Pregnancy

Bolehkah Ibu Hamil Pakai Toilet Jongkok?

Perut yang semakin membuncit saat hamil sering kali membuat Moms jadi sedikit terkendala jika hendak melakukan sesuatu. Tak terkecuali jika ingin buang air kecil menggunakan toilet jongkok.

Terkait dengan hal ini, sebenarnya boleh atau aman enggak, sih, Moms, jika ibu hamil menggunakan toilet jongkok?

Mengutip dari laman SehatQ.com, ibu hamil boleh saja pakai toilet jongkok selama memperhatikan dengan baik keamanan dan kenyamanannya. Seperti pastikan pijakan di toilet jongkok tidak licin, atau Moms menggunakan alas kaki yang tidak licin guna mencegah jatuh terpeleset.

Tak luput, pastikan juga Moms memiliki pegangan yang bersih dan kokoh untuk bantu saat hendak berdiri setelah jongkok. Sebab, berdiri setelah jongkok sering kali sulit dialami oleh ibu hamil, terlebih bagi mereka yang sudah hamil besar.

Hal terakhir yang harus diperhatikan adalah kebersihan toilet yang digunakan. Cari toilet yang bersih dan kering untuk mencegah paparan infeksi yang dapat membahayakan kesehatan Moms dan janin.

Pregnancy

Posisi Buang Air Kecil yang Baik untuk Ibu Hamil

Saat hamil, Moms memang harus melakukan apa pun dengan berhati-hati, termasuk saat hendak buang air kecil. Jika Moms saat ini sedang hamil, tak ada salahnya untuk mengetahui posisi buang air kecil yang baik untuk bumil.

Mengutip situs SehatQ.com, adapun posisi buang air kecil atau pipis yang baik untuk ibu hamil yaitu dengan sedikit mencondongkan tubuh ke depan agar kandung kemih bisa benar-benar kosong.

Posisi ini disarankan bagi bumil, karena selama hamil frekuensi buang air kecil meningkat drastis. Dengan mengosongkan kandung kemih, Moms dapat mengurangi frekuensi harus ke toilet.

Meski demikian, hal penting yang tidak boleh Moms abaikan adalah memastikan keamanan saat menggunakan toilet, serta kebersihannya. Terlebih jika Moms buang air kecil di toilet umum.

Hindari menggunakan toilet umum yang kotor. Sebab, jika buang air kecil di toilet duduk yang kotor, risiko Moms terkena berbagai infeksi akan meningkat, termasuk infeksi saluran kemih.

Oleh karena itu, jika ingin bepergian dan kemungkinannya Moms akan buang air kecil di toilet umum, bawalah tolet seat covers atua lapisan penutup dudukan toilet untuk memastikan permukaan toilet yang Moms nantinya duduki tetap steril.

Pregnancy

3 Faktor Penyebab Stretch Mark Selama Kehamilan

Stretch mark atau guratan yang kerap muncul di bagian paha, perut atas, payudara, bokong, dan lengan atas dialami oleh sekitar 90% ibu hamil.

Melansir dari situs Momjunction, ada beberapa faktor risiko yang bisa jadi penyebab munculnya stretch mark selama hamil.

Di antaranya yaitu:

1. Peregangan Fisik

Tubuh Moms akan mengembang selama kehamilan, dan akibatnya, kulit mulai meregang. Peregangan yang terus-menerus tidak akan memberikan waktu yang cukup lama bagi kulit untuk pulih dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Oleh karena itu, kulit mulai robek dan meninggalkan bekas luka, membentuk stretch mark.

2. Hormon

Meningkatnya hormon kehamilan menarik air ekstra ke dalam kulit yang membantu mengendurkan ikatan serat kolagen. Hal ini dapat membuat kulit mudah robek saat diregangkan, sehingga menyebabkan stretch mark.

3. Faktor Keturunan

Meskipun tidak spesifik untuk kehamilan, stretch mark mungkin bersifat genetik. Jika orang tua Moms, khususnya ibu, memiliki stretch mark, kemungkinan besar Moms juga akan mengalaminya selama kehamilan.

Itulah Moms beberapa faktor penyab stretch mark saat hamil. Memang, sih, bisa mengganggu penampilan, tetapi jangan terlalu ambil pusing, ya. Nikmati kehamilan dengan sukacita dan sehat!

Pregnancy

5 Cara Mencegah Stretch Mark Saat Hamil

Stretch mark adalah guratan yang muncul pada kulit tubuh, khususnya di bagian yang banyak mengandung lemak. Seperti di paha, bokong, perut atas, lengan atas, serta payudara.

Ibu hamil sering kali mengalami stretch mark. Melansir dari situs Momjunction, sekitar 90% wanita mengalami stretch mark selama masa kehamilan.

Meski demikian, stretch mark ini masih bisa Moms cegah kondisinya agar tidak terlalu parah. Berikut adalah beberapa cara yang bisa Moms lakukan untuk mencegah stretch mark saat hamil.

1. Kontrol Berat Badan

Cobalah untuk menjaga berat badan yang sehat dengan diet seimbang. Kenaikan berat badan yang stabil dan sehat dapat membantu mengurangi terjadinya atau intensitas stretch mark.

2. Tetap Terhidrasi

Minum setidaknya dua liter air per hari dan tetap terhidrasi dapat membantu meremajakan dan memperkuat kulit Moms.

3. Cukupi Asupan Kaya Nutrisi

Kulit kita mengandung serat kolagen dan elastin, yang membantu mengencangkan kulit saat meregang. Kulit yang kencang dan kuat cenderung tidak meregang dan meninggalkan bekas luka.

Oleh karena itu, konsumsilah makanan kaya seng, vitamin C dan E, karena nutrisi ini membantu membentuk kolagen dan memperbaiki kerusakan jaringan. Selain itu, vitamin B2 dan B3 penting untuk kesehatan kulit.

4. Olahraga

Olahraga teratur dapat meningkatkan sirkulasi dan meningkatkan elastisitas kulit.

5. Gunakan Pelembap

Selain hidrasi dan olahraga, Moms juga bisa menjaga kekenyalan kulit dengan menggunakan pelembap secara teratur. Moms dapat mengoleskan pelembap dua kali setiap hari dari trimester pertama untuk menjaga kulit tetap terhidrasi dan elastis.

Itulah Moms cara-caranya, semoga bisa membantu, ya.

Pregnancy

Amankah Melakukan Hubungan Seks Saat Hamil?

Pernikahan tanpa hubungan bagaikan sayur tanpa garam, ya, Moms… Seperti ada yang kurang! Namun, bagaimana kalau kondisinya Moms lagi hamil, nih? Apakah boleh melakukan hubungan seksual dengan pak suami ketika kita lagi hamil?

Eits, enggak usah panik, Moms, ternyata melakukan hubungan seks saat hamil cenderung aman, loh, terutama bagi Moms yang memiliki kondisi kehamilan sehat. Hal ini diungkapkan oleh The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Aktivitas ini termasuk hubungan seksual atau penetrasi dengan jari maupun mainan seks.

Akan tetapi, jika kondisi kehamilan Moms kurang sehat atau memiliki komplikasi tertentu, lebih baik konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan.

Lalu, adakah dampaknya bagi janin jika Moms dan pak suami melakukan hubungan seks saat hamil? Tenang saja, Moms, ternyata buah hati kita tetap aman, kok, di dalam kandungan. Sebab, ada kantung ketuban dan otot rahim yang kuat melindungi janin. 

Patut diingat pula kalau seks saat hamil tidak memicu keguguran! Melansir situs Mayoclinic.org, berhubungan seks selama masa kehamilan tidak akan memicu keguguran. Mayoritas keguguran terjadi karena janin tidak berkembangan secara normal, bukan karena melakukan hubungan seksual saat hamil.

Pregnancy

Sesak Napas Saat Hamil, Apa, sih, Penyebabnya?

Hamil merupakan momen membahagiakan bagi para wanita yang telah menikah. Perasaan sukacita seakan menyelimuti hari-hari yang dijalani, karena status sebagai ibu tak lama lagi akan disandang.

Akan tetapi, di balik kebahagiaan itu, ibu hamil kerap kali merasakan sejumlah keluhan yang membuat tubuh terasa tidak nyaman. Sebut saja yang paling sering terjadi adalah mual dan muntah, khususnya di trimester pertama.

Selain itu, sejumlah ibu hamil pun kerap mengeluhkan sesak napas atau napas pendek. Sebenarnya kondisi ini normal-normal saja, tetapi pastinya sangat tidak nyaman dan bisa mengganggu aktivitas harian.

Lantas, apa, ya, Moms, penyebab sesak napas saat hamil?

Mengutip dari situs Alodokter.com, sesak napas yang dialami di awah kehamilan bisa disebabkan oleh peningkatan kadar progesteron. Kondisi ini membuat kebutuhan tubuh bernapas menjadi meningkat. Sementara itu, tubuh ibu harus menyesuaikan diri karena berbagi oksigen dengan janin, sehingga napas terasa sesak.

Sedangkan jika sesak napas dialami di trimester akhir kehamilan, adapaun faktor yang bisa menjadi penyebabnya adalah tekanan pada diafragma. Hal ini terjadi karena ukuran rahim yang semakin membesar.

Itulah Moms faktor-faktor penyebab sesak napas saat hamil. Apakah Moms pernah merasakan keluhan ini atau justru saat ini sedang mengalaminya? Tetap semangat, ya, Moms.

Pregnancy

Baby Blues Sebelum Melahirkan, Mungkinkah Terjadi?

Mungkin Moms sudah tidak asing lagi dengan sindrom baby blues atau gangguan suasana hati yang kerap menyerang ibu setelah melahirkan. Ternyata, Moms, sindrom baby blues ini bisa juga terjadi saat masih hamil, lo.

Baby blues sebelum melahirkan dikenal dengan istilah pre-baby blues atau depresi antepartum (antepartum depression). Lantas, apa penyebabnya? Menurut American Pregnancy Association, secara umum penyebab baby blues tidak diketahui secara pasti.

Akan tetapi, para ahli kesehatan percaya, nih, Moms, kalau kondisi ini berkaitan erat dengan terjadinya perubahan hormon selama hamil dan setelah melahirkan.

Mengutip dari situs Hellosehat.com, saat hamil, hormon estrogen dan progesteron akan meningkat jumlahnya. Namun, kadarnya akan menurun setelah bayi dilahirkan. Naik dan turunnya hormon ini kemungkinan besar memengaruhi proses kimia di otak sehingga bisa memicu depresi.

Untuk kondisi baby blues sebelum melahirkan, kemungkinan besar terjadi pada perempuan yang baru pertama kali hamil, alias hamil anak pertama. Ternyata, kondisi ini bisa memicu perasaan takut dan cemas berlebih, khususnya terhadap proses persalinan yang akan dihadapinya nanti.

Di samping itu, ada juga sederet faktor penyebab lainnya yang bisa meningkatkan risiko baby blues sebelum melahirkan. Seperti kurang mendapat dukungan sosial dan emosional dari lingkungan sekitar serta pasangan selama masa kehamilan. Lalu, pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga, atau tidak nyaman dengan pernikahan yang dijalaninya.

Itulah Moms informasi tentang baby blues saat hamil. Semoga kita bisa terhindar dari kondisi ini, ya, Moms. Yuk, jalani masa kehamilan hingga si kecil lahir dengan penuh sukacita.

Pregnancy

Mengenal Oksiput Posterior, Posisi Janin Telentang yang Berisiko Ganggu Persalinan

Pastinya ada banyak hal yang perlu Moms persiapkan ketika memasuki usia trimester ketiga kehamilan. Namun, di tengah persiapan itu, sebaiknya Moms tetap waspada dengan kondisi kehamilan.

Termasuk waspada dengan posisi janin Occiput Posterior (OP) atau Oksiput Posterior. Moms mungkin jarang mendengar atau bahkan tidak familier tentang posisi janin oksiput posterior.

Lantas, apakah itu posisi janin oksiput posterior?

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, oksiput posterior merupakan posisi bagian belakang janin, kepala atau punggung janin, berhadapan dengan tulang belakang ibu.

Posisi ini bisa disebut juga dengan bayi telentang. Sebab, punggung bayi berada di punggung ibu, dan memasuki pelvis dengan kepala menghadap ke depan. Perlu Moms ketahui, posisi ini sangat berlawanan dengan posisi oksiput anterior yang dianggap posisi optimal untuk melahirkan.

Apa Risiko Posisi Janin Oksiput Posterior?

Posisi ini dinilai membuat proses persalinan normal akan berjalan lebih lama. Bahkan beberapa ibu ada yang lebih membutuhkan pitocin atau obat induksi persalinan untuk merangsang kontraksi.

Selain itu, tak menutup kemungkinan juga untuk melahirkan dengan cara operasi caesar. Kemudian, berisiko mengalami perdarahan postpartum yang lebih besar.

Lalu, persalinan normal dengan posisi janin ini pun lebih mungkin membuat Moms mengalami episiotomi atau sayatan yang dibuat pada perineum (jaringan di antara jalan lahir bayi dan anus) pada saat proses persalinan.

Posisi oksiput posterior saat lahir juga dikaitkan dengan risiko komplikasi jangka pendek yang lebih tinggi untuk bayi. Misalnya, skor Apgar lima menit yang lebih rendah, kemungkinan lebih besar perlu dirawat di unit perawatan intensif neonatal, dan tinggal di rumah sakit yang lebih lama.

Itulah Moms penjelasan tentang posisi oksiput posterior yang perlu diwaspadai. Jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan dokter, ya, terkait kondisi Moms dan janin dalam kandungan.

Pregnancy

5 Pertimbangan Ibu Hamil Perlu Ganti Dokter

Memilih dokter kandungan yang tepat itu ibarat seperti memilih jodoh, ya, Moms. Ibu hamil perlu merasa cocok dan nyaman dengan dokter kandungan. Sebab, sang dokterlah yang akan membantu Moms sejak awal kehamilan hingga persalinan.

Maka dari itu, terkadang tidak mudah untuk memilih dokter kandungan yang tepat. Bahkan ketika sudah menemukan dokter kandungan pun ada kalanya ibu hamil tiba-tiba merasa tidak nyaman dengannya.

Nah, jika Moms sedang berada di situasi ini, ada beberapa hal yang perlu diketahui sebagai pertimbangan jika Moms dirasa perlu ganti dokter kandungan. Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, inilah 5 pertimbangan ibu hamil perlu ganti dokter kandungan.

  1. Komunikasi Moms dengan dokter tidak berjalan baik
  2. Tidak mendapat respons yang baik dari dokter saat konsultasi
  3. Dokter sering terburu-buru saat konsultasi sehingga tidak menjelaskan informasi secara detail
  4. Terlalu lama saat menunggu janji bertemu dengan dokter
  5. Adanya ketidaksamaan prinsip antara dokter dengan Moms

Apabila Moms mengalami hal itu, Moms bisa pertimbangan kembali untuk tetap bersama dokter yang sama atau ganti dokter.

Pregnancy

Bahaya Diabetes Gestasional yang Dialami Ibu Hamil, Moms Wajib Tahu!

Diabetes saat hamil atau yang disebut dengan diabetes gestasional adalah sebuah kondisi yang patut diwaspadai. Pasalnya, kondisi ini bisa berdampak buruk bagi Moms maupun janin yang sedang dikandung.

Lantas, apa sajakah risikonya?

Melansir dari situs theAsianparent Indonesia, berikut ini sederet risiko kesehatan yang bisa terjadi ketika ibu hamil mengalami diabetes gestasional. Hati-hati, Moms, karena dampak ini sangat fatal!

Risiko pada bayi:

  1. Kelahiran prematur
  2. Bayi lahir dengan ukuran yang besar
  3. Bayi berisiko tinggi mengalami distosia bahu saat lahir
  4. Keguguran
  5. Bayi lahir mati atau stillbirth

Risiko pada ibu:

  1. Mengalami preeklampsia
  2. Kemungkinan tidak bisa melahirkan secara normal

Oleh karena itu, bumil patut menjaga gaya hidup sehat agar terhindar dari kondisi diabetes gestasional. Bahkan sebaiknya terapkan pola hidup sehat dari jauh-jauh hari sebelum hamil.