Ibu Menyusui

3 Cara Efektif Menambah Lemak Dalam ASI yang Bisa Moms Lakukan

Lemak adalah makronutrien penting dalam makanan bayi. Selain sebagai sumber energi utama dalam ASI, lemak dan metabolitnya membantu perkembangan dan pertumbuhan otak bayi. Namun, jumlah lemak dalam ASI seorang ibu bisa bervariasi sepanjang hari.

Mengutip dari situs Momjunction, pergantian kadar lemak ASI biasa terjadi dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, ada beberapa cara untuk menentukan apakah bayi Moms menerima cukup lemak dari ASI atau tidak.

Lantas, apa faktor yang memengaruhi lemak dalam ASI? Berikut ini adalah penjelasan mengenai faktor-faktor yang dapat memengaruhi komposisi lemak dalam ASI yang perlu Moms ketahui.

1. Kekosongan Payudara

Jumlah lemak biasanya berfluktuasi berdasarkan kekosongan payudara. Semakin kosong payudara, semakin tinggi kandungan lemaknya. Selain itu, hindmilk (susu yang keluar menjelang akhir) lebih kaya lemak daripada foremilk (susu yang keluar pertama kali).

2. Waktu Menyusui

ASI yang dikeluarkan pada sore dan malam hari biasanya mengandung lebih banyak lemak. Hal ini terjadi karena akumulasi bertahap lemak dalam susu sepanjang hari. Bayi mungkin lebih jarang menyusu di siang hari sejak mereka tidur siang, sehingga memberi mereka susu dengan kandungan lemak lebih banyak di sore dan malam hari.

3. Status Gizi Ibu

Jenis dan jumlah lemak yang dikonsumsi ibu diteruskan ke bayi melalui ASI. Oleh karena itu, penting bagi ibu menyusui untuk mengonsumsi makanan dengan komposisi asam lemak yang sehat.

Baby

Takaran Susu Bayi Setelah Mulai MPASI

Setiap ibu tentu ingin bisa memberikan ASI kepada buah hatinya. Namun, ada saja kendala yang pada akhirnya pemberian ASI tidak bisa dilakukan. Saat Moms tidak bisa memberikan ASI kepada si kecil, susu formula adalah alternatif lain asupan yang cocok untuk bayi.

Susu formula bisa Moms berikan kepada bayi sejak ia baru lahir, bahkan hingga saat bayi mulai diberikan makanan padat atau MPASI. Hanya saja, takaran susu formula yang diberikan untuk bayi baru lahir dengan bayi yang sudah diberi makanan padat tentunya berbeda.

Nah, Moms, berikut ini takaran susu bayi untuk bayi yang sudah mulai diberikan MPASI atau makanan padat, melansir dari situs theAsianparent Indonesia.

Berdasarkan American Academy of Pediatrics (AAP), rata-rata bayi harus mengonsumsi sekitar 75 ml susu formula sehari untuk setiap 4,5 kg berat badannya.

Contoh menghitung jumlah takaran susu pada bayi dengan berat 6 kg, maka bayi setidaknya mengonsumsi susu formula sebanyak 100 ml.

Sebagian besar bayi puas dengan 90-120 ml per makan selama bulan pertama. Kemudian, jumlah itu meningkat sebanyak 30 ml per bulan, sampai mencapai maksimum sekitar 210-240 ml. 

Jika bayi secara konsisten terlihat menginginkan lebih atau kurang dari takaran tersebut, Moms bisa diskusikan dengan dokter anak. Sebab, sebaiknya bayi tidak minum lebih dari 960 ml susu formula dalam 24 jam, dikarenakan akan mengganggu penyerapan zat besi (Fe). 

Saat bayi sudah mulai diberikan MPASI, asupan susu formula hariannya bisa berkurang dalam satu hari, yaitu sekitar 600 mililiter. Pasalnya, bayi juga mendapatkan asupan lain dari berbagai makanan padat yang mulai diberikan kepadanya.

Satu hal yang perlu orang tua perhatikan, yakni kebutuhan susu setiap bayi berbeda. Maka dari itu, jangan khawatir jika buah hati Moms tidak mau minum susu dalam jumlah tersebut.

Baby

Kenapa Bayi Perlu Bersendawa? Simak Alasannya, Moms!

Bersendawa merupakan cara mudah untuk melepaskan udara yang terperangkap dalam sistem pencernaan.

Bagi orang dewasa, bersendewa adalah sesuatu yang mudah saja dilakukan. Namun, berbeda dengan bayi, ia perlu bantuan agar bisa bersendawa.

Mengapa, sih, bayi perlu juga bersendawa?

Mengutip dari situs Momjunction, saat diberi makan, bayi cenderung menelan udara. Selain menelannya secara oral, bayi dapat menghasilkan gas selama pencernaan.

Bayi dengan intoleransi laktosa atau yang alergi susu formula dapat menghasilkan gas berlebih. Demikian pula, makanan yang dikonsumsi oleh ibu menyusui dapat menghasilkan gas pada beberapa bayi yang disusui.

Oleh karena itu, membiarkan bayi Moms bersendawa dapat membantu melepaskan gas yang terbentuk keluar melalui mulut. Hal ini bermanfaat bagi bayi, seperti mencegah kembung dan kemungkinan muntah saat menyusu.

Baby

Mengenal Penyakit Kuning ASI yang Bisa Dialami Bayi, Apa Saja Gejalanya?

Penyakit kuning ASI pada bayi biasanya tidak perlu dikhawatirkan, tetapi jika buah hati Moms mengalami jenis penyakit kuning khusus ini, berikut adalah fakta yang Moms perlukah sehingga Moms akan tahu jika ada sesuatu yang salah.

Mengutip dari situs Parents.com, lebih dari separuh bayi mengalami penyakit kuning dalam beberapa minggu pertama, tetapi sekitar 20 hingga 30 persen bayi yang disusui mendapatkan jenis penyakit kuning yang berhubungan langsung dengan menyusui. Inilah yang perlu diketahui tentang jenis penyakit kuning khusus ini.

Mengenal Penyakit Kuning ASI

Secara umum, bayi yang diberi ASI memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalami penyakit kuning dibandingkan bayi yang diberi susu formula.

Penyakit kuning menyusui, atau penyakit kuning asupan suboptimal, terjadi ketika bayi yang disusui tidak mendapatkan cukup ASI dan kesulitan menyusu. Ini biasanya terjadi pada minggu pertama dan dapat diobati dengan meningkatkan pemberian makan untuk membantu membuang kelebihan bilirubin.

Ikterus ASI, di sisi lain, terjadi bahkan ketika bayi mendapatkan cukup ASI dan memiliki perlekatan yang kuat. Biasanya dimulai ketika bayi berusia dua minggu dan dapat berlanjut hingga dua belas minggu.

Gejala penyakit kuning ASI pada bayi di antaranya:

  • Menguningnya mata atau kulit
  • Berat badan tidak bertambah
  • Lesu atau mengantuk
  • Tangisan bernada tinggi

Apa Penyebab Penyakit Kuning ASI?

Dokter tidak tahu mengapa ikterus ASI terjadi, tetapi hal itu mungkin berkaitan dengan zat dalam ASI yang mencegah hati bayi Moms memecah bilirubin. Jenis penyakit kuning ini mungkin memiliki komponen genetik juga, yang berarti dapat diturunkan dalam keluarga.

Itulah Moms penjelasan tentang penyakit kuning ASI. Semoga bermanfaat.

Baby

Ciri-Ciri Bayi Alergi Protein Susu Dilihat dari Fesesnya, Cek Moms!

Sejumlah bayi mengalami intoleransi protein susu sapi, mungkin salah satunya adalah buah hati Moms? Jika mengalami intoleransi atau alergi protein susu sapi, bayi biasanya menunjukkan gejala rewel, sakit perut, muntah, hingga muncul ruam.

Selain itu, ternyata intoleransi protein susu sapi pun dapat ditunjukkan melalui gejala lain, yakni dari fesesnya. Kira-kira apa saja ciri atau gejala bayi alergi susu jika dilihat dari fesesnya?

Mengutip dari situs Parents.com, ini adalah gejala yang perlu Moms perhatikan!

  1. Feses lebih encer dan lembek (diare), terutama jika terjadi dua hingga empat kali sehari selama lebih dari 5-7 hari.
  2. Warna feses sedikit merah karena tercampur darah. “Merah cerah dapat menunjukkan peradangan usus besar,” kata Wendy Sue Swanson, M.D., MBE, FAAP, dokter anak dan Kepala Petugas Medis SpoonfulONE.
  3. Kotoran berlendir yang menyerupai ingus di popok.

Apa yang Harus Dilakukan jika Bayi Mengalami Alergi Protein Susu?

Masih mengutip dari situs Parents.com, dokter anak mungkin akan merekomendasikan diet eliminasi, yang melibatkan menghilangkan makanan pemicu alergi dari piring ibu (susu, keju, yoghurt, es krim, dll.).

Lalu, untuk bayi yang diberi susu formula, bisa beralih ke jenis susu formula yang berbeda. Setelah itu biasanya gejala akan membaik dalam dua atau tiga minggu.

Meskipun kotoran bayi yang tidak biasa bisa tampak mengkhawatirkan, para ahli menekankan bahwa peradangan usus kecil bukanlah masalah besar, dan kemungkinan dokter anak akan merekomendasikan untuk memperkenalkan kembali bayi Anda pada susu di waktu-waktu tertentu.

Baby

Alasan Bayi Suka Isap Jempol, Moms Sudah Tahu?

Moms pasti pernah atau bahkan sering melihat bayi mengisap jempolnya. Kira-kira kenapa, ya, banyak bayi yang gemar mengisap jempol?

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, bagi bayi baru lahir, sensasi membuka mulut dan memasukkan ibu jari adalah hal yang menyenangkan.

Fakta menarik pula bahwa kebiasaan bayi mengisap jempol ini pun adalah kelanjutan dari kebiasaan yang sudah ia lakukan sejak dalam kanudungan. Mungkin Moms juga pernah melihatnya saat melakukan USG kehamilan?

Selain itu, menurut penjelasan pada laman Mayo Clinic, bayi memiliki refleks rooting dan mengisap alami. Pun bayi ternyata merasa aman ketika mereka mengisap jempolnya.

Oleh karenanya, beberapa bayi akan mengembangkan kebiasaan mengisap jempol atau ibu jari saat mereka membutuhkan ketenangan atau akan tidur.

Nah, kalau buah hati Moms di rumah suka mengisap jempolnya juga enggak, nih?

Baby

Normalkah Bayi Baru Lahir Sering Tidur?

Moms pasti sering melihat, kan, kalau bayi baru lahir itu banyak tidur? Mayoritas bahkan hampir seluruh bayi baru lahir memang akan tidur lebih sering.

Lantas, apa, sih, penyebab dari kondisi ini?

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, saat masih berada di dalam rahim, bayi sudah menghabiskan banyak waktunya untuk tidur. Ia merasa sangat nyaman dikelilingi oleh rahim yang hangat dan merasa tenang serta aman saat mendengarkan suara Moms.

Lantaran terbiasa tidur di dalam kandungan, hal itu pun terbawa hingga ia lahir ke dunia. Sehingga bayi baru lahir biasanya akan tidur terus-menerus. Dan ini merupakan kondisi yang normal, ya, Moms.

Menurut National Sleep Foundation, dalam periode 24 jam seorang bayi baru lahir dapat tidur antara 14 hingga 17 jam. Beberapa bayi bahkan tidur hingga 18 jam sehari. Sehingga 75% dari hari bayi dihabiskan untuk tidur.

Mengutip dari Healthline, Karen Gill, MD, FAAP menjelaskan bahwa selama dua atau tiga minggu pertama bayi lebih banyak tidur dan jarang menyusu.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa bayi harus bangun setidaknya 8 hingga 12 kali untuk menyusui dalam waktu 14 jam. Setelah ia melewati usia tiga minggu, pola tidurnya menjadi lebih bervariasi dan berkurang, meski ada juga bayi yang tidur lebih lama daripada yang lain.

Jadi kebiasaan bayi baru lahir yang sering tidur itu normal, ya, Moms.

Motherhood

Manfaat Membaca Nyaring bagi Anak, Simak Moms!

Membaca nyaring buku cerita atau read aloud biasanya dilakukan oleh para orang tua saat menemani buah hati yang hendak tidur. Apakah Moms juga salah satu yang melakukan kebiasaan ini?

Tak hanya membacakan atau menyampaikan cerita yang terkandung dalam buku kepada anak, ternyata membaca nyaring pun memiliki manfaat lain untuk si kecil. Apa sajakah itu?

Mengutip dari situs SehatQ.com, inilah beragam manfaat dari kebiasaan membaca nyaring yang Moms lakukan kepada si kecil.

  1. Membantu perkembangan kognitif dan keterampilan bahasa
  2. Membantu memperluas kosa kata anak
  3. Meningkatkan konsentrasi si kecil
  4. Bantu mengembangkan kreativitas anak
  5. Melatih keterampilan mendengarkan
  6. Bonding antara anak dan orang tua

Setelah mengetahui beragam manfaat dari membaca nyaring, diharapkan Moms jadi lebih sering melakukannya kepada si kecil, ya, agar masa perkembangannya bisa berjalan lebih optimal.

Baby

Waspadai Bahaya Bayi Tidur Tengkurap!

Tidur tengkurap tampaknya menjadi posisi tidur yang disukai si kecil. Namun, sebenarnya posisi ini tidak cukup aman bagi bayi sampai ia bisa berguling sendiri.

Mengutip dari SehatQ.com, ternyata posisi tidur tengkurap dapat menurunkan kadar oksigen dan meningkatkan karbondioksida pada bayi sehingga bisa mengurangi fungsi paru-paru. Sebab saat tidur tengkurap, bayi cenderung menghirup kembali udara yang mereka embuskan. 

Selain itu, tidur tengkurap atau miring juga bisa membuat tubuh bayi kesulitan mengeluarkan panas berlebih. Dampaknya bisa membuat bayi lebih mudah kepanasan yang pada akhirnya meningkatkan risiko sudden infant death syndrome (SIDS) atau sindrom kematian mendadak pada bayi.  

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bayi yang tidur tengkurap akan lebih besar kemungkinan untuk mengalami kematian mendadak atau SIDS, bahkan hingga 12,9 kali dibandingkan dengan tidur telentang.

Oleh karena itu, jangan biarkan bayi tidur tengkurap, ya, Moms. Maka dari itu selalu awasi si kecil saat ia sedang tidur. Pastikan posisi tidur si kecil aman dan nyaman.

 

Ibu Menyusui

Bahan Alami dan Herbal yang Dapat Meningkatkan Produksi ASI

Ibu mana, sih, yang tak ingin produksi ASInya lancar sehingga bisa lancar pula menyusui buah hatinya? Pastinya Moms juga ingin, dong.

Sebenarnya terdapat banyak cara yang dapat Moms lakukan agar produksi ASI lancar. Salah satunya yaitu mengonsumsi makanan tertentu yang memang berbahan dasar alami.

Melansir dari situs theAsianparent Indonesia, adapun beberapa makanan dan herbal tertentu yang dapat meningkatkan produksi ASI, di antaranya:

  • Bawang putih
  • Jahe
  • Fenugreek
  • Adas
  • Spirulina
  • Oat
  • Flaxseed

Tak hanya makanan dan herbal, Moms juga bisa mencoba suplemen ASI yang dijual bebas di apotek. Namun, baiknya sebelum memutuskan untuk minum suplemen penambah ASI, Moms harus konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Sebab, bisa saja yang dikonsumsi oleh Moms bisa menimbulkan efek samping pada bayi.