

Oleh karena itu, guna mencegah segala dampak buruk yang mungkin saja terjadi, sebaiknya Moms mengenali tanda tubuh kurang cairan atau dehidrasi sejak dini. Dengan begitu, Moms bisa langsung mencukupi kebutuhan cairan yang dibutuhkan tubuh.

Masih mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, inilah tanda atau gejala dehidrasi ringan sampai sedang:

  • Mulut dan tenggorokan terasa kering
  • Tubuh tidak berkeringat sama sekali atau berkeringat terlalu banyak
  • Pusing atau sakit kepala ringan
  • Kulit dan bibir kering
  • Hanya sedikit air mata yang keluar saat menangis
  • Warna urine gelap atau urine berbau kuat
  • Jarang buang air kecil
  • Sembelit
  • Mual (walaupun ini juga bisa disebabkan oleh morning sickness saat hamil)
  • Merasa haus
  • Kram otot

Sementara itu, inilah tanda dan gejala dehidrasi sedang dan berat:

  • Sakit kepala parah
  • Urine yang sangat gelap
  • Haus yang parah
  • Kulit keriput
  • Mata cekung
  • Tidak ada air mata saat menangis
  • Sedikit atau tidak ada produksi keringat
  • Tekanan darah rendah
  • Detak jantung cepat
  • Pernapasan cepat
  • Demam
  • Ketidaksadaran
  • Kebingungan atau delirium

Moms, hati-hati jika mengalami gejala-gejala tersebut, ya. Jangan lupa selalu sempatkan waktu untuk minum!

Pregnancy

Minum Pil KB Saat Hamil Bisa Sebabkan Keguguran, Benarkah?

Terlanjur minum pil KB saat hamil bisa saja terjadi, loh, Moms. Banyak ibu yang merasa khawatir ketika mengalaminya. Mengingat fungsi pil KB dalam kondisi normal yaitu untuk mencegah kehamilan.

Bahkan tak sedikit ibu yang beranggapan jika tak sengaja minum pil KB saat hamil bisa memicu keguguran. Lantas, benarkah anggapan tersebut?

Mengutip dari situs SehatQ.com, nyatanya anggapan tersebut tidaklah benar, atau hanya mitos belaka. Pil KB memiliki fungsi dan cara kerja yang berbeda dengan pil aborsi yang memang ditujukan untuk menggugurkan kandungan.

Hormon dalam pil bekerja dengan menghentikan ovulasi dan mengentalkan serta menebalkan lendir pada area serviks untuk mencegah sperma memasuki rahim.

Tindakan tersebut tidak menyebabkan keguguran atau lahir mati. Oleh karenanya, pil KB sama sekali tidak memiliki efek aborsi saat kehamilan telah terjadi.