Ibu Menyusui

Bahan Alami dan Herbal yang Dapat Meningkatkan Produksi ASI

Ibu mana, sih, yang tak ingin produksi ASInya lancar sehingga bisa lancar pula menyusui buah hatinya? Pastinya Moms juga ingin, dong.

Sebenarnya terdapat banyak cara yang dapat Moms lakukan agar produksi ASI lancar. Salah satunya yaitu mengonsumsi makanan tertentu yang memang berbahan dasar alami.

Melansir dari situs theAsianparent Indonesia, adapun beberapa makanan dan herbal tertentu yang dapat meningkatkan produksi ASI, di antaranya:

  • Bawang putih
  • Jahe
  • Fenugreek
  • Adas
  • Spirulina
  • Oat
  • Flaxseed

Tak hanya makanan dan herbal, Moms juga bisa mencoba suplemen ASI yang dijual bebas di apotek. Namun, baiknya sebelum memutuskan untuk minum suplemen penambah ASI, Moms harus konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Sebab, bisa saja yang dikonsumsi oleh Moms bisa menimbulkan efek samping pada bayi.

Ibu Menyusui

Jarang Menyusui di Malam Hari? Hati-Hati Produksi ASI Moms Bisa Berkurang

Setelah melahirkan, tugas ibu selanjutnya adalah menyusui buah hatinya. Biasanya ada jadwal-jadwal tertentu seorang ibu menyusui bayi baru lahir. Seperti pada malam hari.

Akan tetapi, seiring bertambahnya usia bayi, terkadang bayi mulai jarang menyusu di malam hari, karena mereka sudah terlatih untuk tidur sepanjang malam.

Kondisi bayi jarang menyusu di malam hari ini ternyata bisa berpengaruh pada produksi ASI Moms, loh. Ya, produksi ASI Moms bisa saja menurun.

Kok, bisa ya?

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, hal ini terjadi karena tingkat prolaktin atau hormon yang memberi sinyal pada payudara untuk memproduksi ASI cenderung lebih tinggi di malam hari.

Sementara jika Moms tidak menyusui bayi pada malam hari, ini bisa berpengaruh pada penurunan prolaktin yang dapat berkontribusi pada penurunan ASI.

Oleh karena itu, pertimbangkan untuk memberikan ASI pada bayi sesekali di malam hari agar produksi ASI Moms tidak menurun. Atau bisa juga menyusui ketika bayi terbangun dan susui bayi sambil berbaring agar tidak mengganggu siklus tidurnya.

Kesehatan

Benarkah Memasak dengan Air Fryer Bisa Memicu Kanker?

Selama ini memasak menggunakan air fryer dianggap lebih sehat daripada harus menggoreng menggunakan minyak. Apalagi jika menggoreng dengan teknik deep fried di wajan.

Akan tetapi, muncul pula anggapan jika memasak menggunakan air fryer bisa memicu masalah kesehatan, yakni kanker! Benarkah demikian?

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, memasak menggunakan air fryer memang cenderung membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan memasak dengan cara menggoreng konvensional.

Nah, waktu menggoreng yang lebih lama ini dinilai dapat menyebabkan pembentukan karsinogen, salah satu zat penyebab kanker, yang lebih besar.

Akan tetapi, menurut para ahli, kemungkinan ini masih bisa dicegah dengan cara mengatur temperatur air fryer di bawah 180 derajat celcius saat digunakan.

Pengaturan suhu dapat mencegah makanan menjadi gosong yang menyebabkan terbentuknya residu karsinogen yang berbahaya untuk kesehatan.

Meski demikian, di samping itu, National Cancer Institute pun menyebut bahwa menggoreng makanan dapat menyebabkan terbentuknya senyawa akrilamida yang berpengaruh terhadap penyakit kanker.

Menurut penelitian, menggoreng makanan dengan air fryer dapat membantu menurunkan kandungan akrilamida pada makanan yang digoreng.

Namun senyawa lainnya seperti aldehida, amina heterosiklik, dan hidrokarbon aromatik polisklik bisa terbentuk jika memasak menggunakan panas tinggi dan berhubungan dengan risiko kanker yang lebih tinggi.

Hanya saja untuk hal ini, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut bagaimana air fryer dapat menyebabkan pembentukan senyawa-senyawa tersebut.

Lantas, apakah air fryer benar dapat memicu kanker? Jawabannya, hal tersebut masih sekadar dugaan dan belum terbukti secara ilmiah, ya, Moms.

 

Kesehatan

Benarkah Depresi Lebih Rentan Dialami Wanita?

Mengutip situs Alodokter, depresi adalah gangguan suasana hati atau mood yang ditandai dengan rasa sedih mendalam dan kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya disukai. Seseorang dinyatakan depresi jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus asa, hingga tak berharga.

Depresi dapat dialami oleh siapa saja, perempuan maupun laki-laki. Namun ternyata, perempuan lebih rentan mengalami depresi. Mengutip situs Hellosehat, Mayo Clinic menyebut jika wanita berisiko dua kali lebih tinggi mengalami depresi daripada pria.

Mengapa bisa demikian? Hal ini terjadi karena wanita mengalami perubahan hormon setiap bulannya.

Perubahan hormon tersebut bisa menimbulkan premenstrual syndrome (PMS) atau bahkan kondisi lebih parah, yaitu premenstrual dysmorphic disorder (PMDD) dengan gejala depresi. Bukan cuma itu, depresi juga bisa terjadi setelah melahirkan, yang dikenal dengan baby blues.

Oleh karena itu Moms harus waspada akan kondisi ini, ya. Jika sekiranya mengalami tanda-tanda depresi, lebih baik segera cari pertolongan agar kondisi ini bisa diatasi.

Baby

Bayi Demam di Malam Hari? Ini Cara Mengatasinya!

Demam adalah kondisi yang kerap dialami bayi. Bahkan demam bisa saja tiba-tiba dialami bayi, baik itu di pagi hari, siang, maupun malam. Jika bayi demam di malam hari, Moms jangan langsung panik dulu, ya.

Mengutip dari situs SehatQ.com, berikut ini adalah upaya yang bisa Moms lakukan untuk mengatasi bayi demam pada malam hari.

1. Cukupi Kebutuhan Cairannya

Demam bisa saja menyebabkan bayi kehilangan cairan hingga mengalami dehidrasi. Oleh karena itu, untuk mencegah kondisinya memburuk, pastika si kecil mendapat kebutuhan cairan yang cukup. Salah satunya dengan menyusui si kecil.

2. Turunkan Suhu Ruangan

Turunkan suhu ruangan bayi agar tidak terlalu panas. Cara ini dapat mencegah bayi mengalami panas berlebihan. Namun, pastikan juga, ya, Moms, jika suhu ruangan tidak terlalu dingin agar bayi tidak menggigil.

3. Sesuaikan Pakaian Bayi

Saat bayi demam, Moms bisa kenakan pakaian yang tipis dan ringan untuk bayi. Sebab, pakaian yang terlalu tebal bisa saja menghambat pengeluaran panas berlebih, serta dapat membuat suhu tubuh meningkat.

Itulah 3 upaya yang bisa Moms lakukan ketika bayi mendadak demam pada malam hari. Jika sampai pagi kondisinya tidak membaik, bisa langsung membawanya ke dokter, ya.

Pregnancy

Bolehkah Ibu Hamil Pakai Toilet Jongkok?

Perut yang semakin membuncit saat hamil sering kali membuat Moms jadi sedikit terkendala jika hendak melakukan sesuatu. Tak terkecuali jika ingin buang air kecil menggunakan toilet jongkok.

Terkait dengan hal ini, sebenarnya boleh atau aman enggak, sih, Moms, jika ibu hamil menggunakan toilet jongkok?

Mengutip dari laman SehatQ.com, ibu hamil boleh saja pakai toilet jongkok selama memperhatikan dengan baik keamanan dan kenyamanannya. Seperti pastikan pijakan di toilet jongkok tidak licin, atau Moms menggunakan alas kaki yang tidak licin guna mencegah jatuh terpeleset.

Tak luput, pastikan juga Moms memiliki pegangan yang bersih dan kokoh untuk bantu saat hendak berdiri setelah jongkok. Sebab, berdiri setelah jongkok sering kali sulit dialami oleh ibu hamil, terlebih bagi mereka yang sudah hamil besar.

Hal terakhir yang harus diperhatikan adalah kebersihan toilet yang digunakan. Cari toilet yang bersih dan kering untuk mencegah paparan infeksi yang dapat membahayakan kesehatan Moms dan janin.

Pregnancy

Posisi Buang Air Kecil yang Baik untuk Ibu Hamil

Saat hamil, Moms memang harus melakukan apa pun dengan berhati-hati, termasuk saat hendak buang air kecil. Jika Moms saat ini sedang hamil, tak ada salahnya untuk mengetahui posisi buang air kecil yang baik untuk bumil.

Mengutip situs SehatQ.com, adapun posisi buang air kecil atau pipis yang baik untuk ibu hamil yaitu dengan sedikit mencondongkan tubuh ke depan agar kandung kemih bisa benar-benar kosong.

Posisi ini disarankan bagi bumil, karena selama hamil frekuensi buang air kecil meningkat drastis. Dengan mengosongkan kandung kemih, Moms dapat mengurangi frekuensi harus ke toilet.

Meski demikian, hal penting yang tidak boleh Moms abaikan adalah memastikan keamanan saat menggunakan toilet, serta kebersihannya. Terlebih jika Moms buang air kecil di toilet umum.

Hindari menggunakan toilet umum yang kotor. Sebab, jika buang air kecil di toilet duduk yang kotor, risiko Moms terkena berbagai infeksi akan meningkat, termasuk infeksi saluran kemih.

Oleh karena itu, jika ingin bepergian dan kemungkinannya Moms akan buang air kecil di toilet umum, bawalah tolet seat covers atua lapisan penutup dudukan toilet untuk memastikan permukaan toilet yang Moms nantinya duduki tetap steril.

Kesehatan

Kapan Boleh Menurunkan Berat Badan Setelah Melahirkan?

Hamil membuat tubuh Moms mengalami kenaikan berat badan. Lalu, setelah melahirkan, tak serta-merta pula berat badan atau bentuk badan Moms akan kembali seperti sebelum hamil. Terkadang dibutuhkan proses yang cukup lama untuk menurunkan berat badan.

Lagi pula, ternyata jika Moms kehilangan berat badan terlalu cepat setelah melahirkan, bisa saja berpengaruh pada durasi pemulihan pascapersalinan yang jadi lebih lama. Oleh karena itu, jika memang ingin menurunkan berat badan setelah melahirkan, lakukannya secara bertahap.

Mengutip dari situs theAsianparent Indonesia, pada umumnya ibu baru melahirkan diperbolehkan melakukan diet atau menurunkan berat badan pada minggu ke-6 setelah melahirkan. Cadangan lemak ekstra yang disimpan tubuh akan berkurang paling tidak setengahnya dalam waktu 6 minggu setelah melahirkan dan sisanya akan hilang selama beberapa bulan ke depan.

Akan tetapi, jangan lupa juga untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum menjalani program diet.

Sementara itu, untuk ibu menyusui, sebaiknya tunggu hingga bayi berusia minimal 2 bulan dan suplai ASI sudah normal sebelum memulai mengurangi asupan kalori secara drastis. Sebab, ibu yang menyusui secara eksklusif membutuhkan sekitar 500 kalori lebih banyak setiap harinya.

Oleh karenanya, lakukanlah diet dengan bijak, ya, Moms. Perhatikan juga kondisi si kecil, terutama bagi Moms yang menyusui secara eksklusif. Jangan sampai diet yang Moms lakukan memengaruhi kesehatan si kecil.

Covid 19

Perlukah Vaksin Covid-19 Dosis Keempat?

Vaksin menjadi salah satu upaya untuk mencegah kita terpapar dari virus Corona atau Covid-19. Hingga saat ini pun di Indonesia sudah dilakukan pemberian dosis vaksin Covid-19 ketiga kepada sejumlah masyarakat. Namun ternyata, vaksin Covid-19 tak berhenti di dosis ketiga. Sebab, ada vaksin Covid-19 dosis keempat!

Di negara lain, Israel misalnya, pemberian vaksin Covid-19 dosis keempat telah dijalankan. Adapun penerimanya yaitu kelompok-kelompok yang lebih rentan terpapar, orang dengan sistem imun lemah, dan petugas kesehatan.

Lantas, sebenarnya apakah vaksin Covid-19 dosis keempat memang diperlukan? Mengutip situs Alodokter, hingga saat ini, belum banyak ditemukan bukti kuat mengenai perlu atau tidaknya pemberian vaksin Covid-19 dosis keempat. Penelitian yang lebih luas dan mendalam masih dilakukan untuk memastikan keamanan vaksin dosis keempat.

Selain itu, masih juga dibutuhkan data yang mendukung untuk memastikan manfaat dosis keempat. Misalnya untuk mengurangi risiko terjadinya gejala berat atau kematian akibat Covid-19.

Selain itu, diperlukan juga penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah dosis keempat ini bisa diberikan kepada seluruh masyarakat, atau hanya kelompok tertentu yang lebih rentan terpapar Covid-19.

Oleh karena itu, urgensi pemberian vaksin Covid-19 dosis keempat ini memang masih belum ada kepastiannya, ya, Moms. Lagi pula, lebih baik sekarang kita lakukan saja terlebih dahulu vaksin Covid-19 dosis ketiga atau vaksin booster yang jelas-jelas sudah mulai dijalankan di Indonesia.

Kesehatan

Obat Sakit Gigi Alami untuk Anak, Catat Moms!

Sakit gigi bisa diderita oleh siapa saja, termasuk buah hati Moms. Sebagai orang tua, Moms tentunya akan khawatir jika si kecil mengalami sakit gigi. Apalagi rasa nyeri akibat sakit gigi ini pun bisa berdampak pada kondisi lainnya. Seperti membuat anak lebih rewel, menolak makan, hingga demam dan sakit kepala.

Kalau sudah seperti itu pasti Moms ikut pusing memikirkannya, ya. Oleh karena itu, Moms perlu tahu langkah-langkah awal untuk mengobati sakit gigi yang diderita si kecil menggunakan bahan alami yang ada di rumah.

Apa sajakah itu? Mengutip dari situs Alodokter, inilah bahan-bahannya.

1. Es Batu

Moms bisa menggunakan es batu untuk meredakan nyeri yang dirasakan oleh si kecil. Pun jika ia sampai mengalami pembengkakan pada pipinya, Moms bisa manfaatkan es batu untuk meredakan bengkak.

Caranya dengan bungkus es batu menggunakan kain lembut, lalu tempelkan di pipi anak selama 20 menit atau hingga kondisinya membaik.

2. Air Garam

Redakan sakit gigi dengan berkumur menggunakan campuran 1/2 sendok teh garam ke dalam segelas air hangat. Namun, disarankan hanya menggunakan cara ini kepada anak di atas usia 6 tahun, atau yang sudah bisa berkumur dengan baik.

3. Bawang Putih

Satu lagi bahan alami dan sering ada di dapur yang bisa dipakai untuk mengatasi sakit gigi pada anak, yaitu bawang putih.

Cara menggunakan bawang putih sebagai bahan alami mengatasi sakit gigi anak yaitu dengan menghaluskannya terlebih dahulu, lalu oleskan bawang putih di gigi atau gusi anak yang sakit menggunakan cotton bud maupun jari yang bersih.

Mudah didapat, kan, Moms bahan-bahannya? Semoga si kecil lekas sembuh ya. Namun, jika kondisinya tak kunjung sembuh, segera bawa ia ke dokter gigi.